Biadab, Bapak ‘Mangsa’ Putri Kandung Sejak Korban Usia 10 Tahun


MALANG – Sungguh bejat. Rasa manusiawi Rosyid (35 tahun) warga Kelurahan Bandulan Kota Malang mungkin sudah lenyap. Dia tega memangsa putri kandungnya, Debora (bukan nama sebenarnya) 14 tahun. Selama bertahun-tahun, Rosyid diduga memaksa darah dagingnya sendiri untuk melayani nafsu binatangnya.
Tak kuasa menahan rasa trauma dan tekanan batin, Debora yang kini remaja mengadu kepada sang bibi. Sanak familinya lalu melapor ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Reskrim Polres Makota. Pagi  pukul 05.00 WIB, Rosyid dibekuk polisi di Taman Singha Merjosari dan dibawa ke mako Polres Makota untuk diinterogasi.
Kapolres Makota, AKBP Hoiruddin Hasibuan didampingi Kasubbag Humas Polres Makota Ipda Ni Made Seruni Marhaeni menyebut, predator seksual seperti Rosyid dikenakan UU Perlindungan Anak. "Kita kenakan dengan UU Perlindungan Anak. KUHP memang ada, tapi pasal primer akan dipakai dari UU PA, ini lebih tepat," kata Hoiruddin kepada Malang Post diwawancarai di Polres Makota siang .
Dari informasi yang dihimpun, perbuatan buas Rosyid dimulai sejak putrinya masuk kelas 4 SD. Entah apa yang ada di benak pelaku. Saat melihat putrinya, timbul keinginan Rosyid untuk menggauli. Kali pertama kesempatan datang saat sang istri bekerja dan tidak ada di rumah. Rosyid lalu merayu dan berupaya meminta Debora untuk memuaskan hasrat seksualnya di dalam kamar tidur.
Dengan nada ancaman, dia akan melukai Debora bila tidak mau memenuhi dorongan purba Rosyid. Takut dengan ancaman pelaku, keperawanan gadis kecil usia 10 tahun itu direnggut begitu saja oleh predator berkedok bapak kandung. Dari hasil penyidikan sementara kepolisian, Rosyid sampai hati menggauli anak kandungnya selama empat tahun, setiap hari.
Bahkan, hasil interogasi penyidik, pelaku melampiaskan kebiadabannya delapan kali seminggu. Tiap hari, Debora serasa hidup di neraka karena kekerasan seksual yang dialaminya. November 2017 lalu, Debora yang kini duduk di kelas 2 SMP, merasa sudah waktunya menyudahi penderitaannya.
Namun, tidak mudah baginya untuk meyakinkan keluarganya bahwa Rosyid yang kesehariannya buruh serabutan, adalah serigala berbulu domba. Sehingga, sebelum mengadu kepada bibinya, Debora berniat mencari barang bukti. Yakni, sperma Rosyid yang tertinggal di baju milik siswi tersebut.
Saat menunjukkan barang bukti bercak sperma ini, bibinya percaya dengan aduan Debora. Bibinya lalu melapor ke Polres Makota, dan langsung diterima oleh Unit PPA. Polisi, meminta kerjasama ibu dari Debora, untuk menangkap sang predator. Pagi sekitar pukul 05.00 WIB, polisi meminta ibu dari Debora untuk memanggil Rosyid datang ke Taman Singha Merjosari.
Lewat pesan handphone, ibu dari Debora meminta Rosyid bertemu di taman tersebut. Begitu si predator tiba, polisi langsung menyergapnya dan membawa pelaku ke Polres Makota untuk penyidikan lebih lanjut. Demi menjebloskan Rosyid ke penjara, polisi menerapkan pasal 81 UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Dalam pasal 81, predator seksual anak di bawah umur, diancam hukuman paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun, plus denda paling banyak Rp 5 miliar. Tapi, pada ayat ketiga, apabila pelaku adalah orangtua, wali, pengasuh anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah satu per tiga dari ancaman pidana pasal 81.
Rosyid, terancam hukuman maksimal 20 tahun. Kapolres mendorong warga atau korban kekerasan seksual, untuk tidak takut melapor ke polisi bila menjadi sasaran predator. “Jangan takut melapor, segera datang ke kantor polisi terdekat bila menjadi korban. Kan kasihan korbannya, apalagi kalau jadi korban kekerasan seks, pasti trauma,” tambah Hoiruddin.(fin/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...