Dijanjikan Jadi Penyalur LPG, Ternyata Ditipu

 
MALANG - Jangan mudah percaya dengan orang yang baru dikenal. Karena apa yang ditawarkan bisa jadi modus baru penipuan. Satreskrim Polres Malang, akhir pekan lalu menangkap seorang penipu berkedok menawarkan program atau kerjasama sebagai penyalur tabung LPG bersubsidi ukuran tiga kilogram.
Tersangkanya adalah Drs. Slamet Eko Riyadi, warga asal Situbondo, yang kontrak rumah di Perum Sarimadu, Desa Sitirejo, Wagir. Ia ditangkap setelah menipu Subakir, warga Perum Sarimadu serta seorang lagi warga Kecamatan Gondanglegi.
"Tersangka ini kami tangkap di rumah kontrakannya. Setelah ada laporan dan bukti yang cukup kuat," ujar Kanit Idik II Reskrim Polres Malang, Ipda Agung Hartawan.
Pada bulan puasa lalu, tersangka berkenalan dengan korban.
"Saya kenal di sekitar Kacuk. Kemudian saya diminta kontrak rumah di Wagir, karena nanti akan dijadikan ketua ranting salah satu partai," tutur tersangka Slamet Eko.
Setelah saling kenal dan akrab, tersangka lalu datang ke rumah korban. Semula tersangka menawarkan proyek pembangunan Rusun di Jatinangor Jawa Barat. Namun karena nilai tawarannya terlalu besar, korban serta temannya tidak bersedia.
Akhirnya oleh tersangka dialihkan proyek lain, yakni menjadi penyalur LPG ukuran tiga kilogram yang diakui langsung dari Pertamina pusat. Harga yang ditawarkan Rp 9600 per-tabung. Padahal harga gas LPG setiap tabungnya sekitar Rp 16.500.
Merasa keuntungan besar, akhirnya korban dan rekannya tertarik untuk menjadi penyalur. Apalagi tersangka juga meyakinkan kalau memiliki lima titik tempat di lima kecamatan, untuk bisa dijadikan agen penyalur LPG. Yakni Wagir, Gondanglegi, Turen, Dampit serta Bululawang.
Untuk bisa menjadi penyalur LPG, ada syaratnya. Yakni membayar modal pernyataan sebesar Rp 100 juta untuk setiap titik (kecamatan, red). Jika lima titik maka harus membayar Rp 500 juta. Selain itu, korban juga diminta membayar blangko pernyataan sebesar Rp 2,5 juta untuk tiap kecamatan.
"Untuk modal pernyataan, saya tidak meminta membayar full. Hanya 50 persen saja, karena separohnya sudah saya bayar sendiri," ucap tersangka.
Lantaran tertarik, akhirnya korban dan rekannya setuju dengan mengambil dua lokasi, yakni Wagir serta Gondanglegi. Korban juga menyerahkan uang Rp 5 juta untuk pembelian blangko pernyataan, dengan bukti kwitansi.
Setelah penyerahan uang itu, tersangka menjanjikan akan segera mempertemukan korban dengan pihak Pertamina. Beberapa hari kemudian, tersangka kembali mendatangi korban untuk meminta uang pembayaran modal pernyataan.
Namun korban tidak langsung memberinya, tetapi meminta jaminan pada tersangka. Lantaran tidak bisa memberikan jaminan, korban lalu menunda pembayaran.
Namun secara diam-diam, korban yang curiga lantas mengecek ke Pertamina. Ternyata program yang disampaikan oleh tersangka tidak pernah ada.
Akhirnya korban yang merasa malu, apalagi ia juga merupakan tokoh masyarakat, ia melaporkan ke Polres Malang. Berdasarkan laporan itulah, polisi lantas menangkap tersangka Slamet Eko.
"Saya tidak menipunya, karena saya memang mendapat kabar program itu dari Pertamina Surabaya. Bahkan uang Rp 5 juta dari pak Subakir (korban, red) sudah saya serahkan ke Bu Devi, orang Pertamina. Kalau ternyata fiktif, maka saya juga ikut menjadi korbannya," dalih tersangka Slamet Eko.(agp/jon)

Berita Lainnya :