Di-PHK, Bunuh Diri

 
MALANG – Warga Jalan Sulfat Agung RT 09 RW 21 Kelurahan Purwantoro-Blimbing Malang terkejut dengan teriakan minta tolong dari rumah nomor 48, siang. Sekitar pukul 11.00 WIB, masyarakat dikagetkan dengan kabar dugaan bunuh diri BA, 39 tahun, penghuni rumah tersebut. Ketua RT 09 RW 21, Adi Prayitno mengatakan, dia mendengar kabar dari keluarganya, yang bertetangga dengan kediaman korban. 
“Saya sedang kerja di Auto 2000 Sutoyo saat menerima telepon panik dari rumah. Saya dikabari kalau tetangga depan rumah, meninggal bunuh diri,” kata Adi kepada wartawan, diwawancarai  saat melayat.
Dari keterangan yang dihimpun, korban sedang berada di rumahnya. Sekitar pukul 10.00 WIB, saksi mata menyebut korban masih terlihat berjalan-jalan di sekitar kompleks perumahan. Setelah itu, pria asal Sidoarjo ini, tidak terlihat lagi dan masuk ke rumah.
“Istrinya, pergi menjemput anak yang masih duduk di bangku TK, suaminya sendirian di rumah. Saat pulang pukul 11.00 WIB, istrinya yang kali pertama melihat suaminya di kamar depan,” kata Adi. 
Istri korban yang masuk ke rumah, panik bukan kepalang tatkala menyaksikan suaminya sudah tergantung dengan tali tampar berwarna biru. Alat yang diduga dipakai untuk bunuh diri ini, digantungkan di kusen atap. Lalu, korban melilitkan tali ke lehernya.
Istrinya, sembari berteriak-teriak minta tolong, berupaya menurunkan suaminya. Dia memotong tali tampar tersebut dengan gunting untuk menurunkan suaminya yang diduga sudah meninggal.
“Setelah itu, orang rumah yang mendengar teriakan langsung mendatangi rumah korban, dibantu tukang dari tempat pembangunan sebelah, serta warga lain, kita menghubungi polisi. Polres Makota datang dan langsung menangani,” kata Adi. 
Sepengetahuan warga sekitar, korban baru saja di-PHK dari pekerjaannya di salah satu provider telekomunikasi. Ia sudah menempati rumah itu bersama keluarganya selama 4 tahun terakhir.
Korban dikenal ramah dan rajin salat. Ia juga ikut dalam jamaah salawat besar di Malang. Dia juga selalu bersosialisasi dengan warga sekitar, dan taat beribadah di masjid sekitar kompleks perumahan.
Menurut pengakuan warga dan kolega, korban tidak pernah mengutarakan apa masalah pribadinya kepada orang terdekatnya. Kolega, tetangga bahkan mertuanya, tidak mengetahui problemnya. Kali terakhir, bahkan sempat jalan-jalan bersama mertuanya ke Tulungagung, tapi tak bercerita apa-apa.
Kendati demikian, dari informasi yang dihimpun, motif dugaan bunuh diri  tersebut disebabkan oleh utang piutang. Ditambah dengan situasinya yang baru saja di-PHK, diduga makin frustasi.
Meski demikian, Kapolres Makota, AKBP Asfuri SIK MH, melalui Kasatreskrim Polres Makota, AKP Ambuka Yudha Hardi Putra yang datang ke lokasi untuk olah TKP, menyebut kasus ini diduga murni bunuh diri.
“Saya ke lokasi Jalan Sulfat Agung VIII dan olah TKP serta identifikasi. Motif masih didalami, diduga bunuh diri,” kata Ambuka kepada Malang Post dikonfirmasi.(fin/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :