Didakwa, Apeng Ajukan Eksepsi

 
MALANG – Timotius Tonny Hendrawan 58 tahun, warga PBI Jalan Lingkar Blimbing Indah menjalani persidangan perdananya sebagai terdakwa dugaan penggelapan penipuan yang dilaporkan oleh kakak iparnya, Chandra Hermanto. Setelah tertunda dua kali, siang kemarin, Trisnaulan Arisanti SH jaksa Kejari Malang akhirnya membacakan dakwaan yang disangkakan kepada Apeng di PN Malang.
Trisnaulan mendakwa Apeng dengan pasal 372 dan 378 KUHP berdasarkan berita acara pemeriksaan (BAP) dari Polda Jatim tahun 2009, dan berkasnya P-21 bulan Agustus 2017.
Apeng didakwa menggelapkan sertifikat tanah yang diklaim milik Chandra di Solo. Yakni, Sertifikat Hak Milik (SHM) nomor 102 Kelurahan Manang dengan luas 1535 meter persegi.
“Bahwa dengan tidak diserahkannya Sertifikat Hak Milik nomor 102 maka Chandra Hermanto mengalami kerugian sekitar Rp 615 juta,” ujar Trisnaulan dalam pembacaan dakwaan di hadapan hakim Rightmen H Situmorang dan anggota.
Atas dakwaan dari jaksa penuntut umum, kuasa hukum Apeng, Sumardhan SH mengajukan eksepsi. Setelah pembacaan oleh Trisnaulan, Mardhan langsung menyerahkan berkas eksepsi kliennya kepada hakim dan jaksa. Mardhan membacakan keberatan Apeng yang dituangkan dalam berkas tersebut. 
“Eksepsi yang saya bacakan, meminta agar proses perkara ini dihentikan karena pokok perkara yang disangkakan penipuan atau utang itu sudah tidak ada, sudah habis,” kata Mardhan.
Dia menyebut banyak kejanggalan dan perbedaan antara BAP penyidik Polda Jatim dan berkas P-21 yang dipakai untuk menjerumuskan kliennya ke meja hijau. Mardhan menyebut ada nama Sunarto dan nama pengacara Henru Purnomo dalam BAP penyidik Polda Jatim.
Namun, saat Apeng dijadikan terdakwa Kejaksaan Negeri Malang dan disidang, notaris asal Solo dan pengacara tersebut melenggang.
“Saat klien saya didakwa, mereka berdua tidak. Tertulis dalam berkas dakwaan klien saya tak pernah ditahan, padahal pernah ditahan di Polda Jatim. Saya anggarap ini rekayasa struktural, harusnya jaksa menggunakan pra tuntutan,” kata Mardhan.
Karena kejanggalan inilah, Apeng saat diwawancarai wartawan, mengaku sudah melaporkan kasus yang dihadapinya sekarang, kepada berbagai institusi hukum negara.
“Saya sudah kirim surat dan laporkan kasus ini ke KPK, Kejaksaan Agung hingga Mabes Polri. Saya merasa dikriminalisasi,” kata Apeng.
Dalam persidangan, hakim Rightmen Situmorang menuda persidangan hingga pekan depan, untuk pembacaan tanggapan JPU terhadap eksepsi atau keberatan dari terdakwa.(fin/jon) 

Berita Lainnya :