Mencari Pacar ND yang Misterius

 
MALANG – Identitas pacar ND (20) mahasiswi akuntansi UIN Maliki Malang sedikit demi sedikit terkuak. Diduga, sosok misterius itu adalah AH Zaki Amali, pemuda asal pulau Madura yang kuliah di jurusan Kimia UIN Maliki Malang semester 4. Identitas Zaki, dipastikan oleh masyarakat serta penghuni kos Jalan Kertorejo 2 Ketawanggede. Nuraini Miftahul (22), mahasiswi semester 8 UIN, saat ditunjukkan foto Facebook dari akun AH Zaki Amali, membenarkan identitasnya. “Benar, itu yang namanya Zaki,” ujar Mifta, sapaan akrabnya kepada Malang Post sore kemarin. 
Saat ditegaskan lagi, Mifta tetap yakin bahwa pria ini memang bernama Zaki. Pasalnya, Mifta sering melihat Zaki menjemput ND di Kertorejo. Dalam salah satu foto, Zaki memakai motor Vario warna hitam putih bernopol M 5903 BR. Mifta juga tidak menyangkal bahwa dia pernah melihat pria ini memakai motor tersebut untuk mendatangi ND di Kertorejo.
“Kadang pakai motor itu, kadang pakai yang lain,” jelasnya. Hal senada juga diungkapkan oleh Meisy Fajarani (19) mahasiswi semester 4 UIN, yang juga penghuni kos Jalan Kertorejo 2. Meisy tinggal tepat di sebelah kamar ND. Sehingga, perempuan muda asal Jakarta ini tahu bahwa pacar dari ND adalah mahasiswa bernama Zaki.
“Saya tinggal tepat di sebelah ND. Benar, pacarnya bernama Zaki,” ujar Meisy, yang juga ditunjukkan foto pria pemilik akun AH Zaki Amali. Zaki, dalam register mahasiswa UIN Maliki, merupakan bagian dari jurusan Kimia angkatan 2015. Dia memulai hubungan dengan ND dua tahun lalu, saat keduanya masih mahasiswa baru.
Pertemuan antara Zaki dan ND, terjadi di kampus UIN. Dua tahun berpacaran, hubungan antara Zaki dan ND mengalami pasang surut. Pada awal pacaran, Zaki mengaku sebagai teman di hadapan orangtua ND di Madiun. Namun, setelah menjalani hubungan beberapa waktu, keduanya memberanikan diri untuk memproklamirkan hubungan kepada orangtua ND.
Kenyataan memang tak seindah fantasi. Hubungan anak muda yang sedang kasmaran ini, ternyata tak direstui. 
Seperti penuturan Ketua RT 04 RW 03 Ketawanggede, Achadun (46) yang sempat bertemu dengan orangtua ND, mereka tidak setuju dengan Zaki dan bahkan sempat memaksa keduanya bersumpah untuk kembali menjadi teman saja. Keduanya, sama-sama tidak mau pisah.
Akhirnya, keduanya menyentuh area di luar batas moral dan memunculkan benih nyawa di rahim ND. Namun, ketika ND berbadan dua, Zaki tidak mau bertanggungjawab. “Zaki tidak mengakui bayi di kandungan ND,” kata Meisy.
Meisy mendapatkan informasi tersebut melalui temannya yang juga berteman dengan Zaki. Ya, pasca hebohnya penemuan mayat bayi di depan kamar mandi kos itu, drama ND ini pun menjadi perbincangan civitas akademika UIN Maliki Malang. “Ya, info itu sekadar omongan dari teman ke teman. Kebenarannya saya tidak tahu bagaimana,” ujarnya.  
Terbaru, setelah berita soal bayi ND meledak dan sampai masuk RSSA Malang, Zaki menghilang dari lokasi KKN di daerah Kabupaten Malang. Kasatreskrim Polres Makota, AKP Heru Dwi menyebut personel Reskrim masih memburu pacar dari ND. Namun, saat dikonfirmasi soal identitas pria yang menghamili ND, Heru enggan menyebut nama.
“Kita masih mencari pacarnya. Identitas sudah kami kantongi. Tapi saya belum bisa omongkan,” kata Heru kepada Malang Post, dikonfirmasi di Polres Makota, kemarin. Heru menyebut bahwa pacar ND dicari sebagai saksi. Pasalnya, Reskrim Polres Makota juga perlu memeriksa sang pacar sebagai bagian dari kelengkapan Berita Acara Perkara (BAP).
“Pacarnya kita cari untuk diperiksa sebagai saksi. Belum tentu bersalah. Belum tentu juga pacarnya terlibat,” kata Heru. Sementara itu, disinggung soal perbedaan kronologi antara kesaksian ND dan BAP polisi, Heru tetap teguh pada hasil pemeriksaan PPA Polres Makota.
