magista scarpe da calcio KPK Blokir Rekening Arif dan Jarot


KPK Blokir Rekening Arif dan Jarot


MALANG - KPK memblokir rekening tersangka Moch Arief Wicaksono dan Jarot Edy Sulistyo. Proses pemblokiran rekening ini merupakan bagian dari pelaksanaan tugas dalam penanganan tindak pidana korupsi. “Ya, kami blokir rekening keduanya,” kata  Juru Bicara KPK Febri Diansyah.
Meski demikian Febri tidak menjelaskan lebih lanjut ada berapa rekening yang diblokir dan berapa dana yang tersimpan di dalam rekening dua tersangka tersebut. Dia hanya melanjutkan, bahwa sejak Rabu (28/10) lalu sampai hari terakhir pemeriksaan (kemarin), KPK sudah menjadwalkan pemeriksaan kepada 35 saksi.
“Sejak Rabu sampai hari terakhir sudah dijadwalkan 35 saksi. 31 di antaranya anggota DPRD Kota Malang dan unsur lain adalah mantan Sekda, kepala bidang dan staf sekwan,” ungkapnya Senin (23/10).
Lebih lanjut ia menerangkan, KPK terus mendalami informasi dugaan penerimaan uang “Pokir” terkait dengan pengesahan APBD-P TA 2015 kepada sejumlah pihak. Komunikasi sejumlah pihak terkait, lanjutnya, dalam perkara tersebut terus diklarifikasi kepada saksi-saksi yang telah dipanggil.
Sementara itu, anggota Komisi B DPRD Kota Malang Ya’qud Ananda Gudban, anggota Komisi C Moch Fadli dan anggota Komisi A Tri Yudiani kemarin diperiksa selama 10 jam. Ketiganya masuk bersamaan sekitar pukul 09.00 WIB dan keluar sekitar pukul 19.00 WIB.
Saat dikonfirmasi usai diperiksa, Ya’qud Ananda Gudban mengaku tidak ditanya aneh-aneh. Ia menjelaskan materi pemeriksaanya tersebut hampir sama dengan yang sebelumnya. Jika sebagian besar anggota dewan diperdengarkan rekaman, Nanda mengaku tidak diperdengarkan rekaman sama sekali.
Hanya saja, ia mengaku mendapatkan pertanyaan soal istilah “Pokir”. Di mana istilah ini diasosiasikan oleh tim KPK sebagai uang pelicin. “Iya kalau itu (pokir) memang ditanya. Apa saya tahu tentang pokir, saya jelaskan seperti yang sudah dijelaskan semua dan itu memang ada di aturan dewan,” paparnya sambil terburu-buru menuju mobil yang sudah menunggunya.
Ditanya mengenai materi pemeriksaan lainnya, Ketua DPC Partai Hanura Kota Malang ini hanya menjelaskan bahwa pembahasan dan proses penganggaran masih menjadi bahasan utama. Sementara itu Moch Fadli saat ditanya usai pemeriksaan pun mengaku hal yang sama. Ia tidak diperdengarkan rekaman ataupun ditanya soal desas-desus uang pelicin. Ditanya mengapa pemeriksaannya sangat lama, ia hanya menjawab hal tersebut adalah proses.
“Ya sama saja dengan yang lain. Lama karena kita disuruh cerita,” ungkap Fadli.
Namun ketika diminta untuk menceritakan kembali apa yang ia sampaikan ke KPK, Fadli enggan menceritakannya pada wartawan. Sementara itu, Tri Yudiani yang keluar bersamaan dengan dua rekannya, memilih berjalan cepat dan meninggalkan lokasi pemeriksaan secara cepat hingga tidak terkejar.(ica/han)

Berita Lainnya :