Polisi Awasi SD, Imbau Ortu Jemput Anak

 
MALANG – Kepolisian masih menyelidiki dugaan adanya pelaku pedofilia yang berkeliaran di Kelurahan Rampal Celaket. Setelah menurunkan petugas Bhabinkamtibmas Klojen untuk mendatangi keluarga korban pedofilia di Celaket, penyidik kepolisian masih mengumpulkan petunjuk sebagai dasar mengejar keberadaan pelaku.
“Penyelidikan masih berlanjut. Petugas sudah turun ke lapangan untuk mencari dan mengumpulkan petunjuk serta keterangan,” terang Kasubbag Humas Polres Makota, Ipda Ni Made Seruni Marhaeni kepada Malang Post di mako Polres Makota Jalan JA Suprapto, kemarin.
Selain menurunkan penyidik lapangan untuk memburu petunjuk, polisi juga menggiatkan patroli di kawasan Celaket Klojen. Terutama, jalanan sepi yang dekat dengan sekolah-sekolah dasar di Kelurahan Rampal Celaket. Polisi memetakan titik-titik penting yang berpotensi menjadi daerah operasi dari predator pedofilia.
Beberapa sekolah yang dipantau antara lain, SDK Cor Jesu Jalan JA Suprapto yang berada di belakang SMPK-SMAK Corjesu. Lalu, SDN Rampal Celaket 1 di Jalan Tretes Selatan 26 serta sekolah-sekolah dasar yang bertetangga dengan kelurahan Rampal Celaket. Misalnya saja, SDN Lowokwaru 3 di Jalan Sarangan dan SDN Lowokwaru 2 di Jalan Tretes.
Dari pantauan Malang Post, petugas Bhabinkamtibmas Klojen, tampak lalu lalang di sekitar SD di Jalan Kaliurang pada jam pulang sekolah kemarin. Selain memantau lokasi potensial yang menjadi area perburuan mangsa predator anak, polisi juga meminta para orangtua, untuk tidak membiarkan anak-anaknya pulang sendirian.
“Jika dimungkinkan, maka sebaiknya anak dijemput oleh orangtua sepulang sekolah. Kalaupun tidak bisa jemput, sebaiknya dititipkan ke wali murid yang juga menjemput anak untuk diantar pulang. Andai terpaksa pulang jalan kaki, jangan sampai pulang sendirian,” tambah perwira dengan satu balok emas di pundaknya ini.
Peristiwa yang menimpa korban di Rampal Celaket, tidak lepas dari kesempatan dan celah yang dimasuki oleh predator anak. Saat sang anak lepas dari pengawasan orangtua dan berada  di jalan sendirian, saat itu juga predator anak langsung menancapkan taring buasnya untuk memangsa bocah-bocah.
“Kita mendorong masyarakat, untuk melakukan langkah antisipasi. Sehingga pelaku tidak memiliki kesempatan untuk menyakiti putra-putri kita,” ungkap Heni. 
Sementara itu, terkait kelanjutan kasus bapak memangsa anak kandung di Bandulan, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak tengah menjalankan penyidikan lanjutan. Polisi melengkapi berkas perkara yang dipersiapkan untuk menjerat Rosyid, 35 tahun, pria yang menyetubuhi putrinya sendiri selama empat tahun terakhir.
Penyidik telah memeriksa setidaknya empat orang. Yakni, korban Debora (bukan nama sebenarnya) 14 tahun, bibi dan ibu korban, serta pelaku yang kini menjadi tersangka.
“Khusus untuk wawancara kepada korban, dilakukan oleh psikolog wanita yang bekerjasama dengan PPA. Pertemuannya pun empat mata dan dilakukan di rumahnya di Bandulan. Kita tidak mau korban semakin trauma, dan malah tidak mau cerita bila didatangi polisi-polisi berseragam,” kata Heni.
Apabila berkas pemeriksaan sudah lengkap dan P-21, Rosyid akan diserahkan kepada Kejaksaan Negeri Malang untuk didakwa di Pengadilan Negeri Malang. Rosyid, buruh serabutan, didakwa pasal 81 UU Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun.

Berita Lainnya :

loading...