Tak Mau Diantar Kerja, Polisi Sesalkan Keributan Saat Evakuasi


 
MALANG - Kepahitan masih menyelimuti warga Perum Asabri Bumiayu, Kelurahan Bumiayu Kedungkandang. Salah satu warganya baru saja diantarkan ke liang lahat. Dwi Anggraini, warga blok F7 RT07 RW02 tewas mengenaskan setelah ditabrak dua mobil secara beruntun di depan SPBU Ciptomulyo, Jalan Kolonel Sugiono, Jumat (17/11) malam.
Mais, 52, ayah kandungnya yang melihat sendiri Dwi Anggraini meregang nyawa di tengah jalan, berupaya tegar ketika menunggu jenazah di kamar mayat RSSA Malang. Sementara Wulan, istrinya hanya sesenggukan penuh tangis meratapi kepergian anaknya yang masih lajang itu.
“Saya sebenarnya sedang menunggu anak pulang kerja di situ. Tiba-tiba saja saya mendengar bunyi keras ‘Bruak! Orang-orang langsung ramai dan mendekat. Saya sudah firasat tidak enak, jangan-jangan anak saya. Ternyata benar,” kata Mais. 
Dia menyebut bahwa sejatinya kebiasaan Dwi Anggraini adalah selalu diantar pulang pergi saat bekerja. Hanya saja, Jumat lalu, gadis kelahiran Gresik 17 April 1995 ini tidak mau diantar bekerja di Inmax Premier Property, Jalan Galunggung. 
Akhirnya, sang ayah hanya menunggu si putri pulang sore hari. Tak disangka, Dwi Anggraini malah tidak pulang ke rumah untuk selama-lamanya. Sang ibu sendiri sudah memiliki firasat sejak anak keduanya tidak mau diantar berangkat kerja. 
“Sudah firasat, soalnya biasanya diantar bapaknya mau. Sekarang tidak mau diantar,” ujar Wulan.
Dari keterangan yang digali, Dwi Anggraini sendiri baru saja dua minggu menikmati pekerjaan barunya di Inmax Premier Property Agency. Selain masih lajang, dia juga dikenal sebagai gadis muda yang tidak neko-neko.
Dalam kehidupan sehari-hari, terhitung pendiam. Menurut mereka, anak keduanya itu tak pernah melewatkan salat lima waktu dan taat beribadah.
Pihak Unit Laka Satlantas Polres Malang Kota (Makota) sendiri masih melakukan penyelidikan terkait kecelakaan ini. Terpisah, insiden yang tidak elok, terjadi saat korban yang saat itu kritis hendak dievakuasi ke rumah sakit. 
Salah satu pentolan satkom di Kota Malang, berusaha menghalangi evakuasi Dwi Anggraini dengan cara menahan pintu belakang ambulans PSC 119 Kota Malang agar tidak bisa dibuka dan mencabut kunci kontak ketika korban dan ayahnya sudah berada di dalam ambulans.  
Adu mulut sempat terjadi. Para pihak yang berkonflik ini sampai datang ke Polres Makota. Kepolisian memediasi sehingga tidak sampai ada laporan polisi.
“Kasihan korbannya kan kalau ada acara cabut kunci ambulans,” ujar salah satu petugas. (fin/mar)

Berita Lainnya :