IB Dicecar Transfer Rp 4 Miliar



MALANG – Kepala Staf Ketua Umum PSSI, Iwan Budianto mengaku memenuhi panggilan KPK sebagai saksi untuk kasus dugaan suap yang menjerat Wali Kota Batu Eddy Rumpoko. Pagi kemarin, IB menyebut bahwa surat panggilan terhadap dirinya, berkaitan dengan transfer uang kepada ER pada 2012 lalu.
“Sebagai warga yang baik, tentu saya harus memenuhi panggilan institusi negara. Senin lalu, suratnya masuk ke kantor. Saya diberi beberapa pertanyaan, tapi yang paling banyak ditanyakan, adalah soal aliran dana Rp 4 miliar yang masuk ke rekening pak Eddy pada 2012,” kata IB kepada Malang Post lewat sambungan telepon.
Direktur Utama Ijen Suites Hotel tersebut mengaku tak banyak mendapat pertanyaan. Total, seingat IB, hanya ada delapan pertanyaan yang dilontarkan satu penyidik KPK kepadanya. Terkait uang Rp 4 miliar yang ditransfer ke rekening ER, IB menyebut itu adalah piutang Arema kepada putra mantan Wali Kota Malang Ebes Sugiyono itu.
“Pasti masih ingat, saat pak Eddy meminta tim Arema datang ke Batu pada 2011 untuk menerima pelunasan gaji. Uang tersebut menjadi piutang Arema yang dilunasi pada tahun 2012. Karena kami dipinjami, jelas harus kami kembalikan kepada beliau,” papar bapak dua anak tersebut.
Pada 13 Juni tahun 2011, ER dan konsorsium Arema, menutup keterlambatan tiga bulan gaji pemain era Noh Alam Shah dkk. Pembayaran gaji tersebut diberikan di Batu.
Uang miliaran rupiah ditumpuk di atas meja untuk membuktikan bahwa Dendi Santoso dkk akan menerima haknya sebagai pemain profesional. Setelah itu, IB mentransfer uang piutang Arema kepada ER setahun kemudian.
“Karena itulah KPK tanya kepada saya soal transfer uang, rekening korannya ada. Saya pun bawa bukti transfer tersebut. Saat itu tidak mungkin saya bawa uang miliaran rupiah untuk diberikan, sehingga cara melunasinya ya lewat transfer,” jelas mantan Ketua BLAI PSSI itu.
Mantan exco PSSI ini juga mengatakan, beberapa pertanyaan yang dilontarkan KPK berkaitan dengan kasus pengadaan yang melibatkan ER dan kontraktor bernama Filipus Njap. IB pun mendapat pertanyaan soal pengadaan. Penyidik menanyakan apakah IB pernah mendapatkan proyek pengadaan dari Pemkot Batu.
“Penyidik tanya apakah saya pernah menerima proyek pengadaan di Batu. Saya bilang saya tidak pernah menerima proyek pengadaan maupun menang lelang di Pemkot Batu, bisa dicek,” tuturnya.
Menurut pria 43 tahun ini, dia diberi pertanyaan apakah mengenal sosok ER. IB menjawab dia kenal bahkan sebelum ER menjadi Wali Kota Batu. Tapi, IB mengaku tidak kenal dengan Filipus ketika disodori pertanyaan tentang kontraktor yang berkantor di Jalan Brigjen Katamso, Kasin.
Selama kurang lebih 10 jam, IB berada di dalam kantor KPK. Dia sendiri mengaku sudah lama tak pernah bertemu dengan ER sejak suksesi kepemimpinan di tubuh PSSI.
Karena IB lebih sering berada di Jakarta sejak bergabung dengan kepengurusan PSSI, komunikasi langsungnya dengan ER sangat terbatas. Apalagi, sebelum ditangkap KPK, ER masih aktif memimpin Kota Batu sehingga tak bisa meninggalkan daerahnya terlalu sering. IB mengaku prihatin dan berharap ER bisa diberi kekuatan menghadapi situasi sekarang.
“Saya terakhir duduk bersama dan ngobrol serta ngopi bareng ya saat proses kongres luar biasa PSSI tahun lalu. Itu saya masih berbincang panjang dengan beliau. Akhir-akhir ini, saya hampir tak pernah ketemu dalam acara non formal. Satu dua kali, ketemunya ya dalam acara menghadiri resepsi nikahan,” sambung IB.
Sementara itu Kepala Cabang PT Kartika Sari Mulia, diler Toyota di Malang, Hariyanto Iskandar mendapat pertanyaan terkait dengan pembelian monil Alphard di diler yang dipimpinnya itu.
“Saya diperiksa hanya untuk cross check pembelian Alphard, baik dari fisik maupun harganya, itu saja,” ujar dia.
Ketika ditanya lebih lanjut, Hariyanto mengatakan pemeriksaan terhadap dirinya tidak berlangsung lama.
“Cuma terkait itu saja (Alphard), diperiksanya juga sebentar,” jawab dia singkat.(fin/tea/han)

Berita Lainnya :