Mantan Kepala Perpustakaan Ditahan


BATU - Kejari Kota Batu menetapkan tiga tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi penyediaan buku perpustakaan pada Kantor Perpustakaan Kota Batu tahun anggaran 2016. Dua diantara tiga tersangka tersebut dilakukan penahanan yakni Titok Wisabahadi, mantan Kepala Kantor Perpustakaan dan rekanan berinisial ECU, rekanan pembuatan buku fiktif berjudul Pokok-Pokok Pikiran ER Memajukan Kota Wisata Batu.
Setelah ditetapkan tersangka dan menjalani pemeriksaan awal, Titok yang saat ini menjabat sebagai Kepala Bagian Administrasi Pemerintahan dan ECU diboyong menuju ke rumah tahanan kasus tindak pidana korupsi di Lembaga Pemasyarakatan Medaeng Surabaya, Rabu (15/11) petang. “Kami tetapkan tersangka dalam kasus dugaan penyediaan buku fiktif. Dalam kasus ini ada kerugian negara sebesar Rp 140 juta,” terang Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Batu, Nur Chusniah.  
Tito yang juga mantan Sekretaris KPU Kota Batu terjerat kasus hukum tersebut, saat menjabat sebagai Kepala Kantor Perpustakaan Kota Batu tahun 2016 lalu.   Dari hasil penyelidikan Kejari, buku ini harusnya diproduksi tahun 2016 lalu dengan menggunakan dana dari APBD Kota Batu. Penyidik dari Seksi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Batu menemukan buku sama sekali tidak diproduksi.
Diduga, ketiga tersangka memalsukan laporan, dengan menyebutkan bahwa buku tersebut sudah terpenuhi jumlahnya atau sudah 100 persen diselesaikan pembuatannya. Terkait dengan penahanan tersebut, Kejari Batu memiliki waktu memproses selama 20 hari sebelum dilimpahkan kepada Pengadilan Tipikor di Surabaya.
‘’Masih ada orang lain dan dalam waktu dekat akan dipanggil untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan,’’ tegasnya.
Sementara itu Alwi, Plt Sekda Kota Batu ketika dikonfirmasi masalah penahanan membenarkan. Pihaknya mendengar informasi menjelang Maghrib.
“Saya dengar informasi sore hari, surat dari Kejari memang ada. Hanya  saya belum sempat mempelajari karena datang sudah terlalu sore,” papar Alwi.
Terkait dengan kekosongan jabatan Kepala Bagian Administrasi Pemerintahan, Alwi mengatakan hal tersebut bukan menjadi kewenangannya. Kekosongan ini akan dikomunikasikan dengan Plt Wali Kota Batu, Punjul Santoso dan ia akan memproses sesuai dengan petunjuk.
Apakah Pemkot Batu memberikan pendampingan hukum, Alwi mengatakan akan terlebih dahulu mempelajarinya.  “Dilihat dulu, apa yang disangkakan terhadap beliau. Sepanjang regulasi membolehkan, kami akan melakukan pendampingan. Kalau regulasinya tidak membolehkan, ya tidak akan lakukan pendampingan,” tegas mantan Sekda Pamekasan ini.
Sementara itu Malang Post ketika mencoba menghubungi handphone Titok, dalam kondisi tidak aktif. Dari teraan di aplikasi WA, handphone milik Titok ini dibuka terakhir pukul 17.05.
Beberapa sejawat Titok yang dihubungi Malang Post membenarkan kabar penahan tersebut, malah beberapa teman sejawatnya sempat menelepon dan memastikan kondisi Titok. Namun saat itu, Titok masih mengangkat telepon dan memberikan keterangan bahwa dalam kondisi baik.  (dan/feb)

Berita Terkait

Berita Lainnya :