magista scarpe da calcio Polisi Kejar Unsur Kelalaian Pengembang Perumahan


Polisi Kejar Unsur Kelalaian Pengembang Perumahan


MALANG – Korban selamat tragedi kontrakan mahasiswi yang tertimbun longsor masih shock. Mereka terpukul dengan kejadian yang menewaskan teman satu rumah, Dinna Oktaviani (20 tahun). Tak hanya rekan korban, tetangga korban juga takut longsor susulan dan memilih mengungsi.
Rekan korban yang selamat adalah Pauline Sidabalok, 20 tahun mahasiswi S1 jurusan Sastra Perancis FIB UB. Serta Amadea Laras 20 tahun mahasiswi S1 jurusan Sastra Inggris FIB UB. Keduanya tampak berada di lokasi untuk mengambil barang serta dokumen penting.
Kepada wartawan, Amadea tak banyak bercerita. Dia hanya menyebut sedang berada di ruang tamu ketika longsor menggempur dinding belakang rumah. “Sedang di ruang depan, lalu saya sempat dengar suara teriakan satu kali. Setelah itu saya langsung teriak minta tolong warga,” ungkap Dea terbata-bata.
“Saya masih mengambil barang-barang. Sementara tidur di rumah teman, penghuni rumah lima orang,” katanya.
Dia menolak memberi keterangan lanjutan kepada wartawan dan buru-buru pergi dari lokasi setelah tim BPBD Kota Malang sibuk membantu evakuasi.
Sementara itu, dihubungi  (13/11) Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Arief Prajitno, MS mengatakan UB pasti aka memberikan santunan terkait musibah yang dialami oleh mahasiswanya. Nantinya, santunan tersebut diberikan setelah surat kematian diberikan.
"Biasanya surat kematian tersebut diserahkan oleh orang tuanya yang bersangkutan kepada fakultas, yang menyatakan bahwa itu benar anaknya yang berkuliah di UB," ujarnya.
Pasca peristiwa rumah kontrakan mahasiswi tertimbun longsoran kavling, tetangga sebelah rumah nomor A12, juga khawatir dengan potensi longsor susulan. Pasalnya, Muhammad Hafid 75 tahun, pensiunan ASN Kemenag Sumenep, sempat ingin tinggal di rumah tersebut, sehari sebelum kejadian.
“Baru mau pindah, ternyata ada kejadian ini. Ya memang kita gak kena, tapi kan tetap ada kekhawatiran terhadap keluarga saya kalau pindah di sini,” kata Hafid kepada wartawan.
Dia menyebut keluarganya saat ini masih tinggal di Pendem Batu dan belum berani kembali menempati rumah tersebut. Pasalnya, gedung yang ditinggalinya juga berhimpitan dengan bagian pondasi kavling. Posisi pondasi itu, sejajar dengan batas atas dinding belakang rumahnya. Beberapa bulan lalu, keluarga Hafid sudah mengajukan komplain tentang tingginya pondasi kavling itu.
“Keluarga saya yang mengerti teknik sipil datang ke sini dan melihat lokasi rumah. Dia marah, protes ke pengembang karena pondasi kavling terletak di atas rumah dan mepet. Tapi, dijawab bahwa sudah ada izin untuk membangun itu,” tutup Hafid, yang mau meneruskan cicilan rumah, bila urukan tanah di belakang rumahnya dibersihkan.
Sementara itu, Reskrim Polres Makota masih mengumpulkan keterangan dari saksi untuk menentukan penyebab utama longsornya rumah Joyogrand Inside, Kecamatan Lowokwaru. Kasatreskrim Polres Makota, AKP Ambuka Yudha Hardi Putra ditugaskan oleh Kapolres Makota AKBP Hoiruddin Hasibuan, langsung mendatangi lokasi.
“Kita sudah melakukan olah TKP, sementara ini tim identifikasi dan BPBD tengah evakuasi barang-barang yang tertimbun, seperti surat-surat dan berkas-berkas milik korban,” kata Ambuka kepada wartawan, usai mengecek lokasi longsornya rumah.
Polisi mengecek kondisi tanah yang ditembok oleh plengsengan batu kali. Petugas juga melihat situasi tembok rumah yang ambrol dan menimpa korban meninggal dunia Dinna Oktaviani 20 tahun, warga Kedungwuni Pekalongan. Menurut Kasatreskrim, hasil olah TKP sementara menyebut kondisi tanah labil. Selain itu, hujan juga merusak struktur tanah pondasi kavling itu.
“Dari sini kita belum temukan hal lain, karena memang posisi turun hujan. Mungkin kondisi tanah labil. Tapi, belum bisa ditentukan apa yang penyebab,” kata Ambuka. Dia mengatakan, kepolisian masih mengumpulkan keterangan para saksi. Saat ini, polisi telah mengambil keterangan dari warga sekitar dan korban.
Setelah melakukan pengecekan, anggota kepolisian juga mendatangi gedung kayu yang terletak di seberang rumah korban. Dari luar, beberapa orang yang mengaku karyawan marketing dan pengembang perumahan, mengeluarkan kertas-kertas dan memperlihatkannya kepada anggota Reskrim Polres Makota.
Ambuka menyebut pihaknya akan memeriksa pengembang. “Mungkin kita periksa pengembang. Dari sini apakah sesuai SOP, cara membangunnya, serta bahan yang digunakan, serta ketentuan regulasi soal perumahan. Dalam perjalanan pemeriksaan akan ada bukti baru, kita beri perkembangan lebih lanjut nantinya,” urai perwira dengan tiga balok emas di pundaknya itu.
Terkait dugaan unsur kelalaian pengembang yang membangun pondasi kavling di atas rumah korban, Ambuka masih mempelajari bukti yang ada. Menurutnya, jika memang semua petunjuk mengarah pada dugaan kelalaian pengembang, maka polisi pasti bisa meningkatkannya menjadi penyelidikan resmi kepolisian untuk mencari tersangka.
“Yang penting kita kumpulkan semua bukti dulu, termasuk berkas-berkas. Kalau memang petunjuk mengarah pada dugaan kelalaian, ya bisa jadi ada penyelidikan lanjutan,” tambahnya.
Wartawan yang mencoba melakukan konfirmasi dengan masuk ke kantor sementara marketing Joyogrand Inside. Salah satu pria yang mengaku penjaga gudang, menyebut bahwa pihaknya tidak bisa memberi keterangan resmi soal kejadian ini.
“Saya cuma penjaga gudang, pengelola ke Pekalongan mengantar jenazah,” tandasnya lirih kepada wartawan.
Dia menyebut, bahwa pengelola Joyogrand Inside berbeda dengan Perum Joyogrand. Dari data yang dihimpun, Joyogrand Inside dilaunching pada Juni 2016, oleh Bina Karya Property Group. Alamat kantornya didaftarkan di dalam perumahan Joyogrand Inside, yakni Jalan Joyo Asri Kav B1 RT 08 RW 09 Kelurahan Merjosari Dinoyo.(fin/ary)

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top