Nanik Sangkal Tudingan Berkuasa di STSA

 
MALANG – Sidang lanjutan pemeriksaan Suparmie alias Nanik Indrawati, terdakwa dugaan penggelapan dalam jabatan PT STSA, digelar siang kemarin di PN Malang. Dalam pemeriksaan, Nanik ditanyai oleh jaksa penuntut umum Suhartono dan kuasa hukum Gunadi Handoko serta hakim sidang Isnurul Syamsul Arif.
Nanik ditanyai tentang posisinya di PT STSA saat kasus penggelapan uang perusahaan terjadi. Yakni, dugaan penggelapan uang senilai kurang lebih Rp 2 miliar dari total uang Rp 4,6 miliar yang dipakai untuk membebaskan lahan 1,2 hektare milik petani di Buring. Suhartono kepada wartawan menyebut bahwa transaksi ini adalah tanggungjawab Nanik.
“Uang Rp 800 juta itu ke mana. Tetap tanggung jawab dia (sebagai keuangan) untuk memantau ke mana uang perusahaan,” terang Suhartono. 
Sementara, hakim Isnurul menanyai Nanik soal statusnya sebagai kasir yang seharusnya tahu tentang alur keluar masuk serta aliran uang perusahaan.
“Karakter kasir yang real itu kan pemegang kas per kejadian, kuitansi dan sebagainya. Harusnya anda mempertanyakan ke mana alurnya,” ungkap Isnurul. 
Nanik menjawab pertanyaan hakim bahwa semua transaksi dihandel oleh Elang yang dianggapnya sebagai orang kepercayaan bos PT STSA. Nanik mengaku tak berani mempertanyakan perintah Elang.
Saat ditanyai Isnurul apakah pimpinan Nanik pernah bertanya soal keuangan perusahaan, wanita yang tinggal di PBI tersebut mengatakan pimpinannya tak pernah bertanya-tanya secara detail. Menurut Nanik, Adjie Prayitno, Direktur PT STSA baru bertanya soal adanya kejanggalan keuangan setelah Elang, tim pembebasan lahan PT STSA, meninggal.
“Saya pun bingung tentang karakter kasir tidak umum ini,” ungkap Isnurul.
Sementara itu, Nanik sendiri menjelaskan Elang adalah figur yang diminta oleh PT STSA untuk menghandel semua transaksi pembebasan lahan.
“Elang diminta pak Adjie handel semua, dia disuruh ke kelurahan dan semua instansi untuk urusan ini,” sambung Nanik. Meski demikian, pernyataan Nanik disangkal oleh General Manager PT STSA, Hani Irwanto.
Menurutnya, Nanik adalah orang yang lebih dipercaya oleh perusahaan daripada Elang.
“Karena, Nanik lah yang merekrut Elang, bukan sebaliknya. Nanik yang lebih dipercaya pimpinan untuk mengurus semua transaksi. Pernyataannya kontradiktif dengan pernyataan saksi persidangan yang menyebut Nanik sebagai orang dengan wewenang di kantor,” tegas Hani.
Sementara itu, Gunadi Handoko kuasa hukum Nanik menyebut ada kelemahan dalam sistem organisasi kantor PT STSA. Gunadi juga mengatakan sudah ada lebih dari 27 transaksi yang terjadi untuk pembebasan lahan dan semuanya berjalan beres.
“Kenapa ini mencuat setelah Elang meninggal. Padahal klien saya menyebut yang berkuasa penuh adalah saudara Elang. Terdakwa tidak berani menolak Elang yang dapat mandat penuh,” tutup Gunadi.(fin/jon)

Berita Lainnya :

loading...