Tengkorak Bagian Belakang Pecah

 
BATU - Guna memperjelas kecelakaan paralayang yang menewaskan H Saiful Iqbal Asofa, Ketua Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Muara Enim, Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Batu menggelar olah tempat kejadian perkara (TKP) kemarin (6/10).  Dari keterangan saksi mata, korban jatuh dari ketinggian kurang lebih 50 meter. Meski parasut korban tersangkut Pohon Pinus di tepi jalan, namun karena ketinggian pohon rendah, tubuh pilot paralayang tetap langsung terhempas ke aspal. Korban meninggal dunia karena tengkorak bagian belakang Saiful Iqbal retak.
“Berdasarkan keterngan saksi, kecelakaan ini terjadi 15 menit setelah parasut mengembang. Terjadi turbolengsi, ada pusan angin tidak menentu, hingga parasut sebelah kanan terlipat,” ujar AKP Dzaki Dzul Karnaen, Kasat Reskrim Polres Batu sesaat setelah olah TKP di lokasi korban jatuh.
Dari barang bukti parasut yang diamankan, petugas dan saksi ahli memastikan tidak ada kerusakan dari parasut tersebut. Dari keterangan dua saksi pengelola paralayang, seluruh sistem operation procedur (SOP) sudah dilakukan.
Termasuk saat take off kecepatan angin normal antara 22 hingga 24 knot. Saksi pun menceritakan bahwa parasut mengembang sempurna. Namun 15 menit kemudian cuaca mendadak menjadi buruk, karena muncul angin yang sangat kencang. 
Korban terbang paralayang untuk persiapan mengikuti lomba paralayang di Bondowoso dalam waktu dekat ini. Dari sisi keahlian, korban telah memiliki lisensi yang dikeluarkan oleh PLGI (Persatuan Layang Gantung Indonesia) dan FASI (Federasi Aero Sport Indonesia).
Dalam lisensinya tertulis bahwa korban adalah PL-1 Notice pilot. Dari lisensi ini, bisa dikatakan bahwa korban adalah pilot mandiri yang tidak hanya telah menerbangkan lebih dari 40 kali terbang sendiri namun juga menguasai dasar meteorologi yang berhubungan dengan kondisi cuaca lokal.
Pilot dengan lisensi ini juga telah mampu mengkontrol payung dalam kondisi darurat sebagai teknik dasar. Meski melakukan olah TKP, Dzaki mengatakan bahwa aktivitas ini belum mengarah pada proses hukum.
“Setelah kita kumpulkan alat bukti keterangan saksi  belum bisa kita simpulkan juga hasil penyelidikan, kita harus lakukan pendalaman. Jika terbukti ada kelalaian akan kita lakukan penyelidikan lebih lanjut, jika tidak ada faktor kelalaian atau kesengajaan ya kita tutup perkara ini,” ujarnya. 
Parasut yang digunakan oleh korban adalah parasut sewa, bukan parasut milik sendiri. Kejadian ini adalah kejadian kedua, dimana menewaskan pilot paralayang. Sebelumnya dokter Santoso, salah satu dokter pada Dinas Kesehatan Kota Batu juga meninggal dunia beberapa tahun yang lalu dalam kecelakaan saat mengudara di kawasan Songgoriti. 
Dalam kesempatan itu, Dzaki berpesan kepada para operator paralayang agar jangan hanya mengejar keuntungan. Tapi harus tetap mengedepankan SOP dan faktor keselamatan pengguna.
“Dari pemeriksaan kita, operatornya sangat professional, sudah ada SOP, namun karena cuaca, sulit untuk diprediksi,” ujarnya. 
Sementara itu di tempat terpisah Taufik, Master Tandem Paralayang Batu salah satu saksi mata mengatakan saat korban hendak terbang, semua prosedur sudah dijalankan. Termasuk pemeriksaan kelengkapan pengaman pilot.
 “Kebetulan saat dia (korban) datang ada tamu juga yang terbang duluan, kondisi sebelum terbang normal. Saat itu ada dua parasut yang sedang terbang, satu parasut sedang tandem, satu parasut lainnya adalah korban,” ujar Taufik.  
Melihat lisensi yang dimiliki korban, secara procedural, korban bisa menentukan sendiri kapan dia terbang dan kapan dia tidak terbang.
“Beliau bukan pilot baru, sudah berpengalaman dan dia terbang di Gunung Banyak ini hampir lebih 30 kali,” ujar Taufik. 
Dari catatan penerbangan yang dimiliki Taufik, korban mulai preparing sekitar pukul 15.30 sambil menunggu perkembangan cuaca. Tepat pukul 16.05, korban mengambil take off. Sekitar 15 menit setelah mengudara, mendadak cuaca berubah, angin kencang muncul, karena beberapa saat sebelumnya, mendung memang datang dan pergi. (dan/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :