Wartawan Jakarta Meninggal di Ranupane


MALANG – Bromo Tengger Semeru (BTS) 100 Trail Ultramarathon memakan korban, . Lomba lari mulai dari kategori 170KM / 102KM / 70KM / 30KM ini menewaskan wartawan Obsesi Media Grup, Andi Nursaiful, 48 tahun. Ia  meninggal mendadak saat mengikuti lomba lari ultramarathon international tersebut. Jenazahnya ditemukan di kawasan Ranupane Kabupaten Lumajang.
Diduga, Andi mengalami serangan jantung sebelum meninggal di Cemoro Lawang, KM 18 Ranupane pukul 05.30 WIB. Pria domisili Depok kelahiran Pare-Pare Sulawesi Selatan itu dilarikan ke KM RSSA Malang . Pihak keluarga, tiba siang hari sekitar pukul 13.00 WIB. Istri Andi, Tutut Nursaiful langsung lemas dan terpukul dengan kabar kematian suami yang telah dinikahinya sejak 25 Juni 1995 itu.
“Baru kali ini mas ikut lomba lari BTS Ultra. Lomba lari yang lain sering. Kalau mendaki malah sudah terlalu sering, puluhan kali naik gunungnya,” kata Tutut kepada wartawan, malam tadi.
Andi terlibat dalam lomba lari BTS Ultra yang dihelat pada 3-5 November. Dia menjadi bagian dari 1.116 peserta dari 34 negara. Andi menjadi peserta lari 70 kilometer. Dia berlari dengan sekitar 300-an peserta, dari garis awal daerah Cemorolawang Probolinggo, Sabtu pagi pukul 01.00 WIB. Dia mencapai kilometer ke-17 ketika menjelang pagi hari.
Ayah dari Andi Bunga dan Andi Ames tersebut mendekati kilometer 18 sekitar pukul 05.30 WIB. Salah satu peserta, melihat Andi tiba-tiba berhenti sembari memegang dada. Setelah itu, alumnus Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta ini mendudukkan dirinya di tanah lalu tergeletak dalam posisi terlentang.
Peserta lain melihat dia tergeletak pingsan dan berupaya memberikan pertolongan, dengan cara memanggil warga dan tim medis. Tim medis perlombaan yang standby di KM 21, langsung bergegas ke lokasi pingsannya Andi. Tak dinyana, Andi dinyatakan sudah meninggal ketika tim medis tiba.
Dia dinyatakan meninggal pukul 05.40 WIB. Jenazahnya langsung dibawa turun gunung dan dilarikan ke KM RSSA Malang. Andi disebut sebagai pelari profesional karena sudah banyak mengikuti perlombaan lari. Tutut mengaku menyesal tidak menemani suaminya mengikuti lomba lari di BTS.
Pasalnya, sebelum lomba ini, wanita yang mengaku pernah bekerja di manajemen Majalah Popular itu selalu mengikuti suaminya mendaki gunung atau lomba lari. Bahkan, dia mengaku selalu berlari apabila lombanya jarak pendek.
“Biasanya selalu ikut, kalau jarak jauh cuma mendampingi dan menyemangati suami. Tapi sekarang Jumat Subuh cuma antar ke bandara. Mas tidak mengeluh apa-apa, saya syok pas ditelepon tadi,” ungkap pemilik pet shop di Jakarta ini.
Sebelumnya, Andi sejatinya dinyatakan sudah memenuhi persyaratan perlombaan. Florenciano Hendricus Mutter, panitia BTS Ultra mengatakan peserta sudah memenuhi semua persyaratan.
“Tidak ada problem saat berangkat pagi pukul 01.00 WIB. Semua peserta melengkapi persyaratan lomba,” katanya di KM RSSA Malang, kemarin.
Sementara, tim Medis BTS Ultra, Yotin Bayu Meriani menyebut Andi sudah meninggal 10 menit setelah tim medis menerima laporan ada peserta kolaps di KM 18 Ranupane. “Kita bawa ambulans dari KM 21 bergegas ke lokasi yang jaraknya 3 kilometer. Kami lakukan pemeriksaan dan jantung korban sudah berhenti, dugaan kami dia mengalami sakit jantung mendadak,” tandas Meriani.
Sampai malam kemarin, mayatnya masih berada di KM RSSA Malang. Sementara itu, Alfath Mappakaya, 50 tahun sanak famili korban, mengaku kaget dengan musibah yang dialami saudaranya. Pasalnya, menurut Alfath, Andi sudah gemar mengikuti lomba lari selama 8 tahun terakhir.
“Dia juga hobi naik gunung, termasuk Semeru. Saya dapat kabar bahwa dia meninggal pagi tadi. Dia ikut lari bersama peserta lain sebelum mengalami problem itu. Sudah delapan tahun lari dan belum pernah ada insiden,” tutupnya.(fin/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :