Bulan Depan Nikah Malah Bunuh Diri


 
MALANG - Jeritan Ngatini, Rabu (08/11/17) pagi menggemparkan tetangganya di Dusun Buwek, Desa Sitirejo, Wagir. Wanita berusia 53 tahun ini, menangis histeris sembari minta tolong. Setelah mengetahui anaknya, Handoko, 29, tewas tergantung dalam kamar mandi.
Warga yang mendengar teriakannya, langsung berdatangan. Mereka menanyakan apa yang terjadi. Setelah masuk ke dalam rumah, warga langsung terkejut dengan aksi nekat yang dilakukan Handoko.
Mereka menurunkan tubuh Handoko yang sudah tidak bernyawa. Selanjutnya, karena menganggap kematian Handoko tidak wajar, warga lantas melaporkannya ke perangkat desa dan diteruskan melapor ke Polsek Wagir.
“Ketika kami datang, jenazah sudah diturunkan. Tidak ada bekas tanda kekerasan di tubuh korban,” ungkap Kanitreskrim Polsek Wagir, Ipda Anwari Sidik.
Tidak diketahui pasti apa yang menyebabkan Handoko, nekat mengakhiri hidupnya. Padahal bulan depan, ia akan melangsungkan pernikahan dengan gadis pujaannya. Keluarga ataupun calon istrinya, juga tidak mengetahui.
"Untuk motifnya apa masih kami selidiki. Keluarganya mengaku tidak tahu,” katanya. 
“Termasuk calon istrinya yang kami mintai keterangan juga tidak tahu. Namun dari keterangan pihak keluarga, bulan depan korban akan menikah,” jelas mantan Kanitreskrim Polsek Pakisaji ini.
Penemuan jenazah pemuda ini sendiri, ketika orangtuanya curiga karena hingga pukul 07.30, Handoko belum bangun. Orangtuanya lantas masuk ke dalam kamar, berniat untuk membangunkan. Namun Handoko tidak ditemukan di dalam kamarnya.
Selanjutnya orangtuanya melihat ke kamar mandi. Pintu dalam kondisi tertutup rapat. Lantaran dipanggil berulang kali tidak ada sahutan, Ngatini lantas memberitahu Sukur Udin, suaminya.
Curiga ada yang tidak beres, orangtuanya lantas mendobrak pintu kamar mandi. Saat itulah Handoko ditemukan tergantung dengan seutas tali tampar plastik warna biru pada besi yang menjadi tandon air. Mereka berteriak histeri hingga mengundang warga sekitar.
“Jenazah korban hanya kami mintakan visum luar di Puskesmas Wagir. Sebab keluarga tidak berkenan dilakukan otopsi. Mereka membuat surat pernyataan dan menerima kematiannya sebagai musibah,” tegas Anwari. (agp/mar)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...