magista scarpe da calcio Jaksa Jawab Eksepsi, Minggu Depan Putusan Sela


Jaksa Jawab Eksepsi, Minggu Depan Putusan Sela

 
MALANG – Trisnaulan Arisanti SH, jaksa penuntut umum kasus Tonny Timotius Hendrawan atau Apeng 53 tahun, memberi tanggapan terkait eksepsi Apeng, di PN Malang, siang kemarin. Trisnaulan menolak semua keberatan yang disampaikan oleh Sumardhan SH dari kantor advokat Edan Law, kuasa hukum Apeng di hadapan majelis hakim pimpinan Rightmen Situmorang.
“Kami penuntut umum dalam perkara ini berkesimpulan surat dakwaan kami sudah disusun secara cermat, jelas dan lengkap serta telah memenuhi syarat-syarat formal maupun materil sesuai dengan ketentuan UU,” kata Trisnaulan dalam persidangan siang kemarin. Jaksa juga menyebut bahwa eksepsi yang disampaikan Mardhan, tidak berdasar.
“Eksepsi terdakwa tidak mendasar dan telah melampaui ruang lingkup eksepsi, karena menyangkut materi pokok perkara obyek pemeriksaan sidang Pengadilan. Kami menyatakan eksepsi penasehat hukum tidak dapat diterima, dan pemeriksaan perkara ini dilanjutkan,” kata Trisnaulan.
Jaksa juga memakai yurisprudensi putusan MA nomor 413 K/Kr/1980 untuk meneruskan perkara Apeng. Trisnaulan menyebut pengadilan dalam pemeriksaan perkara pidana tidak terikat oleh suatu putusan pengadilan dalam pemeriksaan perkara perdata tentang ada atau tidak adanya hak perdata.
“Dengan demikian hakim pidana diberi kebebasan untuk mengikuti atau tidak putusan dalam perkara perdata yang mempunyai sangkut paut dengan perkara pidana,” tambahnya.
Sementara itu, Mardhan menyebut, apabila kliennya tersangkut konflik perdata, urusan pidana harusnya dihentikan dengan dasar pasal 81 KUHP.
“Apabila ada konflik perdata, pidana harus dihentikan, itu undang-undang. Mana yang lebih kuat, UU atau yurisprudensi,” kata Mardhan. Dia juga menyebut jaksa tidak membantah soal eksepsi tentang adanya tersangka lain yang di-BAP Polda Jatim, yakni Sunarto dan Henru Purnomo.
“Jaksa tidak membantah tentang tersangka dua dan tiga yang sudah ditetapkan di BAP polisi. Ini membuktikan jaksa tidak bisa berkelit dari fakta yang sudah ada,” kata Mardhan.
Sementara itu, Apeng sendiri berharap hakim bisa memberi keputusan yang objektif dan adil. Dia menganggap pihaknya dikriminalisasi oleh pelapor, Chandra Hermanto.
“Saya ini dikriminalisasi. Kenapa BAP tahun 2009 tapi P-21 tahun 2017, dan tersangka yang harusnya tiga kok tinggal saya saja,” tutup Apeng.(fin)

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top