Penjual Nasi Nyaris Tertimpa Pohon tumbang


Malang Post,
Seorang penjual nasi yang sedang sholat Dhuhur nyaris tertimpa Pohon Galitus berdiameter 80 centimeter sepanjang 15 meter di Kota Batu. Warungnya hancur tak berbentuk, Markati, 52, warga RT 3 RW 7, Kelurahan Songgokerto ini selamat dari maut.
Ibu satu anak itu keluar dari reruntuhan warungnya yang sudah hancur dengan kondisi segar bugar. Ditengah hujan deras, didepan warungnya Markati sujud syukur atas keselamatan yang diberikan oleh Tuhan.
Saat itu ia sedang salat di pojokan warung sisi Selatan. Pohon yang tumbang jaraknya kurang dari satu meter dari tempatnya salat. Bila atap yang lain rusak berat, atap di atasnya tempat salat masih tersanggah dengan baik, hingga tidak menggencet tubuh Markati.
“Saya sedang salat Dhuhur, pada saat rakaat terakhir saat sujud saya mendengar bunyi kretek-kretek, meskipun takut, saya teruskan salatnya hingga salam, saat melepas rukuh, mendadak pohon tumbang menimpa warung saya,” ujar Markati.
Batang kayu yang besar menggencet warungnya hingga hancur, kaca pecah berantakan, kusen pintu warung pun tidak berbentuk lagi. Saat itu, dengan tubuh gemetaran, Markati hanya bisa sujud pasrah sambil terus membaca istighfar.   
Ia baru berani keluar dari warungnya dengan cara berjalan jongkok saat hujan angin reda. “Mungkin kalau tidak hari libur ceritanya lain, karena jam-jam segini (13.00 WIB) biasanya, karyawan dan tamu BPN penuh di warung saya,” ujar Markati.
Markati pun bersyukur, karena meminta bapaknya Man Sangkuk untuk membeli plastik, hingga tidak ada yang terluka dalam kejadian ini. Pohon Galitus ini tidak hanya menimpa warungnya, namun juga mematahkan pohon Cherry yang sebenarnya ukurannya cukup besar.
 “Saya sempat khawatir terjadi apa-apa dengan warga saya, Alhamdulillah Bu Markati selamat,” ujar Hermanto, Ketua RW 7, Kelurahan Songgokerto sembari menjelaskan bahwa warung yang tertimpa pohon ini berada di RW 6, Kelurahan Songgokerto.
Begitu mengetahui kejadian ini, ia pun langsung melaporkan kepada Lurah Songgokerto, Sasongko yang ditindaklanjuti dengan melaporkan kejadian ini ke BPBD Kota Batu. Hujan angin yang terjadi di Kota Batu hanya berlangsung kurang dari 5 menit. Meski begitu, anginnya sangat kencang hingga mengakibatkan pohon tumbang. Tidak hanya wilayah Songgokerto yang terasa, di Balai Kota Among Tani juga merasakan hal yang sama.
 Bahkan angin menerbangkan 25 tenda Kontes Bonsai yang berada di kawasan Perumahan Batu Panorama yang letaknya berada di belakang Balai Kota Among Tani. Angin yang sekejap itu juga memporakporandakan pagar bambu yang dipasang untuk Kontes Bonsai.
Panitia Kontes Bonsai yang sedang bekerja dibuat kalang kabut menyelamatkan diri. “Anginnya begitu besar, kita semua berlarian ke gazebo besar itu. Alhamdulillah tidak ada yang terluka, hanya tenda, besinya banyak yang patah, lokasi kontes pagarnya ambruk semua,” ujar Muhammad Ardiansyah, Sekretaris 2 Kontes Bonsai berskala nasional ini. Sebagai persiapan, panitia sudah memasang 25 tenda untuk stand bursa dan tempat khusus untuk kontes yang didesain apik dengan menggunakan bambu. “Hancur semua, ya teman-teman harus lebih ekstra kerjanya. Kita gotong royong untuk segera membenahi kerusakan, agar acara bisa berjalan dengan lancar,” ujar Ardiyansah sembari menyebutkan bahwa kerugian yang ditanggungnya berkisar Rp 5 juta.
Sementara itu, hujan deras yang mengguyur Kota Batu mengakibatkan tanah longsor di Payung 3, Kawasan Payung Songgoriti. Tanah longsor ini menutup 1/3 badan jalan sehingga sempat menganggu arus lalu lintas, namun dalam waktu singkat kondisi bisa normal, karena dilakukan pembersihan material longsor secara manual.
“Penyebabnya karena hujan deras dan tanah yang labil menyebabkan longsor dengan dimensi 2 x 3 meter,” ujar Suhartono, Koordinator Tim Reaksi Cepat, BPBD Kota Batu. (dan/van) 

Berita Lainnya :