Apeng Batal Natalan di Rumah


MALANG - Nasib Tonny Timotius Hendrawan alias Apeng, 53, masih terombang-ambing. Sidang terdakwa kasus dugaan penipuan penggelapan lahan di Manahan Solo ini, sudah menghadirkan saksi-saksi, tentang adanya dugaan pemalsuan BAP yang menjerat dirinya.
Tapi, jalannya persidangan di PN Malang pimpinan hakim Rightmen MS Situmorang dan JPU Trisnaulan Arisanti serta Hadi Riyanto, masih belum ada tanda-tanda akan berakhir. “Ini hak asasi saya sudah tertindas,” ungkap Apeng dengan nada marah.
“Harusnya saya sudah bisa natalan bersama keluarga saya karena sebenarnya sejak bulan Mei lalu, saya sudah menerima pembebasan bersyarat (PB). Tapi tiba-tiba kasus ini dimunculkan pada Agustus lalu. Kasus saya diolor-olor,” ungkap dia.
Apeng meminta kuasa hukumnya, Sumardhan SH dari kantor pengacara Edan Law untuk melaporkan kasusnya kepada Mabes Polri, KPK, Komnas-HAM serta Kanwil Kemenkumham. Pasalnya, pembebasan bersyaratnya dibatalkan oleh Kanwil Kemenkumham, setelah Polda Jatim mengirimkan surat tentang kasus yang menjerat dirinya.
Sumardhan menyebut bukan hak polisi untuk mengirimkan surat kepada Kanwil Kemenkumham Jatim dan membuat Apeng batal PB. “Bukan hak polisi untuk mengirim surat yang membuat klien saya batal PB. Harusnya ini dilakukan jaksa-pengadilan. Akibatnya, hak klien saya ditindas,” ujar Mardhan, sapaannya.
Sementara itu, dalam persidangan, JPU menghadirkan satu saksi saja, yakni Rijen Lamri Sinaga. Dari hasil persidangan, Mardhan menyebut Rijen tidak pernah diperiksa oleh penyidik Polda Jatim pada tahun 2016 dan 2017. Tapi, Apeng dijerat dengan keterangan Rijen yang tertuang di Berita Acara Penyumpahan 24 Juli 2017 yang ditampilkan oleh Mardhan.
“Rijen mengaku tak pernah diperiksa Polda Jatim tahun 2016-2017. Ini sudah menguatkan fakta adanya pemalsuan Berita Acara Penyumpahan. Apalagi, Rijen beragama Kristen, tapi isi suratnya ada yang bertuliskan Insya Allah. Ini kan tidak benar dan tidak tepat,” sambung Mardhan.
Dia juga meminta kepada hakim Rightmen untuk memerintahkan penahanan kepada Chandra Hermanto karena Mardhan menuding Chandra telah membuat sumpah palsu tentang kasus yang kini menjerat Apeng. “Kalau BAP nya palsu semua begini, kenapa klien saya masih ditahan,” tutupnya. (fin/mar/jon)

Berita Lainnya :

loading...