KPK Putar Rekaman



MALANG - Alat bukti berupa rekaman suara menjadi instrumen baru Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)dalam pemeriksaan 10 saksi, Rabu (18/10) kemarin. Dari pemutaran rekaman, muncul juga istilah pokir alias pokok pikiran, diduga sebagai password untuk pengganti kata aliran uang.
Sejumlah saksi anggota DPRD Kota Malang dan pejabat Pemkot Malang diperdengarkan rekam percakapan dan dicecar soal “Pokir”. Rekaman percakapan diduga kuat masih terkait dugaan suap dalam proses penggodokan APBD Perubahan Kota Malang tahun 2015 yang menyeret nama Ketua DPRD Kota Malang M. Arief Wicaksono dan Kepala DPUPR Kota Malang Jarot Edy Sulistyono pada masa itu.
Hal ini diakui beberapa anggota DPRD Kota Malang yang kemarin mendapat jadwal pemeriksaan. Wakil Ketua I DPRD Kota Malang Drs HM Zainuddin HS menjelaskan ia diinstruksikan penyidik KPK untuk mendengarkan beberapa rekaman percakapan suara.
"Banyak rekaman. Ada belasan, saya lupa berapa. Intinya mereka (penyidik KPK,red) menanyakan apakah ada suara saya direkaman itu," papar Zainudin saat ditanya usai diperiksa selama kurang lebih enam jam.
Ia melanjutkan dirinya juga ditanya penyidik perihal suara siapa saja yang ia ketahui ada dalam rekaman yang diperdengarkan KPK.
Saat Malang Post menanyakan suara siapa yang dirinya ketahui, Politisi PKB ini menjawab ia hanya mengenali satu suara yakni suara Arief Wicaksono. Dialog Arief yang ia dengarkan pada saat itu menyebutkan soal proses APBD P 2015.
"Dia bilang 'tolong dipercepat proses APBDP nya, jangan terlalu lama dilemparkannya," ungkap Zainudin saat diminta untuk mengingat salah satu dialog Arief yang ia dengarkan dalam rekaman milik KPK.
Saat ditanyakan soal rekaman-rekaman yang ia dengarkan, Zainudin tidak mengenal suara lawan bicara Arief lainnya. Apakah sesama teman dewan atau pejabat pemkot atau pihak lain, ia tidak bisa memastikan.
Hal ini juga ditanyakan penyidik kepada Zainudin. Ia menceritakan bahwa segera setelah dirinya menyatakan tidak tahu suara siapa saja yang berbicara, penyidik segera mematikan rekaman tersebut. Jadi, seluruh rekaman yang didengarkan Zainudin tidak pernah tuntas sampai selesai didengarkan.
Ia pun tidak mengetahui betul apakah rekaman yang ia dengarkan berasal dari awal pembicaraan, tengah atau akhir dialog.
"Ada juga saya hanya dengar kata 'Assalamualaikum' saja. Tidak begitu jelas konteks pembicaraannya," tegas Zainudin.

Berita Lainnya :

loading...