magista scarpe da calcio Penjaga Rumah Tewas di Tangan Perampok


Penjaga Rumah Tewas di Tangan Perampok

 
MALANG - Perampokan disertai pembunuhan mengguncang warga Jalan Plasemen, Desa Jatikerto, Kromengan, Sabtu (2/12). Seorang penjaga rumah, Togok, 30, tewas bersimbah darah. Ia dihabisi empat perampok yang beraksi di rumah Jio, majikannya.
Korban warga Jalan Raya Kromengan tersebut, ditemukan tergeletak di ruang tengah. Tubuhnya penuh luka sabetan senjata tajam. Tidak hanya di kepala, termasuk perutnya hingga ususnya terburai. Pelaku yang diketahui mengendarai dua motor, berhasil membawa kabur perhiasan. “Jumlahnya berapa masih belum diketahui,” kata Kasatreskrim Polres Malang, AKP Azi Pratas Guspitu, saat memimpin proses olah TKP.
Sebelum terjadi peristiwa perampokan, Togok sedang jaga rumah milik Jio, seorang guru. Jio pergi bersama dengan keluarganya. Selama rumah ditinggal pergi, Togok selalu dipercaya untuk menjaga rumahnya.
Ketika sedang berjaga sendiri itulah, dari keterangan saksi di sekitar lokasi, ada empat orang berboncengan sepeda motor berhenti di rumah Jio. Mereka lantas masuk ke dalam rumah. Selang beberapa menit kemudian, keempat orang ini keluar lalu kabur.
Sabtu (2/12) pagi, pukul 08.15 Jio pulang. Ia mendapati pintu rumah terbuka. Ketika masuk, Jio kaget begitu mengetahui tubuh penjaganya tergeletak tak bernyawa dan bersimbah darah. Jio lantas menghubungi polisi.
Tujuh tim unit reskrim rayon Kepanjen, yakni Polsek Kepanjen, Pakisaji, Wagir, Ngajum, Kromengan, Sumberpucung dan Wonosari datang ke lokasi. Termasuk Tim Identifikasi dari Polres Malang dan satu regu buru sergap datang dengan dipimpin Kasatreskrim.
Kedatangan polisi ini, membuat warga sekitar kaget. Mereka lantas bergerombol berusaha mendekat untuk melihat apa yang terjadi. Namun untuk memudahkan proses penyelidikan dan olah TKP, polisi memberi police line dan berjaga di sekitar lokasi.
Petugas pun langsung masuk ke dalam rumah untuk melakukan olah TKP. Sebagian petugas lainnya, menyebar untuk mencari saksi. Warga yang terkejut dengan kedatangan puluhan polisi inipun, dibuat bertanya-tanya.
“Memang ada apa,” kata Munir, warga sekitar. 
“Padahal rumah saya ini bersebelahan dengan TKP kok sama sekali tidak tahu. Ini latihan apa memang benar terjadi sungguhan,” sambung Munir sembari bertanya-tanya.
Termasuk juga warga lainnya, yang bertanya-tanya dengan kedatangan polisi.
“Ada pembunuhan ta, kok banyak polisi,” ucap Bambang, warga lainnya.
Setelah beberapa menit melakukan olah TKP di dalam rumah, jenazah Togok dibawa ke kamar mayat RSSA Malang. Peristiwa perampokan disertai pembunuhan itu, bukan kejadian nyata.
Hanya simulasi lomba pengolahan TKP fungsi reskrim tingkat polsek. Dalam kegiatan simulasi, memang warga sekitar sengaja tidak diberitahu sehingga terkesan ada kejadian sesungguhnya.
Kasatreskrim Polres Malang, AKP Azi Pratas Guspitu mengatakan, lomba olah TKP ini sudah dilakukan sejak awal pekan lalu. Lomba ini untuk rayon di wilayah Polres Malang. Ada lima rayon, setiap rayon ada lima sampai tujuh polsek.
"Sekarang hari keempat. Lomba olah TKP ini kami adakan setiap tahun. Untuk tahun ini memang dibuat per-rayon, namun selanjutnya akan dibuat setiap polsek," jelas Azi.
Tujuan dari lomba ini, untuk meningkatkan kecepatan, ketelitian serta kemampuan dalam melakukan olah TKP. Sehingga ketika terjadi kejadian, anggota bisa langsung melakukan olah TKP dengan benar tanpa ada kesulitan. 
“Pemenang lomba olah TKP ini nanti, akan ada reward yang diberikan oleh Kapolres Malang,” ungkapnya.
Sementara itu, Yance Budianto, 58, pemilik rumah mengatakan kalau memang tempat tinggalnya dipinjam untuk latihan. Dia juga tidak paham dengan skenario yang dibuat. Bahkan dia juga tidak cerita kepada tetangganya kalau perampokan dan pembunuhan itu hanyalah simulasi. (agp/mar)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top