magista scarpe da calcio Dulu Korban, Sekarang Suka Sesama Jenis


Dulu Korban, Sekarang Suka Sesama Jenis


MALANG - Pedofil alias predator anak nampaknya sudah ada sejak lama di Kota Malang. Tidak hanya di kawasan Kampung Celaket saja, 2015-2016 lalu, kejadian ini setidaknya dialami 9 anak di kawasan Cengger Ayam dekat Puskesmas Kendalsari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Mereka menjadi korban.
Hal ini diakui oleh narasumber Malang Post yang tidak ingin disebutkan identitasnya. Saat ditemui Malang Post Rabu (22/11), perempuan yang berprofesi di bidang kesehatan ini menceritakan kasus pelecehan seksual yang ia ketahui pernah terjadi dengan korban anak-anak.
“Waktu itu sekitar tahun 2015 – 2016 an. Salah seorang korban anak laki-laki usia SD datang pada kami. Dia menceritakan ada laki-laki yang memperlihatkan alat kelaminnya. Laki-laki tersebut tukang bakso,” ungkapnya.
Anak itu mendatangi tempat kerjanya didampingi orang tuanya dan menceritakan kejadian tersebut. Saat ditanya lebih dalam, anak laki-laki ini menceritakan tidak hanya dia saja yang melihat kejadian tidak enak. Ada delapan teman-temannya yang juga mengalami hal sama. Beberapa dari mereka ada yang diajak tukan bakso ini ke sebuah rumah, yang diyakini sebagai tempat tinggal predator anak tersebut.
“Si anak tidak menceritakan detail apa yang dilakukan si tukang bakso ini pada teman-temannya saat diajak oleh si tukang bakso masuk ke dalam sebuah rumah,” tambahnya.
Namun ia menduga, hal yang lebih jauh dilakukan si predator kepada anak-anak malang tersebut. Setelah mendapatkan laporan ini, pihaknya kemudian melakukan intervensi dengan menerjunkan tim untuk melakukan pengamatan dan tindak lanjut.
Sayangnya, ia melanjutkan, predator anak tersebut tidak lagi ditemukan. Saat pihaknya melakukan tindak lanjut pada anak-anak korban lainnya, pihak keluarga tidak terbuka sepenuhnya. Sehingga kasus ini menguap begitu saja.
“Saat dicari, tukang baksonya sudah pindah entah kemana,” papar perempuan berjilbab ini.
Ia mengatakan, rasa malu menjadi hambatan besar bagi kasus ini untuk dapat diatasi secara tuntas. Kebanyakan keluarga korban malu dan menganggap peristiwa itu sebagai aib serta tidak ingin tersebar. Pasalnya beberapa kasus yang juga pernah diketahuinya, dilakukan oleh anggota keluarga sendiri.
Sehingga, keluarga korban enggan membawa kasus ini lebih jauh sampai ke meja hukum. Selain malu, pelaku merupakan anggota keluarga sendiri sehingga diselesaikan dengan cara keluarga sendiri.
“Sebenarnya yang penting bukan soal penyelesaian kasus. Tetapi bagaimana kejadian tersebut memberikan efek besar pada korban yang menyebabkan korban akhirnya menjadi pelaku pedofil di kemudian hari. Pola seperti lingkaran setan ini tidak akan habis,” tegasnya.
Perempuan ini juga menceritakan hal miris lainnya berkaitan dengan pelecehan seksual dengan korban anak-anak.  Ia yang sering memberikan penyuluhan soal isu perkembangan anak ini kerap mendapatkan pertanyaan dan pengakuan dari beberapa pesertanya sendiri, bahwa mereka pernah mengetahui kejadian-kejadian pelecehan seksual pada anak tetapi tidak melaporkan.
“Lha habis kasih penyuluhan banyak yang datang ke saya dan bilang kalau mereka pernah tahu bahwa keponakan mereka, atau anak tetangga mereka pernah mengalami hal yang sama. Baik dilecehkan atau ditemui predator anak,” terangnya.
Ia mengatakan, Kota Malang tidak sekondusif apa yang dikatakan dalam jargon “Kota Layak Anak”. Predator anak ada di sekitar masyarakat sendiri dan tidak disadari oleh banyak orang.  Salah satu pengalaman lain mengenai hal ini, ia menceritakan beberapa tahun silam saat mengurusi kasus-kasus HIV. Saat itu dirinya memeriksa pemuda dengan masih berseragam PNS untuk mengetahui apakah dirinya positif HIV atau tidak.
“Ternyata dia memiliki kelainan seks sebagai penyuka sesama jenis. Waktu itu saya belum begitu sadar dengan kasus-kasus pedofilia,” jelasnya.

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top