Korban Predator Anak , Peristiwa Februari Trauma Sampai Sekarang


MALANG - Predator anak bisa mencari mangsa di mana saja. Sebelum heboh di kawasan Kampung Celaket, kasus pelecehan seksual sempat terjadi di kawasan Madyopuro Kecamatan Kendungkandang Kota Malang.
Berdasarkan catatan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Malang, kejadian ini menimpa sekitar empat anak kecil di kawasan tersebut. Hal ini disampaikan salah satu koordinator LPA Kota Malang, Yuni Kartika Sari kepada Malang Post. Ia menceritakan, kejadian tidak mengenakkan ini ditangani pihaknya awal 2017 ini, sekitar Februari dan Maret.
“Anak perempuan umurnya 5 tahun pada saat itu. Dicabuli tukang becak langganannya sendiri,” cerita perempuan yang akrab disapa Yuyun ini kepada Malang Post, Jumat (24/11).
Ia menceritakan, kejadian tersebut bahkan terjadi di rumah korban sendiri. Pelaku yang merupakan tukang becak langganan, melakukan aksi bejat itu seusai mengantar anak malang ini ke kediamannya. Pelaku berusia di atas 50 tahun ini mengajak si anak masuk ke dalam rumah dan berbuat cabul.  “Saat itu di rumah ada bapaknya, tapi sedang tidur jadi tidak tahu. Si anak sempat dicabuli dan bagian kemaluannya sedikit robek,” papar Yuyun.
Setelah mengetahui si anak mulai merintih kesakitan, lanjut Yuyun, pelaku berhenti dan pergi dari rumah. Anak perempuan itu, karena tidak bisa menahan sakit kemudian bercerita kepada ibunya beberapa jam kemudian.
Segera setelah mengetahui hal ini, keluarga korban lalu melaporkan peristiwa itu kepada kepolisian setempat. Beruntung, tidak lama kemudian si pelaku dapat diciduk. “Saat ini sedang proses hukum di pengadilan,” tandas Yuyun.
Mirisnya lagi, menurut pengakuan dari hasil pemeriksaan pelaku, Yuyun mengetahui tidak hanya anak perempuan itu saja yang dicabuli. Terdapat tiga anak lain yang diperkirakan diperlakukan sama oleh pelaku. Meski begitu, Yuyun dan tim LPA Kota Malang sedikit kesulitan mencari siapa saja anak-anak yang menjadi korban. Karena sebagian besar keluarga korban tidak ada yang melapor dan menceritakan secara gamblang apa yang terjadi.
“Pelaku ini kan tukang becak. Dia sering mangkal di sekolah-sekolah. Korbannya nggak mungkin cuma satu anak saja. Tapi banyak yang tidak ingin ngomong,” papar Yuyun.
Meski pelaku sudah ditangkap dan diproses secara hukum, LPA Kota Malang tidak dapat berhenti sampai di situ saja. Bimbingan dan pembinaan pada anak yang menjadi korban merupakan bagian tersulit.
Ia menceritakan, anak perempuang korban predator berkedok tukang becak, sampai berita ini diturunkan, masih terpengaruh peristiwa itu.  “Anaknya jarang-jarang mau sekolah. Trauma,” ungkap Yuyun.
Pihaknya pun melakukan pembinaan dan konseling secara intens pada anak tersebut. Beruntung, lanjut Yuyun, anak tersebut mendapatkan donatur yang siap membiayai seluruh biaya pendidikan sampai kuliah nanti.
Ia menyampaikan, kejadian seperti ini tetap terjadi dan tidak akan berhenti jika seluruh elemen masyarakat tidak bekerjasama dengan sinergi. Pengawasan menjadi hal penting untuk ditingkatkan jika tidak mau hal ini terjadi terus menerus.
 “Mulai dari pengawasan yang dilakukan orang tua, perangkat RT RW, sampai kelurahan, kecamatan dan pemerintah harus bekerja bareng untuk mengawasi di kapasitasnya masing-masing,” tegasnya. (ica/han)

Berita Lainnya :