magista scarpe da calcio Nanik Dituding Berkuasa di PT STSA


Nanik Dituding Berkuasa di PT STSA


 
MALANG – Hakim PN Malang menggelar sidang pemeriksaan saksi kasus dugaan penggelapan dalam jabatan oleh Nanik alias Suparmie SE, 53, Kamis (14/12) siang. Nanik adalah mantan karyawan PT Sapta Tunggal Surya Abadi (STSA). Dia didakwa menggelapkan uang PT STSA sejumlah Rp 2 miliar, dari hasil mark up uang pembebasan lahan di Buring Kedungkandang.
Dalam sidang yang dipimpin hakim ketua Isnurul Syamsul Arif, ada tiga saksi yang menyampaikan keterangan. Yakni, Yakobus, driver perusahaan, Joko Susilo, auditor internal PT STSA, serta ahli akuntan publik, Suprihadi. Yakobus dalam kesaksiannya menyebut Nanik adalah sosok yang berkuasa di PT STSA Malang.
Saat ditanya jaksa penuntut umum Suhartono, Yakobus menyebut Nanik berkuasa setelah pria bernama Joni, mengundurkan diri dari jabatan General Manager PT STSA. Sedangkan, saksi Joko Susilo auditor internal perusahaan, ia menyebut Nanik adalah orang yang melakukan pembayaran.
“Nanik juga menghitungkan berapa luasnya hingga harga per meternya. Semua Suparmie yang melakukan, termasuk pengajuan jumlah uangnya yang harus dibayarkan. Dari pemegang saham mengeluarkan uang sesuai dengan pengajuan Nanik,” ungkapnya. 
Gunadi Handoko SH, kuasa hukum Nanik membantah pernyataan Joko soal posisi kliennya dalam bidang keuangan perusahaan tersebut. Menurut Gunadi, ada dugaan ketidak akuratan dalam audit perusahaan. Karena, auditor, baik internal maupun eksternal, tidak mewawancarai para pihak warga yang terlibat dalam penjualan lahan. 
Ketua DPC Peradi Malang ini menyebut auditor internal dan eksternal melakukan kesalahan dengan tidak mewawancara para pemilik lahan serta orang-orang yang terlibat sebelum dijual ke PT STSA.
“Kami akan hadirkan ahli, lalu mengungkap sistem yang benar dalam audit keuangan. Langkah apa yang betul. Kalau jaksa bilang ahli bagus, kita bawa yang lebih bagus lagi. Surat pernyataan dari penjual, bukan data primer, beda dengan kas transfer maupun pembayaran petok D,” sambungnya.
Suprihadi, akuntan publik yang memberi keterangan ahli di hadapan hakim, menyebut ada tiga temuan dari hasil auditnya.
“Audit saya adalah audit dengan prosedur yang disepakati perusahaan dan akuntan. Kami tidak boleh beri pendapat, tapi sampaikan temuan, yakni audit finding,” jelas Suprihadi.
Dia menyebut ada tiga temuan. Yakni, perbedaan luas lahan tanah, perbedaan harga tanah, serta perbedaan jumlah pembayaran. Suprihadi mengaku tidak berhak menilai tentang adanya temuan ini. Sebab, penilaian apakah ini pelanggaran hukum atau tidak, ada pada kejaksaan, kepolisian dan hakim. (fin/mar)

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top