Susah Kalau Terorisnya Asli Malang


MALANG – Pasca penggerebekan Densus 88 terhadap terduga teroris Kiki Rizky Abu Ukasah, 41 tahun, segenap pihak seperti ditampar. Ya, selama ini aktivitas Kiki di jalur radikalisme tak terdeteksi. Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kota Malang, Dr. Nuruddin Hadi, menyebut memang susah jika terorisnya orang asli Malang.
Kata Nuruddin Hadi peran masyarakat dan keluarga sangat penting dalam deteksi awal benih radikalisme. Menurut Nuruddin, kasus terduga  teroris Kiki berbeda dengan penangkapan di Bumiayu. Dia merinci, penggerebekan terduga teroris di Bumiayu menonjolkan peran serta masyarakat sekitar. Pasalnya, warga berperan mengawasi adanya orang asing yang tiba-tiba masuk ke kampung dan menunjukkan gerak-gerik mencurigakan.
“Kalau kasus Bumiayu, masyarakat cepat sekali deteksi dini, karena terduga datang sebagai orang asing di kampung tersebut. Pamwil langsung memantau dan ternyata benar digerebek Densus. Tapi, untuk kasus yang Kasin sangat berbeda, karena dia asli Malang,” sambung Nuruddin, dikonfirmasi terpisah.
Menurut FKDM Kota Malang, terduga teroris yang lahir di Malang, sulit terdeteksi sejak awal oleh masyarakat . Tahu-tahu, tetangga yang sejak kecil sudah berdomisili di Malang, digerebek dan diamankan Densus. Sehingga, dia menekankan pentingnya peran anggota keluarga sebagai filter pertama untuk menekan radikalisme.
“Keluarga punya peran penting dalam deradikalisasi. Jangan malah dilindungi dan ditutup-tutupi, tapi harus ditanggulangi dengan cara persuasif serta antisipatif. Kami pun mengimbau masyarakat untuk tidak segan melapor ketika mendengar dan melihat aktivitas mencurigakan,” tambahnya.
Sementara, Kasubag Sumda Bagrenmin Densus 88 Polri, AKBP Hoiruddin Hasibuan sempat menyebut Malang memiliki sejarah dengan tokoh-tokoh teroris kelas kakap. Pasalnya, mantan Kapolres Makota itu menyebut Malang sudah pernah dihampiri oleh tokoh teroris, yakni dr Azhari serta Salim Mubarok Attamimi alias Abu Jandal.
“Secara historis Malang memang ada jaringan,” kata Hoiruddin beberapa waktu lalu. Menurut perwira dengan pangkat dua melati emas di pundaknya ini, bibit radikalisme dan terorisme, pernah mampir di Malang. Nama dr Azhari yang digerebek dan ditembak mati di Batu atau Abu Jandal panglima ISIS, meninggalkan jejak di Malang.
Sebelum penangkapan terduga teroris di Kasin Sabtu lalu, Densus 88 juga sudah pernah menangkap terduga lain di Singosari. Terduga yang terciduk tersebut, merupakan mantan pasukan Abu Jandal yang dikirim ke Siria untuk berjuang sebagai milisi ISIS. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) juga menyebut Malang sebagai daerah prioritas target deradikalisasi.
Deradikalisasi di Kota Malang, bergantung sepenuhnya pada kinerja Polres Makota, Pemkot Malang dan Kodim 0833 Kota Malang beserta elemen masyarakat. Hoiruddin berharap deradikalisasi dilakukan dengan pendekatan persuasif serta antisipatif. Sehingga, tidak ada lagi daerah atau kota di Indonesia yang diteror.
“Karena itu tinggal pendekatan kita kepada ikhwan-ikhwan. Bagaimanapun mereka adalah saudara-saudara kita,” tambah pria pemegang gelar doktoral dengan disertasi soal deradikalisasi teroris ini.
Sementara itu, Polres Makota menggelar operasi cipta kondisi di depan mako Jalan JA Suprapto, Sabtu malam (9/12) lalu paska penggerebekan terduga teroris di Kasin.
Kasubbag Humas Polres Makota, Ipda Ni Made Seruni Marhaeni menyebut operasi cipta kondisi tersebut merupakan bagian dari antisipasi terhadap gerakan kelompok radikalisme dan teroris. Operasi ini melibatkan sekitar 20 personel yang menghentikan semua kendaraan yang melintas di depan Polres Makota.
“Sasaran operasi Cipkon adalah bahan peledak, narkoba, senjata tajam, senjata api serta antisipasi kelompok radikalisme dan teroris,” kata Heni, sapaan akrabnya .
Operasi ini dipimpin KBO Satintelkam Polres Makota, Iptu Adi Fajar beserta Kanit Dikyasa Satlantas Iptu Endiex. Dalam operasi Cipkon, polisi menghentikan kendaran bermotor roda dua untuk mengecek kelengkapan surat serta barang bawaan.
Sementara, roda empat yang diberhentikan polisi, langsung diperiksa secara detail dan menyeluruh. Mulai dari pemeriksaan jok hingga bagasi belakang.
“Harapannya, operasi Cipkon bisa mempersempit ruang gerak pelaku penyebab gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat,” tutupnya.
Sementara itu, suasana Jalan Kemuning Sengkaling Indah II RT 02 RW 07 Desa Mulyoagung Dau masih lengang. Dari pantauan Malang Post di perumahan kawasan Kecamatan Dau itu mulai siang hingga sore, tidak ada aktivitas menonjol. Perumahan Kiki ini letaknya  dekat dengan Polsek Dau. Kediaman terduga teroris pun sepi gerak-gerik aktivitas manusia. Dengan cuaca hujan, akhir pekan di perumahan tersebut minim aktivitas warga.
“Setahu saya hanya ada wartawan yang datang ke sini dan menanyakan soal rumah di Jalan Kemuning yang katanya terduga. Tapi kalau kedatangan Densus 88 ke sini, kok kami warga tidak tahu ya. Tenang-tenang saja sejak hari Jumat dan Sabtu lalu,” urai salah satu warga RT 02 RW 07 Mulyoagung Dau yang enggan disebut namanya, kepada wartawan .
Disinggung soal Kiki, pria yang kesehariannya menjadi tukang ojek ini mengaku pernah mengetahuinya. Hanya saja, Kiki kurang bersosialisasi dengan warga, terutama bapak-bapak di lingkungan sekitar. Menurut warga, Kiki yang kelahiran Malang 31 Oktober 1976 itu jarang terlihat di rumah.
“Terakhir lihat dia ya sekitar satu minggu lewat di jalan ini. Soal kerjaannya saya kurang tahu” tambahnya.
Warga lain, juga mengaku tak banyak berkomunikasi dengan anggota keluarganya. Menurut salah satu ibu rumah tangga di RT 02 RW 07 Desa Mulyoagung ini, bukan hanya Kiki yang minim interaksi.
“Soal penangkapannya kami tahu dari loper-loper koran yang jualan di sini. Ibu-ibu di sini tahu istrinya sangat terbatas dalam komunikasi dengan warga. Setahu kami, istrinya juga tidak ikut arisan kampung atau pun PKK,” tambahnya.(fin/ary)

Berita Lainnya :