Patah Hati Pilih Iris Paha


MALANG - Entah apa yang ada dalam pikiran Angki Ardiansyah, 19. Dia nekat menyayat paha kanannya sendiri, Jumat (13/10) sore. Berbagai upaya pertolongan sempat dilakukan untuk menyelamatkan nyawanya.
Namun nahas, pemuda asal Dusun Sembon RT05 RW10 Desa/Kecamatan Ngajum ini mengembuskan nafas terakhirnya dalam perjalanan ke RS Kanjuruhan, Kepanjen.
Meski tahu korban melukai dirinya sendiri, namun polisi tetap melakukan penyelidikan. Kapolsek Ngajum, AKP Gianto menerangkan pihaknya tetap melakukan olah TKP dan memeriksa saksi-saksi yang dianggap mengetahui persis peristiwa itu.
“Kejadiannya di rumah Gini, bibi korban. Tetap kami lakukan penyelidikan,” tegasnya.
Ia menjelaskan, korban memang diketahui nekat mengiris paha kanannya karena patah hati setelah diputus oleh Bunga (nama samaran), 16, pacarnya yang tinggal di Desa Bakbakan, Ngajum. Alasannya, orang tua Bunga melarang hubungan tersebut.
“Nah, ponsel yang pernah dipinjamkan korban ke pacarnya untuk berkomunikasi, lalu dikembalikan,” papar perwira polisi ini.
Angki, nama panggilan korban, tidak menyangka hubungan cintanya kandas tengah jalan. Ia sempat menerima ponsel yang sempat dipinjamkannya dua bulan lalu, dari tangan kekasihnya tersebut.
Beberapa menit kemudian, Angki mengeluarkan SIM Card dari dalam ponsel dan membuangnya. Bunga yang melihat kejadian itu, tidak terpengaruh dengan perangai Angki dan memilih tetap berpamitan pulang.
“Saat pamit itu, ia sempat mendengar korban berkata, jika dia tidak dapat kekasihnya itu, lebih baik memilih mati,” ungkap Gianto.
Perkataan itu, tetap tidak ditanggapi oleh Bunga. Barulah ketika Bunga berada di luar rumah, ia mendengar mantan kekasihnya ini menjerit kesakitan sambil memanggil nama ibunya yang sedang mengambil cucian di luar rumah.
Sri Pamuji, ibu korban dan Bunga pun tergopoh-gopoh kembali masuk ke dalam rumah Gini. Keduanya melihat Angki sudah sempoyongan dan jatuh ke lantai. Setelah diperiksa ternyata paha kanannya sudah robek selebar 3 cm dan panjang 3 cm.
Darahnya juga bercucuran. Sponta peristiwa itu membuat beberapa tetangga heboh. Sri Pamuji berteriak memanggil Indarwanto, suaminya. Bersama beberapa tetangga, pemuda ini dilarikan ke Puskesmas Ngajum dengan menggunakan motor.  
Sayang, pihak medis Puskesmas Ngajum mengaku tidak bisa menangani karena lukanya cukup serius karena pendarahannya cukup hebat.
“Saya menyayangkan saat itu mobil Puskesmas tidak ada supirnya. Sehingga saya minta pertolongan terangga,” kata Indrawanto.
Dengan membawa mobil Suzuki Katana milik tetangga, Angki dilarikan ke RS Kanjuruhan, Kepanjen. Namun belum sampai rumah sakit, korban sudah mengembuskan nafas terakhirnya karena kehabisan darah. Jenazahnya pun dibawa ke RSSA Malang pukul 22.30 untuk divisum. (eri/mar)

Berita Lainnya :