Truk 32 Ton Tabrak Bug Gludug Embong Brantas


MALANG – Benturan hebat antara truk berbobot 32 ton dan bug gludug di Embong Brantas, sore (30/10) membuat besi rel kereta api patah. Tak hanya itu, sambungan baja penyangga jalur juga terputus di kedua sisi. Truk kontainer L 8534 UT yang dikemudian M Abdul Rofik (28 tahun) itu pun ‘tersangkut’ di jembatan itu.
Warga awalnya heboh dan menjauh dari lokasi karena khawatir jembatan roboh, namun tak berapa lama akhirnya mereka mendekat dan mulai melihat evakuasi serta perbaikan rel kereta api yang dilakukan dengan cepat. Peristiwa itu berawal dari M Abdul Rofik yang menyopiri kontainer dari arah Pagak menuju Surabaya. Ia memaksa truk kontainernya yang setinggi 4,2 meter melewati bug gludug sisi utara yang hanya setinggi 4 meter. Jelas saja tabrakan terjadi.
“Awalnya saya mengendarai truk dari arah Pagak ke Surabaya, lewat jembatan Gatot Subroto Brantas. Tapi, ada problem persneling, saya nggak bisa turun gigi. Hanya bisa bergerak di gigi 3 dan 4. Di daerah situ kan macet, saya mau ambil kiri biar tetap bisa jalan dan nggak macet di tengah jalan,” kata Rofik kepada wartawan sore kemarin.
Pukul 16.00 WIB, truk tersebut akhirnya berbelok kiri di Jalan Embong Brantas dengan bantuan supeltas agar kendaraannya tidak berhenti dan tanpa mengganti gigi perseneling. Setelah belok kiri, dia hendak berbelok kanan ke bug gludug dengan batas ketinggian 4,5 meter. Tapi, truknya terhadang kendaraan lain. Abdul Rofik lalu memaksa masuk ke bug gludug 4 meter yang berada di sebelah kiri jalur utama, sebelum akhirnya tersangkut besi penyangga rel kereta api.
Kanit Laka Satlantas Polres Makota, Iptu Budi Junaedi mengatakan, kecelakaan ini terjadi karena kelalaian sopir. “Ini kelalaian sopir, human error, sudah tahu kendaraannya bermasalah tapi dipaksa berjalan. Dia kurang antisipasi perbedaan ketinggian jembatan rel dan truk kontainernya. Apalagi, truk ini bobot totalnya 32 ton, kalau menabrak ya pasti menggeser penyangga jembatan rel itu,” kata Junaedi, saat mengawasi proses evakuasi truk kemarin sore.
Jalur Kereta Api Normal Kembali
Kemacetan mengular dari tiga sisi, yakni Jalan Embong Brantas-Trunojoyo, jembatan Jalan Gatot Subroto dan Jalan Panglima Sudirman. Junaedi mengatakan, truk kontainer langsung dievakuasi ke Unit Laka Jalan Dr Cipto sekitar pukul 17.00 WIB. Sopir truk juga diamankan untuk dimintai keterangan.
Sementara itu, terputusnya penyangga jembatan rel, memengaruhi lalu lintas kereta api Stasiun Kota Baru. Wakil Kepala Stasiun Kota Baru Mardiono menyebut, ada empat kereta api yang tidak bisa berlalu lintas dengan normal. “Malioboro, Matarmaja dan Tawangalun mau datang, akhirnya diberhentikan di stasiun terdekat. Malabar berangkat dari Kota Lama,” kata Mardiono.
Dia menyebut, kereta api yang datang dari selatan, berhenti di Stasiun Kota Lama, sementara kereta api dari arah utara, harus berhenti di Stasiun Blimbing. Terputusnya jalur ini tidak berlangsung lama. Manager Humas PT KAI Daop 8 Surabaya, Gatut Sutiyatmoko menegaskan, perbaikan jembatan sudah selesai sekitar pukul 18.15 WIB sore kemarin.
“Perbaikan jembatan finish sekitar pukul 18.15, dan jalur sudah bisa digunakan. Tapi, kita memberi batas kecepatan di lokasi tersebut hanya 5 kilometer per jam. Semua jalur sudah bisa normal. KA pertama yang lewat di tempat tersebut yaitu KA Malabar tujuan Bandung,” kata Gatut.
Dia menyebut, jembatan tersebut berusia lebih dari 100 tahun. Tepatnya, jembatan kereta dan bug gludug ini dibangun pada tahun 1879. Jembatan kereta api dibangun bersamaan dengan Stasiun Kota Lama. Spesifikasinya penyangga jembatan ini terbuat dari besi baja. “Jembatan semakin sering dilewati sejak Stasiun Kota Baru dibangun tahun 1941,” tutupnya.(fin/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :