Polres Gagalkan Perdagangan 17 Ekor Satwa Liar

  
MALANG - Polres Malang bersama Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Timur, mengamankan 17 ekor satwa liar yang dilindungi dari dua warga asal Desa Pakisjajar, Kecamatan Pakis, pagi kemarin. Satwa liar tersebut akan diperjualbelikan secara online. 
15 ekor adalah jenis elang, seekor burung hantu serta seekor ular Phyton Reticulatus Calico. "Semua hewan yang kami amankan sebagai barang bukti ini, merupakan satwa liar yang dilindungi," ungkap Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung.
Penangkapan satwa liar tersebut, berawal dari informasi adanya jual beli satwa liar yang dilindungi secara online. Dari situ polisi bersama Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Timur, langsung melakukan penyelidikan. Setelah dicek lokasi memang benar adanya, petugas lantas menangkap dua orang penjualnya serta mengamankan 17 ekor satwa liar sebagai barang bukti.
Kedua penjual satwa liar tersebut adalah Ach Dendik Saputra, warga Perum Pakisjajar Kecamatan Pakis serta Adi, warga Desa Pakisjajar. Mereka ditangkap di rumahnya masing-masing dengan barang bukti yang berbeda. 
Dari tangan Adi, petugas mengamankan 4 ekor Elang Brontok, 2 ekor anakan Elang Brontok, satu Elang Jawa, satu Elang Alap Tikus, satu burung hantu dan seekor ular Phyton. Sedangkan dari Dendik, diamankan 2 ekor Elang Jawa, 2 ekor Elang Brontok serta 3 ekor Elang Hitam.
"Untuk semua satwa liar ini, akan kami serahkan ke Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Timur, karena mereka ahlinya untuk merawat dan mengamankan. Apakah nantinya akan dilepas di alam bebas itu dari teman-teman BPPH-LHK," jelas Ujung.
Sedangkan untuk dua pelakunya akan tetap diproses hukum. Mereka dijerat dengan Undang-Undang nomor 5 tahun 1990, tentang konservasi sumber daya alam, Hayati dan lingkungan. Ancaman hukumannya kurungan penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta.
Dari pemeriksaan sementara, keduanya mengaku mendapat satwa liar tersebut dari Garut. Satwa liar itu dikirim lewat jalur darat.  Pengakuannya satu ekor dibeli dengan harga Rp 1,5 juta.
"Kalau harga segitu tidak mungkin. Makanya kami masih akan dalami lagi kasusnya. Apalagi mereka juga sudah beroperasi sejak empat bulan lalu," tuturnya.
Kanit Operasi Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Timur, Kuwat Gunawan mengatakan untuk satwa liar tersebut akan dititipkan di lembaga konservasi untuk dirawat. Kemudian ketika kondisi hewan tersebut sudah sehat akan langsung dilepas di alam bebas.
"Aktivitas jual-beli satwa liar itu, sudah lama kami pantau. Mereka kami tangkap di rumahnya tadi pagi (kemarin, red) pukul 06.30," ujar Kuwat Gunawan.
Dikatakannya, transaksi penjualan kedua tersangka sangat rapi. Mereka menjual lewat online dan pengiriman menggunakan jasa ojek atau ekspedisi. Pengemasannya burung dimasukkan ke dalam kardus, dengan tubuh burung dibungkus kain handuk dan kepala ditutup sehingga burung tidak sampai berontak. "Semua satwa liar itu tergolong mahal dan sangat langka. Sehingga tidak mungkin jika membeli dan menjualnya murah," paparnya.(agp/lim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :