Edi Honata Tak Pernah Suruh Jual Tanah

 
MALANG – Ada fakta menarik dalam sidang lanjutan penipuan dan penggelapan, yang dialami PT Afara Mandiri Suryatama (Afara), kemarin di Pengadilan Negeri Kepanjen. Edi Honata Mulyono, pemilik tanah menegaskan bahwa dia tidak pernah menyuruh terdakwa Imron Adi Prasetyo, warga Desa/Kecamatan Wonosari ini, untuk transaksi jual beli dengan pihak Afara. 
Tetapi hanya sekadar menawarkan saja. Bahkan, Koho, sapaan akrab Edi Honata Mulyono, juga tidak mengetahui kalau Imron, ternyata sudah melakukan transaksi jual beli dengan menerima uang Rp 100 juta dari Afara. Dia menegaskan kalau dirinya tidak pernah menerima satu persen pun dari Imron, atas uang yang diterimanya.
“Saya hanya meminta untuk menawarkan dan mencarikan pembeli, tidak transaksi jual beli. Termasuk ketika ditawar Rp 400.000 per meter, sudah saya tolak karena saya minta Rp 600.000 per meter. Kalau ternyata ditawarkan Rp 450.000 per meter, dan terjadi transaksi jual beli, itu diluar sepengetahuan saya,” ungkapnya kepada Malang Post.
Dalam kesaksiannya di persidangan, Koho, menjelaskan kalau dirinya dengan Imron sebetulnya tidak kenal. Bahkan sama sekali tidak ada hubungan. Ia kenal dengan terdakwa, setelah dikenalkan oleh makelar tanah Karyono.
“Katanya Imron ini yang mau membeli tanah. Tetapi tidak jadi beralasan kalau uangnya tidak cukup. Kemudian Imron mengatakan ada orang yang mau membeli. Saya pun bilang silahkan ditawarkan, dan Imron saya janjikan satu persen jika tanahnya sudah laku,” terangnya.
Beberapa hari kemudian, Imron mendatangi Koho kalau pembelinya ada di Bogor. Koho diminta datang ke Bogor, tetapi dijawab tidak bisa lantaran sibuk. Selanjutnya Imron, menawarkan diri untuk pergi ke Bogor untuk menemui pembeli.
“Setelah itu, Imron mengatakan kalau tanah saya ditawar Rp 400.000 per meter. Tetapi saya tidak mau, karena tetap meminta Rp 600.000 per meter. Tidak tahunya tiba-tiba sudah ada pemasangan banner di tanah saya,” paparnya kepada majelis hakim. 
“Ketika saya tanyakan dari Afara, dan sudah membayar uang Rp 100 juta ke Imron. Dan selang beberapa hari, saya diajak Imron ke notaries di wilayah Kecamatan Dau, untuk tanda tangan surat kuasa penawaran,” tutur Koho.
Saksi lain yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ari Kuswadi, adalah Achmad Suipaidi, karyawan marketing Afara. Dalam pemeriksaan, Supaidi menerangkan semuanya seperti saat penyidikan oleh polisi. Mulai dari awal proses perkenalan dengan terdakwa hingga terjadinya pembayaran uang Rp 100 juta.
Sayangnya, ketika ditanya majelis hakim, Supaidi banyak menjawab tidak tahu. Karena pertanyaan yang dicecarkan di luar koridor isi pokok perkaranya. Sehingga, Supaidi kerap mendapat semprot dari majelis hakim. 
“Uang Rp 100 juta yang ditransfer ke terdakwa Imron itu adalah uang tanda jadi. Bahkan, pemasangan banner di tanah milik Edi Honata tersebut, karena sudah ada kesepakatan dalam surat pernjian yang ditangani oleh Afara dengan terdakwa. Dan pembatalan pembelian tanah, karena pemilik tanah minta pembayaran cash tidak dibayar per-termin,” bebernya.
Sementara itu, terdakwa Imron yang didampingi kuasa hukumnya, Nanang Nelson, menyanggah beberapa pernyataan saksi. Salah satunya terkait uang pembayaran Rp 100 juta. “Itu bukan untuk DP atau muka, tetapi uang komitmen supaya saya tidak menjual kepada orang lain,” ucap terdakwa Imron Adi Prasetyo.
Roni Dwi SH, kuasa hukum Afara, cukup menyesalkan dengan pertanyaan yang dilontarkan kepada saksi. Pasalnya, pertanyaannya telah di luar koridor, karena tidak ada dalam materi perkara.
“Mewakili Afara, saya jelas sangat kecewa dengan pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan. Karena semuanya di luar materi perkara,” tegas Roni Dwi. (agp/mar/sir)

Berita Lainnya :