Kepada narasumber Malang Post, ND mengatakan dia tidak berniat membunuh bayinya. Jabang bayi yang diberi nama Putri Anjani itu, mati setelah ND memotong sendiri tali pusar setelah melahirkan sendirian di kamar mandi. Namun versi polisi, ND membekap bayi yang baru lahir karena takut tangisannya membuat orang curiga. “Nggak, ND membekap bayinya. Karena saat bayinya lahir dan menangis, dia membekap bayinya,” kata Heru.
Untuk membuktikan mana kesaksian yang benar, Reskrim Polres Makota sedang menanti hasil otopsi bayi tersebut. Hasil otopsi ini juga yang akan membuktikan kebenaran kesaksian ND. “Kita tunggu otopsi untuk mencari penyebab kematian korban,” tambah Heru. ND sendiri, saat ini terancam pasal 80 UU Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun.
Malang Post ikut mencari dan menelusuri pacar ND sejak kasus penemuan mayat bayi itu terkuak. Namun, baik ND dan Zaki termasuk pasangan yang tidak terlalu mengumbar hubungan di media sosial. Aktivitas akun Facebook keduanya juga tak banyak yang saling membuat tautan foto, komen ataupun status. 
Zaki hanya memberikan komentar singkat di foto profile yang diunggah ND pada 29 Mei lalu. Sementara, dari penelurusan Malang Post, ND sama sekali tak meninggalkan jejak di wall akun Zaki. Dikabarkan sempat menghilang, menurut informasi yang diperoleh Malang Post, polisi sudah menemukan Zaki dan memeriksa yang bersangkutan sejak Rabu malam (13/7/17). Hingga kemarin sore, menurut sumber Malang Post dari sebuah LSM, mahasiswa semester 4 ini masih dalam interogasi pihak kepolisian. Namun, baik Polres Makota maupun Polsek Lowokwaru, membantah adanya penangkapan terhadap Zaki. 
Rabu (13/7) malam, Malang Post mencoba mem-follow akun Zaki yang dikunci. Permintaan itu diterima sekitar pukul 23.00, namun ketika Malang Post mengirimkan pesan, tidak ada balasan hingga sekarang. 
“Saya dapat info dari kepolisian dia (Zaki) sudah ditangkap dan sedang diinterogasi. Selebihnya, nanti akan segera saya kabari lagi, saling kontak, ya,” tukas salah satu anggota legal hukum LSM yang tidak ingin disebutkan namanya. 
Secara terpisah, Direktur Women Crisis Center (WCC) Sri Wahyuningsi ikut angkat bicara terkait kasus ini. Bagi dia, ND merupakan korban yang harus didampingi. Menurutnya, ada beberapa faktor mengapa ND melakukan hal tersebut. Ia menduga, terjadi sebuah tekanan psikologis yang membuat ND merasa tertekan, takut, malu dan bingung dalam menghadapi kehamilan di luar nikah. 
“Dalam kondisi di bawah tekanan psikis, membuat orang yang merasa terdesak akhirnya berbuat sesuatu di luar akal sehat,” papar dia kepada Malang Post.
Dalam kasus tersebut, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya pendekatan kepada ND. Namun, kepada WCC, ND masih bungkam. “ND harus bantu kami untuk berkata jujur dan buka suara siapa pacarnya dan apa yang terjadi. Selain itu, biar dia juga bisa merasa lega. WCC siap mendampingi kasus ini sampai tuntas,” tegas wanita yang akrab disapa Wahyu ini.
Berdasarkan dari pengakuan ND tersebut, bisa menjadi petunjuk para penegak hukum yang kemudian dapat dilakukan tes DNA. “Sesuai pengakuan korban, bisa dilakukan tes DNA sebagai alat bukti untuk membenarkan bahwa memang benar dialah ayah sang bayi. Hal ini sudah diatur oleh KUHAP dan bisa dituntut,” lanjut dia.
Seperti diberitakan Malang Post sebelumnya, Zaki sempat meminta ND untuk menggugurkan kandungannya. Namun, ND menolak dan bersikeras ingin terus mempertahankan janin yang ada dalam kandungannya tersebut. Dalam hal ini, menurut Wahyu, ZA bisa dijerat pasal 55 KUHP. “Menurut pasal tersebut, ia dianggap ikut andil untuk turut melakukan perbuatan itu,” imbuh dia.
Wahyu juga berharap agar aparat penegak hukum sebagai bagian dari pemerintah bisa mengungkap kasus ini hingga tuntas. “Saya berharap ada keadilan. Selain itu saya juga memastikan pemerintah bisa bekerja secara efektif dan terbuka. Hal ini semoga bisa memberikan dampak jera kepada pelaku dan juga bisa memberikan pelajaran bagi seluruh masyarakat agar tidak terjadi lagi hal serupa,” tandas dia.(fin/mg16/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :