Korban Tewas Dihajar Lalu Dinjak-injak



MALANG - Rekonstruksi pengeroyokan tiga korban anak di bawah umur yang menyebabkan meninggalnya Andik Rahmad, 17, warga Desa Sumbermanjing Wetan digelar Unit Reskrim Polres Malang kemarin sore. Sedikitnya 15 adegan pengeroyokan diperagakan sembilan tersangka.  Korban diduga tewas setelah dihajar sampai jatuh kemudian diinjak-injak para tersangka.

“Rekonstruksi yang telah kita lakukan sudah mendapatkan persetujuan dari penasehat hukum Ilham S.H, M.Hum. Pengalihan rekontruksi kejadian tidak dilakukan di Desa Sumberagung maupun Desa Harjokuncaran Kecamatan Sumbermanjing Wetan karena pertimbangan keselamatan para tersangka,” ujar Kanit V PPA Polres Malang, Iptu Sutiyo S.H, M.Hum kepada Malang Post.
Seperti diberitakan sebelumnya, pengeroyokan anak dibawah umur terjadi Senin (26/6/2017) lalu.  Korban tewas adalah Andik Rahmad, warga Dusun Mulyosari Desa Harjokuncaran Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Sedangkan teman korban, Fathur Rosi, 17 dan Firman, 13, menderita luka-luka.

”Pengeroyokan terjadi karena salah paham antara korban dengan para pelaku. Pada saat korban berkunjung ke rumah temannya,salah satu korban melempar puntung rokok. Karena tidak terima, kemudian dari pihak para tersangka tersinggung. Esok harinya mereka mendatangi korban untuk menanyakan siapa yang melempar rokok,” terang Sutiyo.
Dalam rekonstruksi kemarin terungkap, sebenarnya korban sempat minta maaf, namun tidak digubris oleh para tersangka. Sehingga terjadilah tindak penganiyayaan terhadap ketiga korban. Sedangkan ketujuh teman korban lainnya melarikan diri karena ketakutan. ‘’Aktor intelektualnya JD,’’ ungkapnya.
Dari kejadian pengeroyokan tersebut, polisi menangkap sembilan orang pelaku. Mereka masing-masing, Amirudin, 17, Surahman, 17,  JV, 15, JN, 16, AFR, 15, HY, 14, SA, 17, WAS, 17 serta Mustofa, 20. Semuanya merupakan warga Desa Sumberagung Kecamatan Sumbermanjing Wetan yang ditangkap di rumahnya masing-masing.
Para tersangka akan dijerat Pasal 80 ayat 3 UU 35 tahun 2014 tentang penganiayaan anak yang menyebabkan meninggal dunia, atas perubahan UU 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Ancaman hukumannya minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara.(mg20/lim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :