Bocah 9 Tahun Meninggal, Ibunya Luka-luka

 
MALANG - Hana Syahrezy, bocah 9 tahun harus berpisah dengan bundanya, Dwi Reziana Isnaeni walau sama-sama menjadi penumpang bus maut Medali Mas. Seragam olahraga SDN Jatimulyo 3 menjadi identitas yang menandakan jasad  siswi kelas 2 SD tersebut setelah sebelumnya sempat dinyatakan korban Mrs X. 
Saat berada dalam bus dalam perjalanan dari Bali, Hana duduk sedert dengan Dwi Reziana Isnaeni. Namun Kiki, sapaan akrab Dwi Reziana Isnaeni yang tinggal di Jalan Bunga Kumis Kucing, Kelurahan Jatimulyo, Lowokwaru  mengalami luka di kepala dan beberapa bagian tubuh lainnya.
“Tadinya tidak diketahui identitasnya, karena Kiki (ibunya) sempat pingsan,’’ kata Sri Amini nenek korban. Sri Amini sendiri tidak mengetahui jelas kondisi cucu ponakannya itu, lantaran saat jenazah datang sudah dikafani dan siap dimakamkan. Oleh karenanya begitu jenazah datang pukul 13.00  WIB kemarin, oleh keluarga korban langsung disalatkan di musala, selanjutnya dimakamkan di TPU Srigading. “Saya tidak tega mau membuka,” ucap Sri Amini. 
Sri Amini menceritakan, awalnya Hana ke Bali karena ibunya ingin dia pindah sekolah di sana. Gadis kecil ini berangkat ke Bali seminggu sebelum Lebaran. Ya, Kiki menurut Sri Amini menginginkan Hana pindah sekolah, karena dia ingin mengurusnya. 
“Orang tua Hana ini sudah bercerai. Kiki (ibunya) menikah lagi dan tinggal di Bali. Awalnya Hana tinggal dengan orang tua serta kakak dan adik Kiki, yaitu Yudha dan Rama. Namun Mei lalu kedua orang tua Kiki meninggal dunia. Sehingga Hana hanya tinggal dengan kakak serta adik Kiki yang semuanya laki-laki,’’ tambah Sri. 
Dia mengatakan, setelah kakek dan neneknya yang merawat meninggal, Hana juga kerap bersamanya. Bahkan, setiap hari dialah yang memasak untuk Hana. “Kalau dibilang dekat, ya dekat sekali. Dia itu cucu saya, dia menurut dan baik, tidak pernah membantah,’’ kata Sri.
Kondisi inilah yang kemudian membuat Kiki berkeinginan untuk  merawat Hana. Dia mau Hana yang penurut itu sekolah di Bali dan tinggal bersamanya. Namun demikian, tidak jelas apa penyebabnya Hana tidak dapat pindah sekolah. 
Ada beberapa persyaratan yang tidak dapat dipenuhi untuk pindah sekolah. Hingga kemudian, Kiki pun memilih untuk mengantarkan Hana kembali ke Malang.  “Tadi malam sempat telepon dengan adiknya, Rama, kalau pulang ke Malang untuk mengantar Hana. Tidak ada firasat apa-apa saat telepon, semuanya baik-baik saja,’’ tambah wanita ini, yang mengatakan saat berangkat Hana sengaja menggunakan seragam olahraga sekolah karena kondisi bus dingin. Dia juga menggunakan jaket dan kaos wana hitam. 
“Kalau katanya Rama tadi, Kiki dan Hana duduk di deretan tengah. Hana berada di sebelah kaca sedangkan ibunya di kanannya,’’ urainya.
Sri tidak pernah menyangka jika cucunya meninggal dengan tragis. Kecelakaan itu membuat Sri sangat kehilangan, gadis kecil ini. “Dia berangkatnya sehat, dia senang ketemu ibunya. Katanya saat di Bali dia juga kerasan,’’ ucapnya. 
Dadang salah satu sepupu Kiki sempat bermimpi aneh. Dalam mimpinya dia melihat Hana sedang diinfus. Namun  demikian, Dadang tidak merasa jika itu firasat. Dia menduga jika mimpi yang datang tersebut sebagai bunga tidur.
Keluarga yang lainnya, yakni Sumarlik juga sempat mimpi aneh sebelum kecelakaan maut ini terjadi. Dalam tidurnya, Sumarlik melihat ada bangunan setengah jadi tiba-tiba roboh. Tembok yang roboh tersebut mengarah ke utara. (ira/van)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :