Mahasiswi Pembuang Bayi Resmi Tersangka

MALANG – Polres Makota resmi menetapkan mahasiswi pembuang bayi ND (20) sebagai tersangka. Setelah pemeriksaan intensif di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Makota, penyidik menempatkan mahasiswi Akuntansi semester IV UIN Maliki Malang itu dalam tahanan. Kapolres Makota, AKBP Hoiruddin Hasibuan membenarkan penetapan tersangka terhadap mahasiswi asal Madiun ini.

“Sudah ditangkap dan statusnya berubah jadi tersangka. Dia diamankan oleh Polres Makota,” ujar Hoiruddin kepada Malang Post, dikonfirmasi malam kemarin. ND diamankan pada Senin (10/7) sore pukul 15.00 WIB setelah polisi menunggu kedatangannya di kos-kosan Jalan Kertorejo 2 RT 04 RW 03 Ketawanggede. ND menjalani pemeriksaan dari sore hingga malam hari, sebelum akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Hoiruddin masih enggan bicara banyak soal motif pembunuhan bayi yang ditaruh dalam tas punggung berwarna biru itu. Namun, dari keterangan yang didapat oleh polisi, ND membunuh bayi karena faktor takut. “Dia ketakutan dan malu,” tambah Hoiruddin. Tekanan batin serta tindakan melanggar moral yang dilakukan oleh ND, kata Hoiruddin, menambah stres. Sebelum akhirnya, ND kalut dan memutuskan mengakhiri nyawa jabang bayi. Kendati demikian, polisi tidak menghentikan penyelidikan sampai di sini saja. Hoiruddin menyebut Reskrim Makota kini terus bergerak memburu identitas pria yang menghamili ND. Menurut Hoiruddin, pria tak bertanggungjawab tersebut sedang dalam pencarian. Reskrim mengumpulkan informasi dari tersangka sebagai bahan memburu lokasi dan identitas pria ini. “Benar, cowok yang menghamili ND, masih kita cari,” tambah perwira dengan melati dua di pundaknya tersebut. Terkait adanya pria yang diduga pacar ND, warga di sekitar kos ND mengaku pernah melihat mahasiswi berjilbab ini bersama pria yang seumuran dengannya. Achadun (46) Ketua RT 04 RW 03 Ketawanggede, pernah melihat ND dijemput pria di kosan tersebut. “Saya pernah lihat dia dijemput laki-laki,” ujarnya. Achadun seringkali menegur tamu-tamu pria di kos putri Kertorejo 2, karena tidak memiliki induk semang yang mengawasi tiap hari. Hanya warga sekitar saja yang melakukan pengawasan di rumah kos sepanjang Jalan Kertorejo. “Rumah kos putri ini tanpa induk semang, pemiliknya ada di Blitar. Saya seringkali menegur karena ada tamu pria yang bertamu hingga malam hari. Saya pasti tegur agar meninggalkan rumah kos putri itu, soalnya sudah lewat jam berkunjung,” tambah Achadun, yang kediamannya tepat di depan rumah kos putri tempat penemuan bayi. Achadun juga menambahkan, ND baru saja memperpanjang masa kos di Kertorejo 2 setelah sempat habis pada Juni lalu. Sementara, dari keterangan penghuni rumah kos putri Jalan Kertorejo 2, ND dianggap tidak terlalu dekat dengan teman penghuni rumah kos, utamanya para seniornya. Ika Rakatiwi (22) salah satu penghuni kos, sekaligus saksi mata penemuan bayi, membenarkan hal tersebut. “Kita tidak terlalu dekat dengan dia. Soalnya beda angkatan,” ujar Ika, yang juga bingung dan tidak tahu ketika ditanyai nama lengkap ND. Terkait adanya laki-laki yang menjemput ND, dia juga tidak menampiknya. Pasalnya, menurut ingatannya, Ika menganggap ND jarang berada di kos-kosan. “Dia jarang di kos-kosan,” ujarnya. Sementara, dari informasi yang digali hingga sore kemarin, ND kabarnya mengalami trauma berat dan stres. Sehingga, saat ditahan setelah pemeriksaan dan pengambilan keterangan oleh UPPA, ND jatuh sakit. Kemarin akhirnya dia harus masuk rumah sakit. Kabag Humas Polres Makota, Ipda Marhaeni membenarkan tentang proses pembantaran ND. “Tersangka dirawat di RSSA karena kadar hemoglobinnya rendah,” ujar Heni sapaan akrabnya sore kemarin. ND dirawat secara