Hakim Periksa Saksi Bank Permata Solo

 
MALANG – Sidang lanjutan kasus dugaan penipuan penggelapan Timotius Tonny Hendrawan alias Apeng 53 tahun, hanya bisa memeriksa dua saksi, Senin Sore (27/11). Hakim PN Malang, Rightmen MS Situmorang pemimpin sidang, menanyai Setyaningrum mantan pegawai Bank Permata Solo, serta Tantri, pegawai aktif Bank Permata, tempat Apeng meminjam uang pada 2009 lalu.
Dalam keterangannya di bawah sumpah kepada hakim, Tantri, tak pernah diperiksa untuk Berita Acara Pemeriksaan Apeng pada tahun 2016. Selain itu, Setyaningrum juga mengaku tidak pernah diperiksa penyidik pada 2016, karena dia sudah resign atau berhenti dari Bank Permata pada tahun 2012.
Kuasa hukum Apeng, Sumardhan SH dari kantor advokat Edan Law, menegaskan bahwa kliennya sudah dijerat dengan BAP palsu. 
“Saksi dari Bank Permata, Setyaningrum maupun Tantri mengaku tidak pernah di-BAP kepolisian Polda Jatim maupun didatangi penyidik di rumahnya tahun 2016. Tapi, dalam BAP, keduanya disebut pernah diperiksa penyidik Polda,” kata Mardhan, sapaan akrabnya kepada wartawan usai persidangan.
Karena itu, Mardhan menuding ada manipulasi dokumen BAP pada tahun 2016 yang dipakai untuk menjerat kliennya. Meski demikian, sidang pemeriksaan saksi diskorsing pada sore hari pukul 17.00 WIB kemarin. Hakim Rightmen memutuskan untuk melanjutkan pemeriksaan saksi pada Senin depan.
Dalam persidangan kemarin, saksi yang hadir antara lain Dewi, istri dari Chandra Hermanto pelapor kasus Apeng. Lalu, Vavan, adik dari Chandra, Tantri pegawai Bank Permata, Setyaningrum mantan pegawai Bank Permata, Fitri mantan karyawan Chandra, Sumardhan SH serta istri Apeng.
Chandra Hermanto sebagai pelapor, tampak menghadiri persidangan adik iparnya. Menurut Mardhan, demi mematuhi undang-undang, hakim Rightmen menolak kuasa hukum Apeng Sumardhan SH dan istri Apeng, Irma Sagita, sebagai saksi. Sidang sore kemarin, hanya memeriksa Tantri dan Setyaningrum. 
Terkait tawaran damai dari hakim Rightmen, Mardhan menegaskan itu adalah solusi terbaik dari hakim.
“Solusi majelis hakim sangat bijak dan mulia, serta tak berdampak pada kekeluargaan dari saudara Apeng maupun Chandra. Tapi, kalau di akhir proses persidangan belum ada itikad baik berdamai kami akan minta hakim memerintahkan penahanan terhadap saudara Chandra karena memberi keterangan palsu dalam persidangan sebelumnya,” kata Mardhan.
Sementara itu, Apeng membantah tuduhan bahwa dia sering ingkar janji.
“Tiga kali, Chandra ingkar janji. Kalau dia tidak mencabut kesepakatan damai dulu, tentu tak ada masalah sekarang. Kalau dia beritahu Apeng bahwa aset Solo dijual Rp 23 miliar, saya rasa hakim tak akan melanjutkan perkara ini,” tutur Apeng.(fin/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :