Belum Divonis Sudah Meninggal


MALANG - Triyanto, 32, warga Dusun Bululawang RT37 RW01 Bululawang, seharusnya menjalani persidangan putusan atas tindak pidana narkoba yang dilakukannya. Namun, malam sebelum divonis hakim PN Kepanjen, dia meninggal di dalam sel blok 1 kamar 7 Lapas Lowokwaru.
Triyanto sempat muntah dan mengorok sebelum meninggal. Diduga kuat, ia mengalami sakit jantung. Kalapas Klas 1 Malang, Krismono menyebut Triyanto memang seharusnya divonis atas perkara pidana narkotika.
“Dia berada di dalam sel, lalu mengalami muntah di kamar kecil. Setelah muntah, dia masih bisa jalan, tapi keringatnya sudah sejagung-jagung,” katanya. Dari keterangan yang dihimpun, perisitwa terjadi sekitar pukul 23.00.
Karupam A, I Nyoman A, SH tengah mendapat giliran jaga malam Senin lalu. Jelang tengah malam, dia mendengar ada teriakan minta tolong dari sel tahanan blok 1 kamar 7. Saat mendatangi sumber suara, Nyoman sudah melihat Triyanto mengorok.
“Dalam kondisi berkeringat, Triyanto bilang bahwa dia mau tidur di sebelah kawan selnya. Namun, setelah terlentang, Triyanto mulai mengorok seperti orang sekarat. Akhirnya kawan sel tahanannya meminta bantuan sipir. Triyanto dibawa ke klinik Lapas,” jelas Krismono.
Namun, karena kondisinya sudah parah, hidup bapak dua anak itu tidak berlangsung lama. Sekitar 15 menit ditangani oleh tim medis, Triyanto yang kasusnya ditangani jaksa Parman SH dari Kejari Kepanjen, langsung menghembuskan napas terakhir.
Krismono menyebut, Triyanto diduga stres karena akan divonis hakim PN Kepanjen . Dia terancam  hukuman penjara 4 tahun enam bulan penjara, serta denda Rp 800 juta karena dituntut melanggar pasal 112 UU RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.
Dia terciduk Satresnarkoba Polres Malang pada 17 Juli 2017 lalu di Bululawang setelah kedapatan membawa satu poket sabu-sabu, tiga plastik bekas bungkus sabu, tiga pipet kaca, dua kompor kecil, satu botol alkohol, 50 klip plastik transparan serta dua handphone. (fin/mar/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :