Jual Ginjal Seharga Rp 350 Juta Untuk Bayar Utang


“Ya Allah buuu....saya kok jadi begini....saya nggak kuat lagi. Maksud saya (jual ginjal) untuk menyelesaikan masalah, saya tidak ngomong keluarga tentang operasi itu biar mereka nggak sedih, nggak tahunya kok malah jadi begini”. Kalimat ini disampaikan Ita Diana (41) kepada Malang Post sembari menangis sesenggukan.
Air mata terus mengalir sepanjang perjalanan dari Kota Malang menuju rumahnya di Temas, Kota Batu. Kalaupun berhenti menangis, hanya beberapa saat saja. Dengan wajah muram dan pandangan kosong, Ita kembali mengatakan berulang kali, “kenapa kok jadi begini”. Perempuan itu seakan masih tidak percaya harus melewati ujian berat ini dalam hidupnya.
Malang Post bersama Ketua Perindo Kota Malang Laily Fitriyah Liza Min Nelly memang mengantar Ita pulang ke rumahnya. Kepulangan itu merupakan yang pertama semenjak kasusnya terekspos luas di media massa. Selama satu bulan terakhir, Ita berada dalam karantina di sebuah PJTKI di Kota Malang, karena ia mendaftar ingin menjadi tenaga kerja di Singapura. “Saya sekarang hanya pingin ketemu anak saya,” ujar ibu tiga anak perempuan ini.
Tiga anak dan suaminya tinggal bersama mertuanya, dalam sebuah rumah sederhana. Ita terpaksa pindah ke rumah itu, sebab ia sudah menjual rumahnya untuk membayar utang. Namun kini, saat rumahnya terjual, ginjal tinggal satu, ia masih punya sisa utang yang tetap harus dilunasi. Ketika Malang Post mengejar jawaban kenapa ia nekat menjual ginjalnya, Ita mengatakan dia
ketakutan dikejar penagih utang yang mengancam akan memenjarakannya bila tak segera membayar utangnya.
“Saya nggak mau dipenjara, saya pikir awalnya jual ginjal bisa jadi solusi. Biarlah anak dan suami tidak tahu, biarlah nyawa jadi taruhan jika cara ini bisa mengembalikan kondisi keuangan saya menjadi lebih baik,” kata Ita di tengah padatnya jalan menuju Kota Batu.
Malang Post pun penasaran nominal utang Ita. Saat menanyakan hal itu, Ita mengaku utangnya lebih dari Rp 200 juta. Dipakai untuk apa?. “Ya awalnya untuk usaha, ada teman yang ajak bisnis, saya pinjam uang ke teman, pinjam ke koperasi. Usaha tidak bisa jalan dengan baik, sampai tahu-tahu utang saya menumpuk hingga Rp 200 juta lebih,” ungkap Ita.
Menuju rumah Ita harus melewati jalan berkelok, naik turun, khas kontur tanah di Kota Batu. Sesampainya di sana, sudah ada mertua perempuannya, Jumaiyah yang menunggu di depan rumah. Sesudah bersalaman dan masuk rumah, Ita kembali menangis dalam pelukan sang mertua. “Sudah, sudah, kamu yang kuat, kasihan anak-anakmu,” ucap Jumaiyah menenangkan menantunya.  

Ada Penjual Ginjal Lain
Kisah Ita Diana (41) merupakan sebuah ironi. Potret masyarakat tak mampu, yang bisa nekat menjual ginjal karena merasa buntu dan tak melihat jalan lain untuk menyelesaikan himpitan ekonomi. Kisah seperti alur sinetron ini bermula ketika Ita menjenguk dan menemani temannya yang sakit dan sedang dirawat di RSSA, 2016 lalu.
Ita tak mengungkap identitas temannya itu. Ia hanya mengatakan, sang teman memutus kontak dengannya setelah kasus ini mencuat dan besar di media massa. Namun menurut kabar yang diterima Malang Post, sang teman itu juga baru saja melakukan transplantasi ginjal.  Ketika Malang Post mengonfirmasi hal ini, Ita membenarkan. “Teman saya yang transplantasi ginjal dijanjikan dapat Rp 200 juta lebih, tapi baru dibayar Rp 50 juta,” ujarnya. Saat didesak lagi keberadaan sang teman yang tanpa nama ini, Ita bergeming.  
Nah, selama menunggu di RSSA itu, ia mulai berkenalan dengan petugas-petugas rumah sakit dan menceritakan kesulitan yang dia alami.  “Saya dikasih tahu perawat untuk ketemu dengan dr. Rifai. Katanya bisa bantu saya memecahkan masalah keuangan dengan tranplantasi ginjal. Katanya juga, agar hidup saya bisa berguna bagi orang lain,” tandas Ita.
Melalui pertimbangan panjang, Ita memutuskan untuk mendonorkan ginjalnya lalu dipertemukan dengan pasien yang membutuhkan ginjal, bernama Erwin Susilo, seorang pengusaha di Kota Malang. Setelah pertemuan ini, terjadi kesepakatan antara Ita dan Erwin. Dimana Erwin sanggup membayar sesuai kebutuhan Ita, yakni sebesar Rp 350 juta. Namun sayang, Ita mengakui tidak ada perjanjian tertulis soal kesepakatan ini.
“Habis sepakat saja, saya juga tidak meminta perjanjian tertulis. Sesudah itu, saya menjalani tes-tes di RSSA lalu SIMALab,  tesnya banyak, dimulai sejak Oktober 2016,” paparnya.
Setelah semua rangkaian tes itu dan ia dinyatakan cocok dengan kondisi Erwin, pada 25 Februari 2017 dilakukanlah operasi transplantasi ginjal di RSSA. Seminggu sebelum operasi, Ita diinapkan di Jonas homestay di belakang RSSA, sendirian. Kala itu, ia hanya diberi uang Rp 75 ribu setiap hari untuk makan.
Sebelum dilakukan operasi, Ita menandatangani surat pernyataan yang berisikan jika terjadi sesuatu hal selama operasi berlangsung, hal itu di luar kewenangan rumah sakit.  “Pokoknya saya tandatangan cuma satu kali itu saja. Tidak ada salinan dokumen surat apapun buat saya juga, dan tanpa materai,” paparnya polos. Menurutnya, operasi berjalan selama empat jam, sejak pukul 07.00 – 11.00 WIB.
Usai operasi, ia diinapkan di paviliun, satu kamar untuk satu orang. Selisih beberapa kamar dengan kamar inap Erwin. Sesudah itu, ia diantar pulang ke rumah oleh sopir Erwin. “Katanya biar tahu rumah saya, supaya nanti gampang dalam menyelesaikan urusan pembayaran. Saya pun dikasih tahu alamat rumah dan showroom milik Pak Erwin, ya karena terus terang di mana dia tinggal, saya pikir tidak akan jadi begini,” kata Ita.
Hari dan bulan berganti. Ita tak kunjung mendapatkan uang Rp 350 jutanya. Secara total Ita hanya memperoleh Rp 74 juta. Maka, sejak itu pula ia pula mencari Erwin untuk menagih hak yang dijanjikan kepadanya. “Saat saya ke rumah, saya tidak dipersilakan masuk, hanya di luar pagar. Saya baru bisa menemui di showroom,” tuturnya.
Bahkan, Ita mendapat makian. Menurutnya, Erwin juga memintanya untuk menempuh jalur hukum jika ia tidak terima dengan apa yang terjadi. Di momen inilah Ita memutuskan untuk mengadu kepada dr. Rifai. “Saya nyanggong dr. Rifai di Persada Hospital dan akhirnya ketemu,” ungkapnya.
Namun bukan kabar baik yang didengarnya dari dr. Rifai. Sang dokter, menurut Ita, memintanya untuk mengikhlaskan uang yang dijanjikan oleh Erwin. “Waktu itu saya bingung, saya nggak tahu hukum, saya takut. Malah dr. Rifai meminta saya mengikhlaskan, saya tambah bingung,” tutur perempuan yang pernah bekerja di Jatim Park I sebagai pegawai di stan kuliner ini.  
Karena sudah terdesak, akhirnya ia menceritakan masalah yang dialami pada salah satu tetua di Kelurahan Temas. Ia tidak berani menceritakan hal ini pada keluarganya, termasuk suaminya sendiri, karena pada awal kejadian seluruh keluarganya tidak ada yang tahu.
Tetua kampung temas kemudian membicarakan hal ini kepada warga lain. Setelah itulah salah satu warga mengontak Ketua DPD Perindo Kota Malang Laily Fitria Liza Min Nelly yang kemudian mengekspos kasus Ita.
Sementara itu Kuasa Hukum Ita Diana, Yassiro Ardhana Rahman SH MH mengatakan, ada indikasi pelaksanaan tranplantasi ginjal yang djalani Ita dilakukan secara ilegal.  “Kemungkinan ilegal karena tidak ada persetujuan dari keluarga. Lalu, ini dilakukan sistematis. Artinya bukan satu orang saja yang melakukan tapi ada tim sehingga menjadi kejahatan sistematis,” ungkap Yassiro kepada Malang Post.
Menurutnya ada indikasi pelanggaran pasal 64 ayat 2 dan 3 Jo Pasal 192 UU No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Bahwa transplantasi organ harusnya hanya dilakukan untuk keperluan kemanusiaan atau ada hubungan keluarga. Terjadinya pelanggaran ini juga diindikasikan dengan adanya kesepakatan harga alias komersialisasi. Pasalnya ada janji memberikan uang untuk donor ginjal serta tak ada surat persetujuan keluarga pihak pendonor.
“Kami akan kawal kasus ini karena ada kemungkinan lain yakni sindikat penjualan organ,” tegasnya.
Melalui Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum “LKBH” PD Aisyiyah Kota Malang, Yassiro melayangkan surat undangan permohonan klarifikasi kepada dua oknum dokter RSSA yakni dr. Rifai dan dr. Atma Gunawan pada Rabu 27 Desember 2017 mendatang. Surat ini juga akan dibawa Yassiro kepada Pemprov Jatim untuk diketahui.(ica/han)

Berita Lainnya :

loading...