Afara Harap Sidang Kasusnya Sesuai Fakta


 
MALANG - PT Afara Mandiri Suryatama (Afara),Pakisaji, berharap sidang kasus penipuan dengan Nomor 824/Pid.B/2017/PN Kpn di PN Kepanjen, sesuai fakta. Sebab, sebagai korban, Afara tidak hanya rugi secara materiil, melainkan juga imateriil.
“Bukan hanya soal uang yang sudah hilang. Lebih dari itu, kredibilitas perusahaan kami, juga dipertaruhkan dari hasil sidang,” kata Farid Nurcahyono, Direktur Afara kepada Malang Post di kantornya, Rabu (06/12) siang.
Diceritakan dia, kasus yang dialami bermula dari rencana pembangunan perumahan di Dusun Watudakon, Desa Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji. Tepatnya di atas lahan seluas 5.100 M2 milik Edi Honata Mulyono.
Di luar sepengetahuan dirinya, sambung Farid, lahan itu diakui milik Imron Adi Prasetyo, warga Pakisaji. Karena meyakinkan antara Farid dan Imron pun akhirnya terjadi kesepakatan jual beli lahan dimaksudkan.
“Saat itu, Imron membawa bukti-bukti kalau lahan itu miliknya. Katanya lahan itu milik orang tuanya dan belum dibalik nama. Kami lalu sepakat untuk membayar uang tanda jadi Rp 100 juta,” ujar Farid sembari menunjukkan kopian kuitansi pembayaran.
Karena uang panjar sudah dibayar, Afara pun melakukan aktifitas di atas lahan itu. Tim Afara lantas memasang umbul-umbul dan atribut tanda dimulainya pembangunan perumahan. Sekaligus untuk pemasaran perumahan dimaksudkan.
“Tapi betapa terkejutnya kami, ketika pasang umbul-umbul tiba-tiba datang pak Edi Honata Mulyono. Selaku pemilik lahan yang sebenarnya, pak Edi cerita kalau tidak pernah merasa menjual tanahnya ke Afara,” kenang Farid.
Ketika ditanyakan ke Imron, justru dijawab tanah itu tetap miliknya. Bahkan dengan segala cara Imron berusaha meyakinkan Afara. Tujuannya, uang jual beli senilai Rp 22,9 miliar bisa segera dilunasi pihak Afara.
Ditemui terpisah Andika Herwanto, kuasa hukum Afara membenarkan, kliennya telah menjadi korban penipuan Imron. Uang panjar Rp 100 juta ditransfer dua kali. Pertama Rp 10 juta ke rekening BCA nomor 4480367834  a/n Imron Adi Prasetyo, tanggal 27 Nopember 2016.
Lima hari kemudian, tepatnya tanggal 2 Desember 2016, kliennya transfer Rp 90 juta ke rekening BRI nomor 005101002552309 a/n Naning Yuniarti. Belakangan diketahui kalau pemilik rekening ini adalah istrinya Imron.
“Karena tidak ada ihtikad baik dari pelaku, maka perkaranya diserahkan secara hukum,” kata Andika. 
Sidang kedua di PN Kepanjen, Kamis hari ini, agendanya mendengarkan saksi-saksi pelapor. 
“Sekali lagi, kami semua berharap sidang bisa berjalan dan berakhir sesuai fakta yang ada,” pungkas Andika. Akibat perbuatannya, Imron diancam pasal 372 KUHP dengan ancaman hukuman empat tahun. (has/mar/jon/sir)

Berita Terkait

Berita Lainnya :