Siswa SD Tewas Tertimpa Pondasi Sekolah


 
MALANG - Nur Isa Bayu Pamungkas (13 tahun) siswa Kelas 6 SDN Sidodadi 6, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, tewas tertimpa bongkahan pondasi, Rabu (29/11). Ia tengah menikmati jam istirahat pertama pukul 09.10, sekaligus jam istirahat terakhirnya. Petaka ini terjadi ketika bocah ini, asyik bercerita mengenai cita-citanya, ingin menjadi polisi dengan temannya.
Sambil bercerita, ia dan rekan satu kelasnya bernama Abid Abiyu Nadirasan. Bongkahan pondasi yang ia duduki bersama Abid, tiba-tiba tergelincir. Ia jatuh terguling ke lereng dengan kemiringan 45 derajat sejauh empat meter. Bongkahan pondasi juga meluncur ke bawah, lalu menghantam kepala Bayu, sapaan akrab korban.
Lokasi bercengkramanya di belakang sekolah, konturnya lereng dengan kemiringan 45 derajat. Kondisi tanahnya lembek pasca hujan. Sedangkan bongkahan pondasi, berukuran besar dan berat. Ditambahi beban tubuh Nur Isa Bayu Pamungkas, kemudian bergoyang dan tergelincir. Lalu menggelinding ke bawah, menyusul tubuh Bayu.
Pondasi itu bekas bongkaran bangunan sekolah, yang sebenarnya sudah dibuang ke belakang area gedung. Ketika pondasi menggelinding ke bawah, menghantam bagian belakang kepala korban dengan keras. Bungsu dari enam bersaudara itu langsung tak bergerak di tempat kejadian.
"Tadi sedang istirahat dan Bayu cerita ke saya, tentang cita-citanya menjadi polisi. Namun belum selesai bercerita bongkahan pondasi yang saya duduki bersamanya bergoyang. Akibatnya saya juga terjatuh namun berhasil lompat. Sedang Bayu harus jatuh ke bawah," tutur Abid dengan wajah sedih.
Setelah terbangun dari jatuhnya, ia langsung berlari menuju ke bawah tempat Bayu tertimpa bongkahan pondasi. Saat itu, Bayu sudah dalam kondisi tak bergerak. Bongkahan pondasi yang berukuran besar menimpa Bayu di bagian kepala, leher dan badannya. 
"Saya sudah berusaha untuk menyingkirkan bongkahan pondasi, namun karena besar dan tidak kuat saya berteriak minta tolong, kemudian guru-guru memberikan pertolongan termasuk penjual jajan," kenang Abid. 
Ayah korban Salwi Sudarno (66 tahun) dan istrinya Siti Khatimah (44 tahun) sangat terpukul atas kejadian itu. Pasalnya, seminggu sebelum peristiwa, ia sempat memarahi putranya. Sebab, sang putra yang biasa dipanggil Bayu, sering main hingga pulang malam. Rupanya, itu adalah kemarahan terakhir Salwi kepada Bayu. Ia sebenarnya anak yang baik. 
"Sudah mengikhlaskan musibah yang dialami oleh anak saya, tapi jangan sampai terjadi seperti ini lagi. Cukup untuk anak saya, selain itu saya juga berharap ini menjadi pelajaran untuk pendidik agar tidak lebih waspada dengan tempat yang rawan agar tidak dibuat main anak-anak," terang Salwi.
Dengan kejadian yang menimpa anaknya, kewaspadaan di lingkungan sekolah harus ditingkatkan. Seperti dalam menaruh bongkahan pondasi. Seharusnya dibuang jauh dari sekolah. Kata Salwi, pihak sekolah telah memberikan santunan kepada keluarganya, pasca musibah yang tidak diinginkan tersebut. 
"Ibunya sudah membaik, meski siang tadi keadaan masih shock. Karena dukungan dari keluarga, guru dan teman-teman Bayu yang tadi siang mengantar kepergiannya ke makam," tuturnya. 
Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Lawang Iptu Hadi Puspito dalam keterangannya, melihat kejadian itu karena struktur tanah yang lembek. 
"Saat jam istirahat, batu yang didudukinya tidak kuat menahan berat badannya," ujar Iptu Hadi Puspito kepada Malang Post.
Menurut  Iptu Hadi Puspito, korban dievakuasi dan dibawa ke RS Lawang. Kanit Reskrim Polsek Lawang itu juga menegaskan jika hal tersebut bukan kesalahan dari pihak sekolah. Lokasi tewasnya korban merupakan tempat yang tidak selayaknya digunakan bermain saat istirahat sekolah.
"Kejadian nahas tersebut bukan kesalahan dari pihak sekolah, pasalnya bekas bongkahan yang diduduki korban tersebut terletak di bibir tempat buangan sampah. Selain itu cuaca hujan membuat tanah menjadi lembek merupakan salah saru faktornya," pungkasnya.(eri/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :