Keluarga korban kebakaran , Menunggu Itikad Samuel


MALANG – Keluarga korban kebakaran maut pabrik lem dan usaha kripik tempe Jalan Candi V menunggu itikad baik dari Samuel Trisnawan, pemilik pabrik maut. Sebab, hingga kini sebagian dari keluarga korban belum bertemu Samuel. Padahal, mereka sudah mendengar kabar akan ada kompensasi dari pemilik pabrik maut yang menewaskan lima pekerja.
Keluarga Suwarnoto alias Ableh, di Jalan Raya Candi V dekat TKP kebakaran berharap pihak Samuel bisa memberi kompensasi. Suliasih, istri Ableh menyebut dia belum bertemu dengan Samuel secara langsung. Dia memiliki satu anak yang masih duduk di bangku SMP.
“Anak saya masih kelas 2 SMP, belum ketemu langsung dengan pak Samuel. Suami saya orang kepercayaan dan sudah lama kerja untuk pak Samuel, mungkin sejak SMP. Tapi selain kerja di pabrik itu, suami saya juga cleaning service di Yayasan Mardi Wiyata,” jelas Suliasih kepada wartawan.
Sementara, keluarga korban Ningsih masih menunggu berkabung selesai, sebelum berbicara soal tuntutan kepada pemilik pabrik.Merkea masih enggan bicara banyak soal kompensasi biaya bagi anak-anak Ningsih.
“Belum membicarakan itu, kita masih berduka. Kami tunggu tujuh hari, atau mungkin 40 hari, belum tahu. Setelah ini baru kita ngobrol lagi (dengan pemilik pabrik Samuel Trisnawan),” kata Gima 60 tahun, kakak dari Ningsih ditemui di rumah duka Jalan Candi II, Karangbesuki, sore kemarin.
Kepada Malang Post, dia memang mengaku mendengar soal tawaran pihak pemilik pabrik untuk membiayai pendidikan anak-anak dari para korban kebakaran. Dia juga mendengar bahwa pembicaraan akan dilakukan pada 11 Oktober 2017 dengan fasilitator pihak kelurahan. Kendati demikian, dia tidak mau terlalu berpikir jauh karena saat ini pihak keluarga ingin memulihkan trauma akibat kehilangan orang terdekatnya. Menurut Gima, tiga anak dari Ningsih, saat ini masih ada di Malang.
“David 19 tahun sudah taman sekolah. Sedangkan Joshua 15 tahun dan Debora 13 tahun masih libur dan belum masuk sekolah. Debora misalnya, belum masuk sekolah di Mardiwiyata Jalan Semeru. Dia masih kelas 1 SMP,” kata Gima.
Wanita berjilbab tersebut menyebut bahwa dia terakhir bertemu saudarinya ketika hendak berangkat kerja, pagi hari sebelum kejadian kebakaran. Pembicaraan terakhir Ningsih, adalah soal kondisi kesehatan Gima yang menurun. Ningsih meminta maaf karena tidak bisa mengantarkan kakaknya berobat.
Ningsih mengaku harus bekerja setelah mengantarkan putrinya Debora sekolah di SMP Mardiwiyata. Sehingga, Gima akhirnya berangkat sendirian. Tidak disangka, pembicaraan itu adalah pembicaraan terakhir Gima dengan adiknya. Dengan wajah kosong dan suara lirih, Gima berupaya keras menahan tangis yang sudah mengintip di pelupuk matanya. Menurut Gima, Ningsih adalah tulang punggung keluarganya dengan pekerjaan dobel.
“Setelah mengantar putrinya sekolah, Ningsih berangkat kerja di pabrik kripik tempe tersebut. Pulang kerja, dia langsung siap-siap buka dasaran untuk jualan lalapan di Jalan Meratus, Karangbesuki. Dia kerja mulai pagi hari sampai malam, pulang sekitar pukul 10 malam,” tambahnya.
Kakak Ningsih, Indra Prabu mengaku sudah mengikhlaskan kepergian adiknya. Walaupun kematian Ningsih mendadak, Indra hanya bisa pasrah. “Ya bagaimana lagi, sudah diambil Yang Maha Kuasa. Sebagai saudara hanya bisa mengikhlaskan, kami menganggap ini musibah,” tambahnya.(fin/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :