Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan Masih Tinggi


 
MALANG - Keprihatinan terhadap banyaknya kasus kekerasan kepada wanita dan anak, mendorong polisi memberi panduan hukum. Kanit PPA Reskrim Polres Malang Kota (Makota), Ipda Yuliana Plantika, bertemu dengan ratusan peserta didik serta wali murid SDN Rampal Celaket Malang, Jumat (17/11) di aula sekolah.
Dalam paparannya, Tika, sapaan akrabnya, menyebut orang tua memiliki peran vital dalam membimbing anak agar tidak menjadi korban kekerasan.
“Orangtua harus memberi perhatian khusus kepada buah hatinya, agar tidak menjadi korban kekerasan dan penyalahgunaan narkoba,” katanya.
Dengan pemberian bimbingan dan perhatian, jumlah angka kekerasan terhadap anak bisa menurun. Polisi sendiri dibekali banyak regulasi untuk melindungi anak dan perempuan. Untuk kasus kekerasan terhadap anak, polisi memiliki senjata UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak (PA).
Regulasi ini semakin lengkap UU nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan UU PA.Sementara, senjata Unit PPA Polres Makota, untuk menindak para pelaku kekerasan terhadap perempuan, adalah UU Nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan KDRT. 
“Kepolisian berkewajiban memberi perlindungan terhadap anak, tanpa mengesampingkan hak orang tua kepada anak. Orangtua tetap berkewajiban melindungi dan mendidik anak, serta bertanggungjawab atas keamanan dan keselamatan sang anak,” tambah perwira ini.
Meski demikian, kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Malang masih terhitung tinggi. Woman Crisis Center (WCC) Jalan Jombang, mencatat ada 131 kasus tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak pada tahun 2016. 
KDRT mencapai 84 kasus, kekerasan seksual 17 kasus, kekerasan dalam pacaran 16 kasus, penganiayaan 5 kasus, human trafficking 3 kasus, serta pedofilia 1 kasus. Pada kuartal pertama tahun 2017 lalu, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak mencapai 21 kasus. (fin/mar)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...