Afara Berharap Para Saksi Bicara Jujur

 
MALANG – Kuasa hukum PT Afara Mandiri Suryatama (Afara) berharap saksi-saksi yang dihadirkan majelis hakim PN Kepanjen, bertindak jujur. Artinya, para saksi sebaiknya memberi keterangan sesuai fakta sebenarnya.
‘’Konsistensi keterangan saksi, itu yang kami butuhkan. Tidak mengubah kesaksian yang sebelumnya sudah diberikan ke penyidik,’’ kata Roni Dwi S SH, kuasa hukum Afara ketika dihubungi Malang Post melalui ponselnya.
Majelis hakim PN Kepanjen melalui Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ari Kuswadi SH, Kamis siang ini, akan menghadirkan tiga saksi kasus dengan terdakwa Imron Adi Prasetyo. Diantaranya Henie Tri Puspitasari, Achmad Supaidi dan Edi Honata Mulyono. Edi, yang bisa dipanggil Koho tidak lain adalah pemilik asli lahan yang dibeli Afara melalui Imron.
Disebutkan Roni, harapan Imron untuk menghindar dari jeratan hukum sebenarnya sangat kecil sekali. Artinya, kalau seluruh saksi yang dihadirkan memberi keterangan sesuai fakta, maka posisinya kliennya bakal aman.
Secara materiil, lanjut Roni, Afara bukan berharap uangnya Rp 100 juta kembali. Sebaliknya, Afara ingin mengetahui kasus yang dialaminya sesuai fakta hukum yang sebenarnya. Sehingga ke depan Afara bisa lebih berhati-hati dalam mengambil sikap bisnis.
‘’Soal nanti uangnya Rp 100 juta bisa kembali lagi, ya Alhamdulillah. Tapi, klien saya ingin tahu. Siapa sebenarnya status Imron yang menipunya,’’ ungkap advokat berkulit  kuning langsat ini.
Di sisi lain, Roni menyebutkan, pihaknya telah berusaha mengumpulkan data terkait kasus yang ditanganinya ini. Termasuk melakukan pertemuan dengan Koho, sebagai pemilik lahan 5.100 meter persegi yang dijual Imron ke Afara.
Dari pertemuan keduanya, Koho merasa yakin kalau tidak mengenal Imron. Karena tidak kenal itulah maka tidak ada alasan bagi Koho untuk menjual tanahnya melalui Imron. Imron baru dikenalnya ketika dia berkunjung ke kantor Afara gara-gara tanahnya dipasangi umbul-umbul dan banner.
‘’Saya hanya kenal makelar pak Karyono. Dan sebelumnya sama sekali saya tidak kenal Imron. Makanya heran, kok Imron sudah terima uang Rp 100 juta dari Afara,’’ paparnya. 
Ditanya soal surat kuasa menjual tanah milik Koho yang dimiliki Imron, Roni pun sudah mengecek ke Koho. Menurut Koho, surat kuasa itu diminta Imron setelah dirinya bertemu di kantor Afara. Atau setelah Imron terlanjur sudah terima uang panjar Rp 100 juta.
Pasca bertemu di Afara, selang beberapa hari Imron mendatangi Koho. Imron minta dibuatkan surat keterangan untuk menawarkan lahan 5.100M2 tadi. Selain itu, Imron juga minta surat perjanjian agar bisa menawarkan tanah itu ke orang lain.
‘’Katanya, tanah saya itu mau ditawarkan ke PT Dwi Pertiwi, Jakarta. Karena tidak ada rencana menjual, maka tidak saya beri. Imron bukan makelar yang saya suruh jual tanah saya,’’  jelas Koho ditirukan Roni.
Sementara itu kasus pidana dengan nomor 824/Pid.B/2017/PN Kpn di PN Kepanjen, Kamis (14/12), akan dilanjutkan. Rencananya, hakim akan mendatangkan beberapa saksi diantaranya adalah. Akibat tindakannya ini Imron diancam pasal 372 KUHP dengan ancaman hukuman paling lama 5 tahun. (has/sir/jon)

Berita Lainnya :