Buang Bayi di Kandang Kambing



MALANG - Masih pagi buta, Yanto, 46, warga Dusun/Desa Pojok RT01 RW01 Dampit pergi ke kandang untuk memberikan makan ayam-ayam yang dipeliharanya. Namun, belum tiba di kandang itu, ia mendengar suara seperti bayi merintih.
Karena penasaran, ia mencari asal suara tersebut. Tak diduganya, suara itu berasal dari bayi berjenis kelamin laki-laki di salah satu kandang kambing miliknya. Spontan, ia berteriak hingga membuat warga dan saudaranya berdatangan.
Mereka berbondong-bodong datang karena ingin tahu dan mengadopsinya. Pemilik rumah sekaligus pemilik kandang itu mengetahui  bayi tak berdosa tersebut ditaruh di atas tempat makan kambing dengan keadaan telanjang bulat.
Selain itu, tali pusarnya sudah terpotong.  Bayi yang lahir dalam keadaan normal tersebut memiliki berat badan 2,3 kilogram dan diduga sengaja dibuang oleh orang tuanya saat tengah malam.
Penemuan bayi laki-laki ini dibenarkan oleh Kapolsek Dampit, AKP Amung Sri Wulandari. “Memang benar salah satu warga menemukan bayi di kandang kambing miliknyadan segera melapor ke perangkat desa dan polsek,” ujar Amung.
Ia menjelaskan, saat ini bayi yang belum diberi nama itu dalam kondisi lemah dan sedang dalam perawatan di Puskesmas Dampit.
“Kondisi bayi yang sudah ditangani oleh Puskesmas Dampit masih lemah, karena diperkirakan orangtua bayi membuangnya sekitar pukul 01.00,” tegas dia.
Beruntungnya bayi tersebut cepat ditemukan oleh warga sehingga segera mendapat pwrawatan. Sementara iru, lanjut Amung, pihaknya masih mendalami kasus pembuangan bayi tersebut. Ia juga menegaskan jika bayi laki-laki tersebut bukan berasal dari Desa Pojok.
“Bayi malang tersebut, kita duga dibuang oleh orangtuanya yang bukan berasal dari Desa Pojok. Pasalnya sast kita cari informasi dari bidan desa tidak ada data warga yang sedang hamil tua," tegasnya.
Selain itu, pihak petugas Polsek Dampit juga akan mencari sidik jari dan barang bukti di sekitar pembuangan bayi, serta menggali informasi ke beberapa puskesmas dan bidan di desa sekitarnya. (eri/mar)

Berita Lainnya :

loading...