KPK Pastikan Panggil Ulang Jarot


MALANG - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan kembali menjadwal ulang pemeriksaan tersangka dugaan suap mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Malang Jarot Edy Sulistyono dalam waktu dekat. Hal ini disampaikan Kabag Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha kepada Malang Post, Jumat (3/11).“Diatur lagi karena tidak datang ” papar Priharsa.
Namun ia belum tahu kapan tepatnya jadwal pemeriksaan ulang Jarot diadakan. Pasalnya KPK juga masih melakukan pemeriksaan terhadap kasus-kasus lainnya. “Kami akan jadwalkan ulang pemeriksaan terhadap tersangka JES (Jarot,red). Yang bersangkutan akan dipanggil lagi,” tegasnya.
Priharsa menambahkan, sejauh ini baru Arief yang ditahan. Sementara itu, dua tersangka lain, Jarot Edy Sulistiyono dan Hendarwan Maruszaman selaku Komisaris PT ENK belum ditahan. Sementara itu Kuasa Hukum Jarot Edy, Haris Fajar SH Mhum menjelaskan, kliennya tidak dapat memenuhi panggilan KPK pada Kamis lalu karena surat pemanggilan baru didapat dan diketahui di waktu yang sangat mepet.
 “Sudah ada jadwal di luar kota jadi tidak bisa datang. Kami sudah kirim surat meminta pengaturan jadwal untuk pemeriksaan ulang. (sekarang) Menunggu balasan dari KPK,” ungkap Haris.
Menurut kejadian-kejadian pemeriksaan sebelumnya terhadap saksi maupun tersangka di kasus yang ditangani KPK, mereka yang dipanggil namun berhalangan, biasanya kembali dijadwalkan tidak jauh dari jadwal sebelumnya. Seperti yang pernah dialami oleh anggota DPRD Kota Malang Harun Prasojo pada pemeriksaannya September lalu. Ia juga meminta dijadwalkan ulang dalam pemeriksaan karena baru mendapatkan surat pemanggilan di hari ia dijadwalkan diperiksa.
Kala itu, KPK tidak membutuhkan waktu lama untuk mengatur ulang jadwal pemeriksaan yang tertunda tersebut. Dibutuhkan waktu tiga sampai lima hari berikutnya, jadwal pemeriksaan ulang sudah muncul lagi.
Saat Malang Post hendak kembali mengkonirmasi Jarot soal jadwal ulang pemeriksaan, Jarot tidak dapat dihubungi baik melalui pesan singkat, WhatsApp dan sambungan telepon.
Terkait pemeriksaan lanjutan Arif Wicaksono setelah ditahan, Kabag Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha menambahkan, penahanan dilakukan untuk kepentingan penyidik. “Ditahan karena bisa saja tersangka melarikan diri, menghilangkan bukti atau mengulangi perbuatan,” paparnya.
Sementara untuk ancaman hukuman, Priharsa menjelaskan dengan dugaan pidana suap yang dilakukan, Arif bisa jadi hukuman penjara berada di atas lima tahun. Meski begitu proses penyidikan masih dilanjutkan KPK terhadap tersangka-tersangka lainnya. (ica/han)

Berita Lainnya :