tertutup di RSSA Malang, dan di bawah pengawasan petugas kepolisian. Walaupun sakit, status ND sebagai tersangka tidak berubah sehingga ia dibantarkan di RSSA Malang. Terkait penyebab kematian jabang bayi, Inafis Polres Makota segera melakukan otopsi terhadap jabang bayi yang saat ini masih di Kamar Mayat RSSA Malang. “Segera dilakukan otopsi untuk mengetahui penyebab kematian bayi,” kata Heni. Kepala Unit Inafis Polres Makota, Ipda Subandi menyebut bahwa otopsi dilakukan untuk mengetahui waktu kematian bayi dan penyebabnya. “Ada dua kemungkinan, bayi meninggal saat dalam kandungan, atau meninggal setelah keluar dari rahim. Kita masih akan lakukan otopsi untuk mencari penyebab kematiannya,” tambah Subandi. Terkait kesaksian rekan satu kos ND yang menyebut bahwa tersangka tidak terlihat sedang hamil, dokter punya sudut pandang tersendiri. Salah satu dokter Persada Hospital, dr Nanang Tri Wahyudi, memberi gambaran umum dunia medis tentang kehamilan di usia-usia awal. Nanang menyebut bahwa usia kehamilan tiga bulan masih sulit terlihat secara kasat mata, utamanya untuk wanita dengan pinggul lebar. “Bagi wanita yang pinggulnya lebar, serta pakai baju yang agak kombor-kombor gitu, pasti tidak akan terdeteksi kalau lagi hamil,” ujarnya. Sementara, terkait mayat bayi yang ditemukan, dr Nanang menyebut bahwa janin normal sudah memiliki tangan dan kaki serta organ vital sejak usia 3 bulan. Sehingga, kawan-kawan ND di kos Kertorejo 2, juga akan sulit melihat, apakah bayi yang dibawa ND, sudah berumur 9 bulan, ataukah janin yang dipaksa keluar alias aborsi. “Tiga bulan, bayi sudah bisa punya organ vital lengkap termasuk tangan dan kaki. Harus dilihat dulu hasil otopsi pihak berwajib seperti apa. Dari usia janin bisa kelihatan apakah bayi dilahirkan setelah sembilan bulan atau dipaksa keluar sebelum waktunya. Cara aborsinya pun akan terlihat,” jelasnya. Kasus yang kini menjerat ND, tidak jauh beda dengan yang dialami oleh Prive Widya Antika, mahasiswi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya. Prive (21), membunuh bayinya sendiri setelah melahirkan di kos-kosan Jalan Sumbersari. Dia dijerat pasal 341 KUHP oleh Kejari Malang dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara. Saat ini, dia sudah menjalani dua kali persidangan, yakni pembacaan dakwaan dan pemeriksaan saksi. Prive sempat dijadwalkan menjalani sidang perdana pembacaan dakwaan sebelum hari raya Idul Fitri. “Namun, dia dilanda histeria dan stres berat sehingga tidak memungkinkan ikut ke PN Malang sehingga batal sidang. Itu sebelum hari raya,” ujar Jaksa Penuntut Umum Prive dari Kejari Malang, Tyas Prabhawati SH. Ingatkan Orangtua Awasi Pergaulan Anak Nila setitik rusak susu sebelanga. Tindakan nekat ND, mahasiswi Akuntansi UIN Maliki Malang yang membuang bayinya, mencoreng wajah kampus ini. Wakil Rektor 3 UIN Maulana Malik Ibrahim, Dr. H Agus Maimun tidak menyangkal dan tidak membenarkan kasus pembuangan mayat bayi yang dilakukan oleh mahasiswi UIN Maliki. Ketika coba dikonfirmasi oleh Malang Post via telepon, Agus belum dapat memberi kepastian tentang status pelaku. "Kabarnya mahasiswi FE, tapi masih diselidiki terus," katanya. Agus yang mengaku sedang berada di Jakarta mengatakan, pihak kampus saat ini masih memeriksa kebenaran kabar itu. "Kami, diwakili Wakil Dekan 3 FE, saat ini masih memeriksa kebenarannya," pungkasnya. Sementara itu, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Prof. Mudjia Rahardjo mengutuk keras peristiwa pembuangan mayat bayi tersebut. “Peristiwa ini tidak boleh terjadi lagi. Orangtua juga tetap perlu memberikan kontrol kepada putra putri mereka, jangan hanya menyerahkan total ke kampus,” tegasnya.(sin/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :