Developer Perumahan Dipolisikan

 
MALANG - Sekitar 13 orang kemarin mendatangi Mapolres Malang Kota (Makota). Mereka mengaku menjadi korban penipuan yang dilakukan CV Fajar Jaya Abadi, salah satu developer perumahan di Kota Malang. Belasan orang ini mengaku, membeli tanah kavling yang berada di kawasan Madyopuro, Kedungkandang. Tepatnya, di dekat Perumahan Oma View. Namun belakangan, tanah yang mereka beli itu masih milik orang lain. 
“Tanah kavling yang kita beli adalah tanah milik orang lain yang tidak dijual kepada pengembang. Namun saat dimintai pertanggung jawaban, pengembang malah menghilang dan tidak bisa dihubungi,” kata Mega Sarjono, 31.
Warga Jalan Danau Maninjau Barat B2 Perumahan Sawojajar ini kepada wartawan menerangkan, para korban ini sudah membayar uang muka dan cicilan sejak membelinya tahun 2016 lalu.  “Kalau korbannya sudah banyak. Puluhan orang,” lanjut dia. 
Diungkapkan Mega, dia membeli tanah kavling itu sejak bulan Maret tahun 2016. Uang mukanya, saat itu sebesar Rp 5 juta. Tanah seluas 90 meter persegi itu, ditawarkan oleh PT Fajar Jaya Abadi dengan harga Rp 55,5 juta.
“Saya sudah mencicil hingga Rp 36,6 juta. Ternyata status tanah itu juga nggak jelas. Beberapa dari orang yang membeli, sudah melakukan somasi dan menarik kembali uangnya. Saat itu, pihak pengembang mau mengembalikannya,” paparnya.
Diutarakan Mega, sebenarnya dia dan korban lainnya hanya ingin uang muka dan cicilan dikembalikan. Namun, sampai kemarin, pihak pengembang tidak memiliki itikad baik. Sehingga mereka memilih untuk melaporkan penipuan itu ke Mapolres Makota.  
 “Pembeli tanah kavling sudah ada 114 orang. Dengan korban yang merasa tertipu sebanyak 43 orang. Mulai dari yang hanya membayar uang muka hingga yang telah membayar penuh,” bebernya usai melapor.
Hal yang sama juga dialami oleh Masruroh, warga Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru. Dia membeli dua kavling tanah pada bulan November 2016. “Saya sudah bayar dua kavling tanah sebanyak Rp 74,2 juta,” ungkapnya. 
Uang muka pertama sebesar Rp 5 juta dan pada cicilan kedua dia membayar Rp 32,1 juta. “Namun hingga saat ini, pengembang tidak bisa dihubungi dan malah tidak diketahui keberadaannya,” tutur Masruroh dengan nada emosi.
Para korban menyebutkan, pihak pengembang yang dilaporkan adalah Aisha Kurnia Widyastuti, 46, warga Perumahan Puncak Dieng NN2 Desa Kalisongo, Dau. “Kalau ditotal, kerugiannya mencapai Rp 1,3 miliaran,” kata korban lainnya.
Dihubungi terpisah, Kapolres Makota, AKBP Asfuri menyatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan. “Polisi tidak akan terburu-buru dalam melakukan penyelidikan dan segera melakukan penelusuran kasus tersebut,” terangnya.
Sementara itu, Kurnia, selaku staf CV Fajar Jaya Abadi yang dianggap ikut bertanggungjawab terhadap permasalahan ini, enggan memberi komentar kepada wartawan. Dia tidak mengangkat ponselnya, meski terdengar nada dering. Termasuk tidak membalas pesan singkat yang dikirimkan kepadanya. (eri/mar/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :