magista scarpe da calcio Mengaku Hanya Satu Korban


Mengaku Hanya Satu Korban

 
MALANG – Salah satu Pengasuh Ponpes di wilayah Kecamatan Pakis, Khoiron yang ditahan karena kasus asusila masih saja bungkam. Ia tidak mengakui berapa santriwati yang telah menjadi korban asusilanya. Pria kekar ini, mengaku kalau hanya satu saja santriwati yang menjadi korbannya.
“Hanya satu saja (korban, red). Saya menyetubuhinya dua kali, pada 2016 lalu,” kata Khoiron singkat, sembari menundukkan kepala.
Ketika ditanya apa alasannya menyetubuhi, Khoiron mengaku kalau dirinya khilaf. “Saya khilaf,” ucapnya. Saat ditanya lebih jauh, ia hanya diam. Termasuk persetubuhan dilakukan di dalam Masjid area Ponpes, juga tidak diakuinya.
“Tersangka mengaku hanya satu saja korbannya. Tetapi kami masih tetap kembangkan kasusnya, karena kemungkinan masih ada korban lainnya,” jelas Kasatreskrim Polres Malang, AKP Azi Pratas Guspitu.
Muhammad Muslikh, pendamping korban dari LSM Gerbang Indonesia, menyatakan bahwan korban asusila Khoiron, diyakini banyak. Namun yang sudah melapor tiga orang santriwatinya. Dua korban berasal dari Nongkojajar dan Poncokusumo, serta satu korban lagi dari Pakis, yang kini hamil tujuh bulan.
“Dua korban sudah dimintai keterangan sebelumnya. Saat ini, saya mengantarkan satu korban lagi untuk dikonfrontir dengan tersangka,” terang Muhammad Muslikh, sembari menegaskan bahwa korban asusila sebenarnya banyak, dan saat ini bersama dengan tokoh masyarakat ia masih berupaya melakukan pendekatan.
Menurut Muslikh, ketiga korban adalah murid atau santriwati tersangka. Setiap korban disetubuhi berkali-kali. Persetubuhan dilakukan secara bergantian pada malam hari seusai mengaji malam.
“Melakukannya di atas pukul 20.00 setelah mengaji. Korban ada yang disetubuhi di dalam masjid di area Ponpes. Saat menyetubuhi santriwati lainnya diminta pergi, sementara korban tetap diminta tinggal,” bebernya.
Alasan tersangka menyetubuhi, lanjut Muslikh, lantaran ingin mempertebal dan menambah kekuatannya. “Korban sempat menolak ketika diminta menyerahkan darah keperawanan. Tetapi karena didesak dan dibujuk rayu, korban akhirnya pasrah,” tuturnya.
Dengan kejadian tersebut, lanjutnya warga beserta tokoh masyarakat meminta supaya tersangka Khoiron diproses hukum sesuai dengan perbuatannya. Sekaligus meminta supaya Ponpes tersangka ditutup untuk selamanya. Karena warga tidak ingin sampai ada korban lagi.
“Kami yakin bahwa korbannya banyak. Sebab setiap korban yang disetubuhi hamil, oleh tersangka langsung dinikahkan dengan santri laki-laki, dengan diberi imbalan uang,” katanya, sembari mengatakan bahwa kasus ini juga menjadi perhatian dari Dr. Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si (Kak Seto, red).
Dikonfirmasi via telepon, Kak Seto, mengatakan kalau dirinya memang berniat untuk mendatangi Polres Malang, terkait kasus asusila yang dilakukan Khoiron. “Tetapi karena ada kepentingan lain, saya balik lagi ke Jakarta,” ujar Kak Seto.
Terkait kasus asusila tersebut, Kak Seto, meminta supaya semua pihak, terutama Kepolisian untuk menjerat pelaku sesuai dengan aturan hukum. Sekaligus memberikan terapi psikologi terhadap korban. “Saya minta kepada Dinas Kesehatan untuk mendatangkan psikolog profesional, supaya korban tidak mengalami trauma,” urainya, sembari mengatakan supaya tidak fokus pada tersangka, tetapi kondisi korban juga harus diperhatikan.
“Saya juga akan memantau perkembangan kasus ini, dan berkoordinasi dengan LPAI Jawa Timur, untuk ikut mengawal. Tanggal 18 Agustus nanti, saya akan usahakan datang lagi ke Malang,” paparnya.(agp/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top