Periksa Saksi Eks Pemilik Lahan STSA


 
MALANG - Hakim PN Malang mendatangkan eks pemilik tanah yang dibeli PT STSA, dalam sidang lanjutan dugaan penggelapan Nanik Indrawati 53 tahun warga PBI Blimbing, Rabu sore lalu.  Lima saksi, yaitu Hasanah, Jainuri menantu pemilik lahan yang menjadi objek kasus.
Lalu  Alfarizi cucu pihak pemilik tanah serta Saiman dan Risa Dwi Rahayu perantara jual beli lahan. Kepada hakim Isnurul Syamsul Arif SH MHum dan JPU Suhartono SH, saksi Jainuri menyebut dia menerima Rp 2,7 miliar dipotong pajak Rp 140 juta, dari penjualan lahan objek kasus. 
“Pak Saiman memberi tanda jadi sejumlah Rp 500 juta, lalu sisanya ditransfer rekening ke Alfarizi. Total terima Rp 2,7 miliar,” kata Jainuri di hadapan hakim.
Dari keterangan saksi pemilik lahan, Gunadi Handoko SH, penasehat hukum Nanik menegaskan Saiman bukan perantara saja, tapi juga pembeli lahan. Saiman membeli lahan seharga Rp 225.000 per meter. Saiman membeli lahan dengan cara bertahap pada November Rp 500 juta, Desember 2014 Rp 500 juta serta Januari 2015 Rp 112,5 juta.
“Dalam kurun waktu tiga bulan, Saiman telah bayar Rp 1,125 miliar. Pada 9 Maret 2015, Saiman menjual tanah itu kepada PT STSA. Lha terus di sini mana tindak pidananya,” papar Gunadi kepada wartawan. 
Dia menyebut uang Rp 2 miliar yang dituduhkan digelapkan kepada kliennya, adalah uang pengganti Saiman, serta pembayaran utang Rp 850 juta dari Elang kepada Saiman. Sehingga, Gunadi menyebut uang Rp 2 miliar yang ditransfer ke rekening Risa, anak dari Saiman adalah uang Saiman. 
Yaitu, uang dari kantong Saiman yang digunakan sebagai panjar tanah serta utang almarhum Elang.
“Saiman dalam persidangan, menyebut tidak pernah memberikan uang kepada Nanik,”  tandas Gunadi.
Sementara, Direktur PT STSA, Adji Prajitno menegaskan keterangan para saksi, mengungkap penyimpangan akuntansi yang dilakukan oleh Nanik. Adji menganggap Nanik mengeluarkan uang perusahaan dengan cara yang salah dan tidak pada proporsi yang tepat. 
Menurut Adji, uang untuk membayar tanah, tidak seharusnya dipakai untuk membayar utang.
“Apa hubungannya PT STSA dengan utang Rp 850 juta saudara Elang kepada Saiman. Utang kan urusan pribadi, bukan urusan perusahaan,” katanya. 
“Uang PT STA tidak keluar untuk kepentingan pembelian lahan. Ini yang menguatkan bahwa uang dikeluarkan tidak pada tempatnya,” sambung Adji, yang kembali menegaskan Nanik adalah ketua tim pembebasan lahan perum Citra Garden City di Buring.
Adji juga menyebut, Nanik mengajukan uang Rp 4,7 miliar untuk membebaskan lahan sekaligus membayar pajak. Rp 2,7 miliar, disetorkan kepada petani, sedangkan Rp 2 miliar disetor kepada Risa, rekening putri Saiman makelar tanah objek kasus dugaan penggelapan ini. Suhartono, JPU Kejari Malang, menyebut fakta pembayaran Rp 2,7 miliar kepada petani.
“Terdakwa mengajukan Rp 4,7 miliar, tapi cuma membayar Rp 2,7 miliar. Sisanya Rp 2 miliar malah ditransfer ke Risa, dengan alasan bayar utang saudara Elang kepada Saiman. Ini yang salah. Tidak bisa seperti itu,” tambah Suhartono. (fin/mar/jon)

Berita Lainnya :

loading...