Dua Pejabat BPN Jadi Tersangka


MALANG – Tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) Polri menetapkan Agus Prasmono dan Bekti Anistama Rianingtyas sebagai tersangka kasus dugaan pungli BPN Kota Malang. Kepada penyidik, keduanya mengakui telah menerima uang dari Dinar Fatmawati Risantoso SH M.Kn sejumlah Rp 5 juta.
Agus dan Anis diduga memakai wewenangnya dalam urusan Izin Perubahan Pengunaan Tanah (IPPT) untuk meminta uang. “Sudah menjadi tersangka sehingga kita lakukan penahanan. Inisial AN Kasubsi PTKT yang berperan aktif dan AG Kasi PPT. Status pelapor inisial D adalah saksi korban. Termasuk saksi korban, kita sudah periksa 7 saksi,” jelas Kapolres Makota, AKBP Hoiruddin Hasibuan, dalam rilis di Jalan JA Suprapto, siang kemarin.
Barang bukti yang disita adalah kuitansi penerimaan uang, dua handphone serta uang Rp 5 juta pecahan seratus ribuan dan dokumen IPPT yang menjadi barang bukti utama. Agus adalah Kasi Penataan Pertanahan, sementara Anis menjadi Kasubsi Penatagunaan Tanah dan Kawasan Tertentu.
Tugas seksi mereka berdua adalah mengurus alih fungsi lahan. Saksi korban hendak mengurus alih fungsi lahan sawah menjadi lahan perumahan, seluas 1,3 hektar di salah satu kawasan Kota Malang.
Demi melancarkan proses alih fungsi ini, para tersangka meminta uang pelicin dari saksi korban. “Kemudian ada permintaan sejumlah uang di luar aturan dan regulasi resmi,” ungkap Hoiruddin. Saksi korban berharap IPPT bisa segera diterima dengan memberikan uang ‘pelicin’ kepada kedua tersangka.
Hanya saja, keinginan saksi korban untuk segera menerima IPPT tidak sejalan dengan niat dari kedua tersangka. Berkas Dinar tidak kunjung keluar. Dari keterangan polisi, Dinar bahkan sampai melakukan pengecekan selesainya pemberkasan IPPT dan diketahui sudah finish pada 16 Juni 2017 lalu.
Tapi, sampai pelaksanaan penangkapan di kantor BPN Kota Malang 2 November lalu, Dinar belum menerima berkas IPPT itu. “Saat hari H penangkapan, dilaksanakan sesuai permintaan, harus dikasih uangnya baru diberikan berkas. Padahal berkas itu sebenarnya sudah selesai 16 Juni 2017 lalu,” papar Hoiruddin.
Setelah Dinar menyerahkan uang, tak lama kemudian tim Saber Pungli mabes datang bersama Polres Makota untuk menangkap tersangka. Keduanya kini ditangani oleh penyidik Unit Pidsus Reskrim Polres Makota dan ditahan di Sat Tahti. Hoiruddin mengatakan, kedua tersangka dijerat pasal 12 (e) UU RI nomor 20 tahun 2001 tentang tindak pidana korupsi dengan ancaman hukuman minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun.
Terkait kemungkinan adanya pelaku lain yang terlibat dalam pungli di BPN, Kapolres Makota menyebut penyidiknya masih melakukan pendalaman. “Masih kita kembangkan dan didalami, penyidikan terus berjalan. Kita akan tuntaskan, siapa saja yang terlibat dalam pungli ini,” terang Hoiruddin.
Kasatreskrim Polres Makota, AKP Ambuka Yudha Hardi Putra mengatakan proses penangkapan terhadap dua tersangka, tak lepas dari laporan saksi korban kepada Saber Pungli Mabes Polri. Menurut Ambuka, Dinar bertindak sebagai whistle blower atau pelapor adanya tindak korupsi dan pungli.
“Berdasarkan info masyarakat, yakni inisial D, sebagai pihak yang dirugikan melapor ke tim Saber Pungli Mabes. Tim Saber Pungli menindaklanjuti, menggandeng Polres Makota, melaksanakan penangkapan di kantor BPN,” tutur Ambuka kepada wartawan usai rilis, sore kemarin.
Proses pungutan liar yang diduga dilakukan oleh para tersangka, memakai dua jalur komunikasi, yakni ngobrol lisan dan percakapan telepon seluler. Anis, diduga bertindak sebagai orang yang berkomunikasi langsung dengan saksi korban. Sedangkan, Agus diduga memberi lampu hijau dan membiarkan terjadi aksi pungli.
“Keterlibatan AG merupakan hasil lidik Mabes Polri, kita sudah disajikan materi bahwa akan ada kemungkinan tindak pelanggaran UU Korupsi, sehingga kami menindaklanjuti dan melakukan backup. Bisa dikatakan, modusnya adalah menahan-nahan berkas untuk meminta uang,” ujar mantan Kasatnarkoba Polres Banyuwangi itu.
Kepada penyidik, para tersangka mengakui telah melakukan tindakan pungli yang memakan korban notaris PPAT seperti Dinar. “Mereka mengakui perbuatannya, dan itu menjadi alat bukti kita untuk menetapkan mereka sebagai tersangka dan melakukan penahanan,” tegas perwira dengan tiga balok emas di pundaknya itu.
Ambuka menyebut, para tersangka mengaku baru sekali melakukan pungli, yakni dalam kasus Dinar ini. Namun, penyidik Polres Makota tidak percaya begitu saja dengan pengakuan para tersangka. Sehingga, Ambuka sudah menginstruksikan penyidiknya untuk menggali lebih dalam keterangan dari tersangka. “Menurut pengakuan mereka ya hanya sekali itu saja, tapi kami masih dalami dan proses sidik,” tambahnya.

Berita Lainnya :