Tiga Saksi Penipuan Bicara BAP

 
MALANG – Sidang lanjutan Timotius Tonny Hendrawan alias Apeng, kembali bergulir dengan materi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Polda Jatim. Dalam persidangan, majelis hakim PN Malang yang dipimpin Rightmen MS Situmorang, memeriksa tiga saksi, yakni Agus Maryanto, Amalia Safiri saksi serta Vavan adik dari saksi Chandra Hermanto, yang menjadi pelapor dalam kasus dugaan penipuan penggelapan dalam BAP.
Dalam sidang yang dimulai pukul 11.00 WIB hingga 12.30 WIB, hakim, jaksa Kejari Malang dan kuasa hukum Apeng, Sumardhan SH bergantian mengajukan pertanyaan kepada para saksi. Mardhan yang juga advokat dari kantor pengacara Edan Law menyebut bahwa keterangan para saksi, menguatkan kliennya.
“Tadi pemeriksaan Amalia Safitri mantan Bank Permata Solo, Agus Maryanto saksi BAP yang juga keponakan notaris Sunarto asal Solo, serta Vavan adik dari saksi pelapor Chandra. Hampir semua menguatkan dugaan rekayasa BAP, karena mereka diperiksa Polda 2009, bukan 2016,” kata Mardhan kepada wartawan usai sidang kemarin.
Mardhan menduga ada persekongkolan jahat dari saksi pelapor yang ingin mengkriminalisasi Apeng kliennya. Fakta-fakta tentang BAP yang diduga tidak benar ini, kata Mardhan, sudah disampaikan dalam eksepsi sebelumnya. Menurutnya, jaksa tidak memakai pra penuntutan untuk menguji BAP.
“Jaksa tidak memakai pra penuntutan, termasuk mengecek BAP serta isinya, sebagai bentuk koreksi. Kalau memang tidak benar, seharusnya jaksa bisa segera mengembalikan berkasnya ke Polda sehingga tidak sampai P-21. Tidak seperti sekarang ini,” tegas Mardhan. Dia mengancam akan melaporkan Chandra ke Mabes Polri, karena sampai sekarang tak ada itikad baik untuk berdamai dengan Apeng.
“Kalau tidak ada itikad baik akan saya laporkan ke Mabes Polri, karena saya duga ada permufakatan jahat merekayasan BAP dengan tujuan menghukum orang yang tak bersalah,” jelasnya.Sementara itu Mardhan membantah Apeng telah menjual lahan SHM nomor 102 dusun Manang Grogol Sukoharjo, yang menjadi pokok perkara ini, kepada Hadian Ramadhan warga Jalan Kebangkitan Nasional 83 Surakarta pada 2005 lalu.
“Tidak mungkin menjual karena sertifikatnya saat itu masih di Bank Permata kok. Jadi ya sebenarnya keliru kalau menganggap lahan ini sudah dijual. Ini ditegaskan lagi di Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) Polda Jateng, 21 Desember 2010,” tutupnya.
Minggu depan, hakim akan kembali memeriksa saksi, yakni notaris Wahyudi Suyanto beserta karyawannya Justin Sri Nugroho. Lalu, Rijen Lamri Sinaga karyawan Bank Permata Jakarta.(fin/jon)

Berita Lainnya :