Gadis Poncokusumo Masih Misterius

 
MALANG - Keberadaan Siti Aisyah, 15 tahun, remaja asal Desa Ngadirejo, Poncokusumo, masih menjadi teka-teki. Hingga kemarin, anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Warsono - Sujiati ini, masih belum diketahui. Polisi dan keluarga, masih berupaya mencari keberadaannya.
"Kami masih mencoba melacak keberadaan korban melalui HP-nya. Tetapi masih belum ada titik terang dimana keberadaanya," ujar Kanitreskrim Polsek Poncokusumo, Aiptu Andik Risdianto.
Menurutnya, selain menyebarkan informasi hilangnya korban, Polsek Poncokusumo juga terus berkoordinasi dengan Polres Malang untuk melacak keberadaan korban. Beberapa tempat yang disinyalir adanya keberadaan korban, sudah didatangi namun belum ditemukan.
"Yang kami sayangkan laporan keluarga korban ke polisi terlambat. Setelah sebulan lebih hilang baru dilaporkan," tuturnya.
Sementara itu, Ida Wilujeng, paman korban mengatakan keluarga masih terus berupaya melakukan pencarian. Selain meminta bantuan kerabat dan warga sekitar, juga meminta tolong pada orang pintar.
Korban sempat dikatakan berada pada sebuah gudang yang dijaga preman, di wilayah Surabaya. Namun setelah diselidiki ternyata tidak ada. Ada juga yang mengatakan kalau korban masih berada di sekitar Malang.
"Memang ada yang mengatakan ada di Surabaya, Jember dan bahkan di Bali. Kami sudah mencoba mencari tahu namun masih belum juga ketemu. Keluarga sangat berharap bisa segeta ditemukan, karena khawatir dengan kondisinya," jelas Ida Wilujeng.
Sekadar diketahui, Siti Aisyah, 15, remaja asal Desa Ngadireso, Kecamatan Poncokusumo, dikabarkan hilang meninggalkan rumah sejak 3 Oktober lalu. Sudah sebulan lebih, anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Warsono - Sujiati ini, belum diketahui keberadaannya.Korban hilang, setelah ada tiga orang perempuan datang ke rumahnya. Dua orang diketahui keturunan Cina, satu lagi diketahui bernama Tutik, warga Kecamatan Poncokusumo.
Mereka datang dengan mengaku sebagai penyalur tenaga kerja. Ketiganya menawarkan korban untuk bekerja pada sebuah rumah tangga di wilayah Puncak Dieng. Namun saat itu, korban dan orangtuanya menolak dengan santun.
Karena korban tidak mau, akhirnya ketiganya pulang. Termasuk Anip, saudara korban yang mengantarkan. Namun selang 30 menit kemudian, dua wanita keturunan Cina serta Tutik datang lagi ke rumah korban. 
Ketika datang lagi ini, mereka langsung mengajak korban untuk bekerja. Namun tiba-tiba korban yang sebelumnya menolak, langsung bersedia. Termasuk orangtua Siti Aisyah juga mengizinkan, seperti orang terkena hipnotis.(agp/jon/mar)

Berita Lainnya :

loading...