CD Digeledah, Eh Ada Pil Koplo


MALANG – Demi uang Rp 200 ribu, Tutik Pujiasih 25 tahun warga Jalan Kolonel Sugiono V/F RT 12 RW 03 Mergosono rela memasukkan 50 butir pil koplo ke dalam selangkangannya. Maksud hati menyelundupkan puluhan pil itu kepada narapidana Lapas Lowokwaru, Tutik sudah terciduk duluan di pos penjagaan sipir, tadi pagi.
Kepala Keamanan Lapas Lowokwaru, Sarwito menyebut petugas mengamankan wanita dengan rambut cat kuning itu karena menunjukkan gelagat mencurigakan. “Kita melihat pelaku gelisah. Saat diperiksa awal, dia langsung bilang bahwa dia tidak bawa apa-apa. Kita semakin curiga dan melakukan pemeriksaan tambahan,” kata Sarwito kepada wartawan, saat dikonfirmasi di LP Lowokwaru, sore (16/10).
Saat antri, Tutik berupaya mengunjungi narapidana Nur Hadi 34 tahun, warga Lesanpuro gang 11 Kedungkandang, yang terjerat kasus senjata tajam UU Darurat nomor 12 tahun 1951. Dia masuk sekitar pukul 09.30 WIB. Sejak awal, bahasa tubuh Tutik terlihat tidak nyaman di mata para sipir. Wanita kelahiran Blitar ini langsung ditanyai oleh petugas.
Jawaban yang diberikan oleh Tutik, membuat sipir kian curiga. “Dia menjawab dengan terbata-bata dan bahasa tubuhnya terlihat cemas. Kita langsung lakukan prosedur lanjutan yakni pemeriksaan x-ray. Indikator mesin detektor kita berbunyi. Kecurigaan kita semakin menguat,” kata Sarwito.
Petugas Lapas bernama Sunariyati langsung meminta Tutik untuk menjalani pemeriksaan manual di dalam ruang tertutup. Sipir wanita pun menjalankan penggeledahan. Tutik lalu diminta membuka celana panjangnya. Saat pemeriksaan, petugas menemukan celana dalam yang dipakainya berlapis tiga.
“Saat lapisan pertama dibuka, ada dua strip berisi 20 butir pil Rihrxyphenidyl, obat daftar G tipe penenang yang diduga akan dipakai untuk ngoplo. Lalu, kita juga menemukan 30 butir pil yang sama, di dalam pembalut yang diambil dari lapisan kedua celana dalam pelaku,” sambung Sarwito.
Karena sudah tertangkap basah, Tutik dibawa ke ruang interogasi oleh petugas. Kepada sipir, Tutik mengaku menerima 50 butir obat tersebut dari orang tidak dikenal di Alfamart Jalan Letjen Sutoyo. Dia mendapat imbalan uang Rp 200 ribu untuk menyelundupkan pil yang menurut Sarwito, memberi efek seperti dobel L.
“Pengakuannya, pelaku terima uang Rp 200 ribu dari orang tak dikenal untuk selundupkan 50 butir pil itu ke dalam LP. Itu obat penenang. Jika dikonsumsi dalam jumlah lebih dari satu, maka efeknya seperti pil koplo. Istilah para pengguna, ini pil helikopter,” tegas Sarwito. Dalam pengakuannya, Tutik juga mengaku bahwa barang ini tidak diberikan kepada Nur Hadi yang akan dikunjunginya.
Dia mendapat instruksi hanya untuk menyelundupkan obat ke LP. Ketika sudah berada di dalam, Tutik akan didatangi oleh narapidana lain yang mengambil obat-obat tersebut. Nur Hadi, kata Sarwito, mengaku tidak janjian bertemu dengan Tutik. Dia juga mengaku tidak memesan obat-obat tersebut dari Tutik.
“Pelaku menyebut bahwa itu adalah obat sakit kepala, tapi kami tidak percaya dan langsung tanyakan ke dokter. Itu adalah obat daftar G. Kalau memang itu obat sakit kepala, ya tidak perlu diselundupkan seperti ini. Cukup laporan kepada sipir bahwa dia bawa obat sakit kepala,” ujar Sarwito.
Karena sudah melanggar aturan pembesuk LP Lowokwaru, Tutik disanksi larangan berkunjung 3 bulan. Selain itu, Tutik juga diserahkan kepada petugas Satnarkoba Polres Makota untuk menjalani pemeriksaan dan penyidikan lebih lanjut. Pasalnya, Sarwito tidak percaya begitu saja Tutik mau menjalankan perintah orang tidak dikenal untuk melakukan tindakan beresiko tersebut.
“Terkait identitasnya apakah dia pemandu lagu atau LC, dia mengaku karyawan swasta, dan tertera di KTP,” tambah Sarwito. Sementara itu, Satnarkoba Polres Makota masih melakukan penyelidikan lebih lanjut, untuk mengungkap keterlibatan pria tidak dikenal yang memberikan obat kepada Tutik.(fin)

Berita Terkait

Berita Lainnya :