Minta Tangguhkan Penahanan Nanik


 
MALANG - Nanik Indrawati alias Suparmi, 53, terdakwa dugaan penipuan penggelapan uang PT Sapta Tunggal Surya Abadi (STSA) menjalani sidang perdana. Sore kemarin, Nanik baru keluar dari sel tahanan PN Malang menuju ruang sidang. 
Sidang dipimpin oleh ketua majelis hakim Isnurul Syamsul Arif SH Mhum setelah jadwal molor berjam-jam. Nanik sendiri tidak mau memperlihatkan wajahnya kepada awak media. Sejak keluar dari sel tahanan PN Malang, ia memakai kertas merah untuk menutupi wajahnya. 
Dia baru melepaskan kertas tersebut setelah duduk di kursi pesakitan di depan majelis hakim. Warga perumahan Pondok Blimbing Indah itu kembali menutupi wajahnya ketika kembali ke sel tahanan.
Dia juga cepat-cepat naik ke mobil tahanan Kejaksaan Malang setelah tiba waktunya kembali ke LP Wanita IIA Sukun. Dalam persidangan, wakil kepala PN Malang itu, mendengarkan dakwaan terhadap Nanik yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Suhartono SH. 
Dalam dakwaannya, Suhartono menyebut dugaan penipuan penggelapan terjadi pada tahun 2015 lalu. “Terdakwa bekerja pada PT STSA dengan jabatan sebagai kasir/manager keuangan yang mempunyai tugas antara lain melakukan pengajuan dana,” ungkapnya. 
“Terdakwa sekaligus berhak melakukan pencairan untuk dibayarkan sesuai keperuntukannya dan terdakwa bekerja mendapat upah rutin tiap bulan,” kata Suhartono membacakan dakwaan.
Dia lalu membahas soal niatan pembebasan tanah milik H Durachim di Jalan KH Malik Dalam Buring dengan luas 1,3 hektar. Sebelumnya, sudah ada proses negosiasi pihak PT STSA lewat Elang sebagai Project Manager dengan makelar Saiman serta pemilik tanah. Harga disepakati Rp 225.000 per meter persegi.
Elang dan terdakwa lapor kepada Direktur PT STSA di Surabaya, Aji Prayitno dengan harga Rp 350.000 per meter persegi. Aji melapor ke pemegang saham dan harga tersebut disetujui. Elang dan Nanik menerima Rp 4,6 miliar untuk pembayaran tanah 1,3 hektar. 
Tapi, Suhartono menyebut terdakwa hanya membayar Rp 2,56 miliar, sedangkan Rp 2 miliar sisanya disetor ke Riza Dwi Rahayu, rekening putri Saiman, atas perintah Elang almarhum.
Atas dakwaan jaksa, kuasa hukum Nanik, Gunadi Handoko SH tidak mengajukan eksepsi atau keberatan. Namun, Gunadi mengajukan permohonan penangguhan penahanan.
“Kami tidak mengajukan eksepsi, tapi mengajukan penangguhan penahanan atau pengalihan penahanan,” tuturnya.
Menanggapi permohonan kuasa hukum, hakim akan mempertimbangkannya. (fin/mar)

Berita Lainnya :