magista scarpe da calcio Tunggu SPDP, Kejari Siapkan Jaksa Pidsus


Tunggu SPDP, Kejari Siapkan Jaksa Pidsus

 
MALANG – Keberadaan Dinar Fatmawati Risantoso, SH M.kn saksi korban kasus dugaan pungli dua pegawai BPN Kota Malang, masih diselimuti misteri. Pasalnya, kemarin Malang Post kembali datang ke kantornya di perumahan Bumi Meranti Wangi (BMW), Purwantoro. Jika dua hari lalu rumahnya masih terlihat aktivitas, maka kali ini pagar rumahnya tergembok dari luar. Saat Malang Post mencoba memberi salam, tidak ada jawaban dari dalam rumah.
Wartawan koran ini juga mencoba mengetuk pintu dengan sopan sembari menyatakan tujuan datang untuk konfirmasi. Namun, penghuni rumah tersebut tidak ada yang keluar untuk menjawab upaya konfirmasi wartawan Malang Post.
Sebaliknya, salah satu penghuni perumahan, mengatakan kepada Malang Post bahwa dia melihat kendaraan keluarga tersebut di salah satu hotel besar di kawasan Jalan Langsep.
“Saya lihat ada mobilnya SUV putih di hotel itu,” ungkap pria paruh baya tersebut dari atas mobil keluarga warna putih, sembari berhenti di dekat pos penjagaan perum BMW.
Petugas keamanan BMW, Jujuk SW mengatakan berita tentang kasus dugaan suap yang melibatkan Dinar sebagai saksi sekaligus korban, membuat kantor notaris itu sepi.
“Sebelum berita ini muncul, tamu masih lalu lalang di situ. Tapi, ketika berita pungli BPN ini muncul, kantor notaris langsung sepi dan selalu tutupan. Tamu juga jarang ada,” katanya.
Mulai hari Kamis, kantor notaris tersebut terlihat minim kegiatan. Dia mengatakan bahwa saat siang maupun sore hari, aktivitas di kantor notaris sekaligus kantor spesialis orthopedi dr Tjuk Risantoso SpOT itu cenderung nihil. Saat malam hari, ketika satpam berjaga, rumah tersebut masih menyalakan lampu, tanda bahwa ada penghuni di dalam rumah.
“Kalau malam masih menyala lampunya. Tapi mulai Kamis sampai sekarang sudah tak ada tamu, tidak seperti biasanya. ” jelasnya. 
Disinggung soal kehidupan sehari-hari Dinar sebelum meledaknya kasus dugaan pungli BPN Kota Malang, Jujuk SW mengatakan wanita tersebut tidak berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
“Tidak banyak sosialisasi dengan warga maupun dengan kami yang penjaga keamanan di perum BMW ini,” tambahnya. 
Dari informasi yang dihimpun dari warga sekitar, Dinar telah menghuni perum BMW selama bertahun-tahun. Hanya saja, menurut penghuni perum BMW yang enggan disebut namanya, dua tahun lalu terjadi insiden antara Dinar dan masyarakat di perum BMW.
“Sekelompok warga perum BMW datang ke rumah tersebut dan terlibat adu mulut dengan Dinar. Warga tersinggung dengan cara Dinar dalam bertetangga dan caranya hidup di lingkungan perumahan. Sampai diluruk warga,” ujarnya. 
Akibat selisih pendapat antara Dinar dan warga, petugas keamanan harus melerai. Paska insiden tersebut, hubungan Dinar dan masyarakat masih belum membaik sampai sekarang.
Sementara itu, proses penyidikan Polres Makota terhadap dua tersangka dugaan pungli BPN Kota Malang, Agus Prasmono dan Bekti Anistama Rianingtyas masih berjalan.
Pihak penyidik juga tengah melengkapi berkas untuk mengirim Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) ke kantor Kejaksaan Negeri Malang. Kajari Malang, Purwanto Joko Irianto SH MH menyebut SPDP belum masuk ke kantor Kejari.
“Masih belum masuk. Penyidik Polres masih punya waktu setelah penetapan status tersangka sebelum mengirimkan SPDP ke Kejari Malang. Prosesnya masih panjang sekali, belum sampai Kejari,” kata Joko kepada Malang Post.
Meski demikian, prosedur penyelesaian perkara pidana, akan melibatkan Kejari Malang setelah Polres Makota mengirimkan SPDP. Menurut Joko proses penunjukan jaksa akan dilakukan begitu berkas SPDP diterima pihak korps Adhyaksa tersebut. Dia juga akan menunjuk jaksa dalam penanganan kasus dugaan pungli yang menjerat dua pegawai BPN dengan pasal tipikor.
“Kalau SPDP masuk kita akan tunjuk jaksa penuntut umum, khususnya jaksa Pidana Khusus,” tambah jaksa 53 tahun itu.
Menurut jaksa yang telah berdinas selama 26 tahun ini, kelengkapan berkas penyidikan Polres Makota, bergantung pada pemenuhan syarat formil dan materil.
“Kalau memenuhi syarat formil tentu berkasnya nanti akan P-21, kalau tidak ya P-19. Untuk P-21masih lama sekali,” tutup Joko.(fin/jon)

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang